Monday, August 8, 2022

4 bulan Panen Gurami

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Agar bobot ikan mencapai 500 g/ekor saat panen, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan, Bandung, itu pun menerapkan pemeliharaan intensif. Kualitas air dipantau. Padat penebaran diatur tidak melebihi 5 ekor/m2. Ikan diberi pakan pelet dan daun sente masing-masing 1,5% dan 6% dari bobot tubuh/hari.

Pola itu membuat pertumbuhan ikan mencapai 25%/bulan. Tingkat kelulusan hidup 99% selama 4 bulan pemeliharaan. Hasilnya dari satu kolam berukuran 200 m2, penggemar trolling-memancing di laut-itu memanen 643 kg gurami. Sebanyak 857 kg didapat dari 3 kolam lain berukuran 125 m2 dan 136 m2. Di tangan pengepul, gurami itu dihargai Rp18.000/ kg. Total penjualan mencapai Rp27-juta. Setelah dikurangi biaya sebesar Rp18-juta, penghobi olahraga golf itu mengantongi keuntungan Rp9-juta. Laba yang lumayan menggiurkan dari luasan kolam sekitar 500m2 dalam 4 bulan. Padahal di Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, salah satu pemilik PT Tirta Anugerah Nusantara itu bersama 2 sahabat dekatnya mengelola 20 kolam.

Permintaan tinggi

Laba memikat juga diperoleh Rusli Susilo dari usaha pembesaran guraminya di Batangkuis, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pensiunan sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Jakarta itu memanen 1,2 ton/bulan gurami dari 40 kolam berukuran 20 m x 5 m secara bergiliran. Jumlah itu untuk memenuhi permintaan seorang bandar di Medan.

Sekali panen 3-4 kolam dikuras. Selesai panen kolam dikeringkan, lalu dipupuk ulang. Selang 10 hari kemudian benih berbobot 190-200 g/ekor ditebar. Dalam 4 bulan, gurami konsumsi siap dipanen. Dari usaha itu distributor nutrisi probiotik itu memperoleh pendapatan Rp21,6-juta/bulan. Pendapatannya bakal mengganda jika total permintaan bandar 3 ton/bulan bisa dipenuhi.

Usaha pembesaran juga dipilih Sujudi di Cilacap, Fajar Purnama di Yogyakarta, dan H. Aos Koswana di Tasikmalaya. Bukan tanpa alasan mereka menekuninya. Permintaan gurami konsumsi tinggi. Ambil contoh Pondok Gurami di Depok, Jawa Barat. Restoran itu rata-rata menghabiskan 50-100 kg/hari gurami. Jumlah itu meningkat 100% saat hari libur. Di Jakarta ada 4 gerai Pondok Gurami dengan tingkat serapan relatif sama. Restoran lain Pondok Laras di Jalan Akses UI dan Warung Daun di Jakarta masingmasing menyerap 25-50 kg/hari.

Belum lagi permintaan pasar swalayan seperti Giant, Carrefour, Tops, dan Matahari. Gerai Matahari di Depok-menurut Iwan S, staf pengadaan-membutuhkan 3 kuintal gurami/minggu. Jakarta diperkirakan butuh sekitar 15 ton per hari dan susah terpenuhi, ujar Indra Setiawan, pemasok di Jakarta. Prakiraan itu naik 50% dibandingkan 4 tahun lalu, sekitar 10 ton/hari. Peningkatan itu tidak lepas dari menjamurnya restoran, rumah makan, dan jasaboga, yang menyajikan menu gurami.

Kebutuhan 40 ton gurami/bulan yang masuk kepada 30 peternak di Desa Mangunreja, Tasikmalaya, pun tidak terpenuhi. Padahal permintaan itu hanya untuk mengisi pasar di Tasikmalaya. Mereka hanya mampu memasok 15 ton/bulan. Kalau dihitung dengan permintaan dari Bandung 20 ton/bulan, total 60 ton/bulan yang perlu ada, ujar H. Aos Koswana di Mangunreja, Tasikmalaya. Itu juga yang terjadi di Blitar, Cilacap, Parung, Tulungagung, Kediri, dan Yogyakarta. Pandemi flu burung yang terjadi pertengahan 2005 turut andil memperdalam jurang kebutuhan. Sebagian orang masih memilih jalan aman dengan mengkonsumsi ikan, ujar Akhmad Munajat.

Segmentasi

Wanginya bisnis gurami tidak hanya dirasakan peternak pembesar. Peternak yang khusus memproduksi benih ikut terciprat rejeki. Mereka memproduksi mulai dari telur hingga ukuran bungkus rokok (baca: Demi Memangkas sang Waktu hal 24-25).

Peternak pendeder tidak perlu khawatir kesulitan memasarkan. Semua ukuran ada pembelinya, ujar Dedi Dahlan, peternak di Singaparna, Tasikmalaya. Peternak dapat menjual benih kecil ukuran 1-2 cm sebulan kemudian. Bila harga jatuh ia dapat menahan sampai ukuran lebih besar, mulai dari ukuran biji oyong (umur 30 hari); ukuran bungkus korek (umur 70 hari); dan ukuran tampelan (umur 90 hari)

Sebut saja Sarjimin di Desa Watuagung, Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Ayah 2 putra itu membeli 200.000 telur seharga Rp25/telur senilai Rp4-juta. Setengah populasi dibesarkan hingga seukuran biji oyong, umur 30 hari. Sisanya ditahan sampai ukuran bungkus korek, umur 70 hari.
Dengan persentase kematian rata-rata 50% dalam 30 hari pertama, Sarjimin sudah mengantongi Rp7,5-juta. Itu hasil penjualan 50.000 benih ukuran biji oyong Rp150/ekor. Dipangkas biaya perawatan sebesar Rp40/ekor, pria 42 tahun itu meraup laba bersih Rp5,5-juta. Pundi-pundinya bakal menggembung lagi saat menjual benih ukuran bungkus korek. Dengan keuntungan bersih mencapai Rp300/ekor berarti diperoleh laba tambahan Rp15- juta. Peternak yang berminat membeli benih ukuran biji oyong pada Sarjimin pun mesti inden.

Keuntungan menggiurkan itu yang menggiring 90% dari 300 peternak gurami di Bantul menerjuni bisnis pendederan. Bermodal Rp1-juta mereka membeli 10.000 benih ukuran 1 cm. Dengan tingkat kelulusan hidup 80% hingga ukuran bungkus korek dan harga jual Rp1.000/ekor, diperoleh pendapatan Rp8-juta. Setelah dikurangi pengeluaran untuk pakan, obat, dan tenaga kerja, sekitar Rp3,75-juta, laba Rp4,25-juta dituai.

Menurut Sukaryani, peternak di Desa Tlogo, Kanigoro, Blitar, puncak permintaan benih biasa terjadi setiap Desember, Januari, dan Februari, setelah musim pancaroba. Banyak peternak di sentra-sentra gurami saat itu menebar ikan. Di tiga bulan itu, Karyo-sapaan akrab Sukaryani-bisa menjual 50.000/minggu ukuran bungkus korek ke Tulungagung, Pare, Jombang, dan Jember. Permintaan lain dari peternak di Jawa Tengah dan Jawa Barat tidak terlayani.

Selusin kendala

Namun, di balik gurihnya bisnis gurami tersimpan rasa pahit yang bisa menjungkalkan peternak. Kualitas air tetap kunci utama keberhasilan budidaya. Idealnya pH air berkisar 6,5–7. Penurunan pH membuat ikan stres. Pada saat kondisi air lebih asam, amoniak hasil dekomposisi sisa-sisa pakan dan kotoran ikan menjadi lebih beracun. Parahnya lagi suasana asam membuat plankton membludak lalu menjadi kompetitor penyerap oksigen. Tak heran bila penurunan pH diiringi menggeleparnya ikan ke permukaan air.

Serangan penyakit yang diduga herpes membuat Sukaryani kelimpungan. Kalau kena susah diobati, ujarnya. Ikan yang semula terlihat sehat tiba-tiba merangsek ke permukaan air, lalu mati. Karena serangan itu Sukaryani pernah merugi di atas Rp10-juta. Menjangkitnya tuberculosis gurami juga momok. Akhmad Suheri peternak di Desa Beji, Kedungbanteng, Banyumas, mengurut dada saat 6.000 benih ukuran 6 cm mati dilahap bakteri Mycobacterium sp itu. Dengan harga jual Rp250/ekor, Rp1,5-juta pun hangus (baca: Awas! TBC Gurami Mengganas hal 16-17).

Momok lain ialah hujan. Limpahan air dari kemurahan alam itu menyebabkan kualitas air berubah. Akibatnya sungguh mengerikan. Rusli Susilo merelakan 20.000 benih ukuran biji oyong mati dalam waktu semalam. Masalahnya sepele, ia lupa menutup kolam pembenihan ketika hujan datang mengguyur.

Munculnya benih kuntet juga merusak impian peternak. Benih seperti itu tidak akan tumbuh besar, padahal makannya rakus. Ukuran tubuh yang kecil membuat harga merosot setengahnya. Jutaan rupiah potensial hilang akibat kehadiran benih kuntet.

Harga pakan naik

Pakan yang menempati pos pengeluaran terbesar sekitar 40% menjadi sandungan lain. Kenaikan harga BBM otomatis membuat harga pakan terdongkrak hingga 30%. Satu sak pakan-25 kg–kualitas nomor 1 dari semula Rp104.000 kini mencapai Rp140.000. Akibatnya biaya produksi yang Rp9.000/kg kini menembus Rp12.000/kg-Rp13.000/kg. Di Bogor, sejumlah peternak tradisional gulung tikar gara-gara tidak sanggup membeli pakan. Yang masih bertahan menyiasat nya dengan memakai pakan kualitas nomor 2. Risikonya, umur panen tampelan molor hingga 6 bulan.

Tipu muslihat saat penimbangan juga patut dicermati. Simak saja pengalaman Jumadi, peter nak di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul. Hasil panen sebanyak 380 kg, menguap 80 kg ketika ditimbang pedagang. Artinya, dengan harga Rp18.000/kg, Rp1,44-juta hilang persis di depan mata ketua Kelompok Petani Ikan Gumegrah itu. Dengan 500 kg pakan dan FCR 1:3, Jumadi hakul yakin memperoleh panen 380 kg. Itu mah tergantung hati nurani pedagang, biasanya kalau nakal berat 1 kuintal rata-rata bisa hilang 20 kg, ujar H. Adung, pengepul di Desa Babakan, Kecamatan Kemang, Bogor.

Gurami gampang stres. Bunyi pesawat bahkan kilatan petir sanggup membuatnya kaget hingga malas makan. Pertumbuhan pun terhambat. Penebaran padat di luar pakem untuk tampelan, 5 ekor/m2 membuat ikan berebut naik ke permukaan untuk menjerat oksigen bebas. Kejadian itu biasa berlaku antara pukul 23.00-05.00. Bila dibiarkan keseragaman bobot panen tidak tercapai. Untung saja ada teknologi oksigenisasi karya Sujudi, peternak di Desa Glempang, Kecamatan Maos, Cilacap. Musibah itu kini terelakkan (baca : Tinggi Produksi Karena Oksigenisasi hal 22-23).

Cerita klasik rugi karena tidak dibayar juga membayangi peternak. Contoh yang menimpa Sujudi 4 tahun lalu. Pengiriman ikan masing-masing senilai Rp11-juta dan Rp14-juta ke satu restoran di Bandung hingga kini belum dibayar. Ditagih berkali-kali mereka selalu mengelak, ujarnya. Karena bosan menagih, Sujudi sudah merelakan duit senilai Rp25 juta itu hilang.

Pasar terbentang

Jika aral urung menghadang, peternak bakal menuai sukses seperti kisah Tony dan Rusli di atas. Pantas bila penyebaran usaha gurami kian meluas. Data Dinas Perikanan Banyumas menunjukkan, terjadi penambahan luas areal pembesaran sebesar 2% per tahun sejak 1998. Sampai pertengahan 2005, areal pembesaran tercatat seluas 402 ha yang dikelola 22 kelompok tani.

Menurut Untoro, konsultan guba-aplikasi teknologi budidaya-di Yogyakarta, sejak 2004, 50-70% peternak lele berubah haluan menjadi pembudidaya gurami. Siapa yang tidak tergiur dengan luas kolam 400 m2 dan modal Rp15-juta, dalam 4 bulan bisa mendapat Rp27-juta, ujar Untoro yang kini getol mensosialisasikan teknik guba dengan nutrisi pemacu tumbuh.

Celah antara kebutuhan konsumen dan kemampuan produksi peternak pun menunggu diisi. Chandra Onggo Sanusi, pemasok rumah makan di Surabaya dan Denpasar, Bali, blingsatan mencari 500 kg/hari. Untuk itu ia sampai turun tangan langsung menyambangi peternak di Tulungagung, Nganjuk, dan Kediri. Susah Mas cari barang sekarang. Seringkali kosong, kata pemilik PT Samakta Adimina itu saat dihubungi per telepon oleh Trubus. Apalagi kini ia pun mesti memenuhi permintaan dari Jayapura dan Kalimantan Barat.

Hingga pertengahan tahun, produksi di Parung, Bogor, masih sanggup memenuhi permintaan dari Jakarta. Belakangan pasokan itu turun hingga 1 ton/bulan. Untuk menombok kekurangan para pemasok berburu gurami sampai Kediri, Jawa Timur. Setiap minggu 7 kuintal dari Kediri masuk ke sini, ujar Ojang, bandar di Desa Petir, Kabupaten Bogor. Setiap bulan Ojang membutuhkan 5 ton untuk memenuhi permintaan pelanggannya.

Celah pasar itulah yang membuat harga gurami konsumsi ajek di atas sejak 2000. Sekilo gurami di Kolam di Parung, Bogor, mencapai Rp20.000/kg; Jawa Tengah dan Jawa Timur Rp17.000-18.000/kg. Harga itu rata-rata naik 15-20%. Menurut Akmad Munajat, harga itu diperkirakan bertahan hingga 2-3 tahun ke depan.

Untuk mencegah permainan pasar yang mungkin terjadi akibat perbedaan harga, sejak 2002 dibentuk forum gurami atas prakarsa Departemen Perikanan dan Kelautan. Forum beranggotakan peneliti, peternak, dan pedagang, itu diharapkan dapat menciptakan kondisi kondusif dari hulu ke hilir. Dengan jaminan itu, duri-duri kendala di usaha gurami bakal tergantikan dengan laba-laba menggiurkan. (Dian Adijaya S/Peliput: Sardi D, Destika Cahyana, Lakstioro A, Lasksita W, Hanni Sofia)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img