Friday, December 2, 2022

10th Blitar Koi Show 2009 Jawara dari Seberang

Rekomendasi

Showa sanshoku asal Ogata Farm, Jepang itu luar biasa. ‘Tim juri hampir tak menemukan kelemahan. Bentuk tubuh, warna, dan pola nyaris sempurna,’ kata Rudi Tamara, juri asal Semarang. Lantaran itu, menurut Suwira, juri asal Jakarta, showa milik Andrimansah dari Surabaya itu menang telak 6:1 saat voting tertutup. Di kategori gosanke itu showa menaklukkan rival berat: kohaku koleksi Evelyn Setiawan dari Solo.

Menurut Handrie Agustiana, juri dari Bandung, sejatinya kualitas kohaku tak kalah mentereng. Sayang, tubuh kohaku lebih kecil dan warnanya kurang cerah. ‘Kelemahan itu hanya soal waktu, di masa mendatang kohaku itu berpeluang menjadi GC,’ kata Aan, panggilan Handrie. Panjang tubuh kohaku 68 cm; showa 70 cm. Saat keduanya disandingkan sosok showa terlihat lebih menonjol.

Hikarimono

Kontes yang digelar setiap tahun oleh Blitar Koi Club (BKC) itu juga mencetak sejarah bagi hikarimono – juga milik Andrimansah. Koi tangkaran Kawakami Farm, Jepang, itu dinobatkan sebagai GC di kelas nongosanke. Ia melangkah sebagai yang terbaik di ukuran 61 – 70 cm lantaran tak ada lawan yang sebanding. ‘Meski menang tanpa lawan, ia berkualitas juara,’ kata Rudi. Tubuh, corak, dan warnanya nyaris tanpa cacat.

Tak percaya? Tengok saja rekam jejak hikarimono sebelum menyabet GC. Setahun silam, saat masih berukuran 55 cm, ia meraih best in size di 1st Asia Koi Show di Singapura pada Mei 2008. Sesudah itu 3 kali menjadi kampiun di berbagai kontes di kelas hikarimono sepanjang 2008 – 2009. ‘Ini seperti puncak prestasi hikarimono,’ kata Andrimansah.

Menurut Aan di kelas hikarimono kualitas warna metalik menjadi pertimbangan utama selain bentuk tubuh, corak, dan warna. Jumlah pesaing minim karena jauh lebih sulit menghasilkan hikarimono kualitas kontes ketimbang jenis lain tanpa warna metalik. ‘Perlu perawatan superekstra dan seleksi ketat untuk medapatkannya,’ kata Aan.

Sukses showa sanshoku dan hikarimono menyabet GC di gosanke dan nongosanke itu langsung melambungkan nama Andrimansah. ‘Saya bawa 2 ikan, semuanya jadi GC,’ kata Andrimansah. Pantas, usai juara diumumkan, 2 koleksi Andrimansah itu menjadi pusat perhatian hobiis dan pengunjung.

Ke-10

Agenda rutin tahunan BKC itu juga menobatkan Evelyn Setiawan dari Solo sebagai juara umum kontes. Sebanyak 11 koi yang dibawa mendulang 18 juara dengan total poin 16.050. Evelyn berhak mendapat piala dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Sobib asal Blitar pun mendapat kehormatan menjadi peserta paling banyak melombakan ikan dengan jumlah 49 ekor dari total 687 ikan di lomba.

Menurut Cholid Firdausyi, ketua panitia kontes, kemenangan ikan asal Jepang itu diharapkan merangsang peternak Blitar untuk mencetak koi berkualitas memakai indukan bermutu dari negeri Matahari Terbit. ‘Teknologi, sudah kita kuasai. Dengan kualitas indukan introduksi dari Jepang, ke depan hasil tangkaran peternak lokal bisa bersaing,’ katanya. (Destika Cahyana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img