Thursday, August 11, 2022

1st Semarang Aglaonema Show Pertarungan Seru Hibrida dan Spesies

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

nalis grand champion di hadapan mereka memang memukau. Pantas jika pemilihan berjalan alot. Setelah melalui perdebatan panjang selama 5 menit, takhta kampiun akhirnya jatuh ke tangan Legacy, sang pendatang baru dari Thailand.

Legacy, aglaonema milik Gunawan Wijaya itu berjaya setelah berhasil menaklukan 2 pesaing terdekatnya A. costatum hybrids dan A. rotundum. Pertarungan berjalan seru. Selisih nilai antara ketiganya tidak terpaut jauh. Wajar jika Sukasdi, Nurdi, dan Debora Herlina—ketiga juri harus ekstra keras melakukan penilaian.

Penampilan legacy memang mempesona. Aglaonema asal Th ailand itu memiliki penampilan keseluruhan yang prima. “Tajuknya kompak, bulat, dan rapat. Tulang dan warna daunnya juga menonjol,” ujar Sukasdi, ketua dewan juri. Untuk keistimewaannya ini ia dihadiahi nilai 869,9. Paling tinggi di antara seluruh peserta dari 6 kelas.

Tampil istimewa

Pertama kali legacy turun di kelas A. commutatum hybrids. Tanpa kesulitan berarti ia langsung meninggalkan 14 peserta. Dengan hasil itu ia langsung maju ke babak fi nal penentuan grand champion. Di babak fi nal ia bertarung dengan 6 jagoan dari masing masing kelas.

Pesaing terberat legacy adalah A. Costatum hybrids milik Muninggar dari Ungaran, Semarang. Aglaonema nonmerah bernama snowhite itu sebenarnya tak kalah cantik. Warna putih daun berpadu dengan titik-titik hijau di tepi dan tulang utama daun. Sosoknya tampak rimbun dan kokoh. Sayang kesan pertama kalah jauh dari legacy. “Secara penampilan keseluruhan, legacy lebih unggul,” ujar Herlina. Corak warna dan kesan pertamanya lebih ngejreng. Sejarah panjang kemenangan aglaonema merah tampaknya belum terputus. Snowhite harus mengakui kemenangan legacy.

Sejak awal pertandingan Gunawan Wijaya sebenarnya sudah optimis jagoannya bakal meraih salah satu nomor. Harapannya terkabul. Dengan selisih nilai 3,9 legacy sukses menggulung lawan-lawannya.

Dengan hasil itu tak sia sia perjuangan Gunawan membawa legacy dari Th ailand. Pekebun aglaonema itu memang sudah mengincarnya sejak ia pertama kali melihat di Th ailand, 3 tahun silam. Saat itu pemilik aslinya belum bersedia melepas, karena ia termasuk jenis baru kala itu. Barulah pada awal Oktober lalu ia berhasil memboyongnya ke Indonesia.

Mengundang perhatian

Juara ketiga, aglaonema rotundum milik Danang dari Magelang juga mengundang decak kagum juri dan pengunjung. Walaupun hanya menduduki peringkat ke-3 tetapi banyak pujian terlontar. Maklum saja, selama ini, anggota keluarga aglaonema species itu terkenal sulit dipelihara lantaran sifatnya yang peka. “Ini spesies yang paling susah dirawat,” ujar Sukasdi, juri sekaligus pemulia aglaonema asal Bogor. Dalam waktu setahun belum tentu tanaman asal Sumatera itu bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun, kebalikannya, tanaman milik Danang itu tampil hampir tanpa cacat.

Lihatlah sosok tanamannya. Tegar, kompak, dan kokoh. Daun tebal dan kaku, berwarna gelap dengan hiasan garis-garis urat daun berwarna merah tua. “Jarang sekali yang bisa sebagus ini,” komentar Debora Herlina. Keberadaannya langsung memikat mata penggemar aglaonema. Dengan mudah ia menyisihkan 3 peserta kelas spesies lain.

Sebenarnya aglaonema milik nurseri Candi Orchids itu berpeluang besar meraih posisi grand champion. Jenisnya yang langka dan penampilannya yang memukau sempat mencuri perhatian juri. Sayang ada beberapa kekurangan yang tertangkap mata ketiga juri. “Secara penampilan keseluruhan dia masih kurang, walaupun jika dinilai secara individu dari spesiesnya rotundum ini hebat. Sayang sosoknya belum seimbang, masih ada posisi yang tidak terisi daun,” ujar Sukasdi. Kali ini aglaonema spesies ini memang harus mengakui kelebihan sang aglaonema hibrida.

Pertama kali

Kontes bertajuk 1st Semarang Aglaonema Show itu memang baru pertama kali diadakan di Semarang. Penyelenggaraannya bersamaan dengan pekan Flora Fauna II. Menurut Fransiscus Kusdianto, ketua panitia, kontes semacam ini akan rutin diadakan secara rutin setiap tahun. “Untuk mengakomodasi perkembangan aglaonema yang semakin ramai di sekitar kota Semarang,” ujar Frans.

Berbeda dengan konteskontes aglaonema sebelumnya, 1st Semarang Aglaonema Show terbagi menjadi 6 kelas. Kelas A. commutatum x A. rotundum, A. cochincinense x A. rotundum, A. costatum, A. commutatum hybrids, A. costatum hybrids, dan A. species. Jumlah peserta terbanyak di kelas A commutatum hybrids. Masing masing peserta berlaga di kelasnya masing-masing. Selanjutnya juara di tiap kelas diadu untuk menentukan gelar grand champion.

Animo masyarakat cukup tinggi. Buktinya ruang pamer Sri Ratu Pemuda tampak ramai dengan pengunjung. Mereka mengagumi keindahan aglaonemaaglaonema peserta kontes. Apalagi dengan ketiga pemenang. Decak kagum dan heran sering terlontar secara spontan, mengiringi penampilan sang jawara. (Laksita Wijayanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img