Tuesday, August 9, 2022

Adenium 50 m2: Rp 4-juta per bulan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bonggol dibersihkan dari media yang tersisa, lantas dibungkus dengan kertas koran. Selanjutnya adenium disusun rapi dalam kardus sebelum dikirim ke kantor perwakilan ekspedisi. Itulah mawar gurun pesanan pembeli dari Jakarta, Surabaya, Pontianak, dan Makassar yang masuk ke nurseri Toekangkeboen.

Hari itu pelanggan di Jakarta meminta 30 pot, Surabaya (50), serta Pontianak dan Makassar masing-masing 100 pot. Sekitar 80—85% adalah kategori A yang berdiameter bonggol 3—5 cm dengan harga Rp40.000 per tanaman. Permintaan relatif banyak lantaran para pelanggan pedagang yang memasarkan adenium di daerah masing-masing.

Pengiriman kali itu antara lain terdiri dari waterfall berbunga merah dengan garis putih, crimpson star nan merah menyala, eye of the storm yang merah muda, variegated red blood—sesuai namanya berbunga merah pekat dengan daun variegata, dan harry potter. “Mereka juga minta jenis-jenis baru seperti seduction, hallucination, dan the peach,” tutur Maria Nurani, yang mengelola Toekangkeboen bersama sang suami, Kurniawan Junaedhi.

Untuk jenis-jenis baru permintaan hanya 1—2 pot. Maklum harga lebih mahal, sekitar Rp60.000—Rp80.000 per tanaman. Toh, dengan harga jual minimal Rp40.000 per tanaman, dari penjualan hari itu saja Rp11,2-juta masuk ke rekening. Padahal, hampir setiap hari ada kegiatan pengepakan di Toekangkeboen.

Menebalkan kocek dari kamboja jepang mungkin t a k pernah terbayangkan oleh pasangan yang dikaruniai 2 putri cantik itu. Sampai 2001, hari-hari Kurniawan masih disibukkan oleh urusan sebagai pemimpin redaksi pada sebuah surat kabar nasional ternama. Maria sedang asyikasyiknya menggeluti bisnis kado dan parcel dengan pemasaran melalui dunia maya yang baru dirintis.

Perkenalan dengan adenium terjadi begitu saja pada 2000. Kurniawan yang memang gemar merawat tanaman hias mendapatkan mawar gurun dari sebuah pameran. Iseng-iseng alumnus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta itu belajar memperbanyak tanaman dengan teknik menyambung. Dasar bertangan dingin, eksperimen itu berhasil. Itu membuat kelahiran Purwokerto itu kian getol menggandakan si mawar gurun. Lebih-lebih ketika pada 2002, pria yang sempat membidani kelahiran majalah Tiara itu mengundurkan diri dari pekerjaan.

Naga watuputih

Jumlah pot-pot adenium pun berlipat hingga memenuhi kediaman. Tanpa bermaksud mengomersialkan hobi, satu per satu pot kamboja jepang berpindah tangan. “Mula-mula banyak teman yang tertarik untuk membeli,” kata Maria. Melihat itu, insting bisnis keduanya tergelitik. Sebuah tawaran dari pengelola pusat penjualan tanaman hias di bilangan Serpong, Tangerang, tidak disiasiakan. Maka sejak April 2004 adenium-adenium di kediaman pun pindah ke gerai Toekangkeboen di sana.

Lantaran pendatang baru, pada bulan-bulan pertama hanya puluhan pot yang terjual. Pembelinya kebanyakan penghuni perumahan-perumahan di seputaran Serpong. Toh, cuma dibutuhkan waktu 6 bulan untuk mendongkrak penjualan. Kini sebanyak 3.000—5.000 pot adenium rata-rata kategori A dikirimkan kepada pelanggan setiap bulan. Artinya, dengan mematok harga minimal Rp40.000 per tanaman diperoleh omzet Rp120-juta—Rp150-juta per bulan.

Yang menikmati manisnya adenium tak hanya Kurniawan dan Maria. Sejak 1,5 tahum silam kediaman Joelang Arwanto di Yogyakarta tak pernah sepi pengunjung. Hampir setiap hari ada saja pedagang yang datang ke sana. Mereka mengambil batang bawah berumur 2 bulan setinggi 5—7 cm yang siap disambung. Total jenderal 2.000 batang bawah terjual setiap bulan. Dengan harga Rp5.000 per batang Joelang Arwanto menangguk omzet Rp10-juta per bulan. Angka itu bakal berlipat jika permintaan riil 10.000 pot per bulan bisa dipenuhi.

Masih di Kota Gudeg, Aris Budiman rajin memburu adenium-adenium berbonggol unik. Trubus melihat mawar gurun berbonggol seperti seekor naga di nurserinya di Watuputih. “Di Yogyakarta orang fanatik dengan bonggol, bunga nomor 2,” tutur Adeng, sapaan akrab Aris Budiman. Agar lebih cantik, cabang-cabang kamboja jepang berbonggol antik itu dipermak supaya mirip bonsai. Misal anggota famili Apocynaceae itu diberi akar gantung sehingga seperti memiliki janggut. Segmentasi

Setahun belakangan, bisnis adenium memang tak melulu perkara menjual tanaman siap berbunga. Sebut saja Tjandra di Ponorogo. Pengusaha biro perjalanan itu mengusahakan pembibitan mawar gurun. Biji yang dikumpulkan dari berbagai tempat dirawat hingga umur 4—6 bulan. Sarjana Kesejahteraan Sosial dari Universitas Negeri Jember itu menjajakan di kios di Paniten. Di Yogyakarta, Irfan—alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga—menjual batang bawah seukuran korek api umur 1 bulan. Sekitar 500—2.000 bibit seharga Rp1.500—Rp2.000 per batang ludes ditampung para pedagang setiap bulan.

Setiap 2 bulan, H Muhammad Saman Puri Kembangan, Jakarta Barat, menyemai 50.000 biji adenium. Biji diperoleh dari Eddy Suharry, importir di Joglo, Jakarta Barat. Setelah 1—2 bulan saat setinggi 2—3 cm dengan 3—4 helai daun, dijual Rp1.500 per tanaman. Pembelinya para petani yang membesarkan bonggol hingga berdiameter 5—7 cm—siap disambung—selama sekitar 5 bulan. Di tingkat itu harga melonjak jadi Rp7.500 per batang.

Nun di Ponorogo, Jawa Timur, bermunculan pekebun-pekebun yang khusus menyediakan adenium berbonggol indah. Mereka tersebar di 18 desa di Kecamatan Jetis, seperti Desa Kutukulon, Kutuwetan, dan Sambit. Di Cipondoh, Tangerang, Harkianto Odang menyemai biji-biji asal Taiwan untuk mendapatkan mawar gurun bercabang banyak berbentuk cantik.

Itu belum termasuk nurseri-nurseri yang menyediakan jasa mempercantik penampilan adenium. Istilah kerennya: salon adenium. Mawar gurun bercabang tak beraturan, malas berbunga, atau jenis bunganya kuno dipermak agar tampil baru. Caranya macam-macam. Misal kerabat plumeria itu dipasung menggunakan kawat supaya memiliki percabangan serasi. Atau ujung-ujung cabang dipangkas dan diganti dengan entres jenis baru. Itulah yang dilakukan oleh Yusniar Basuki alias Genjos di Maguwoharjo, Yogyakarta.

Pasar dewasa

Terbentuknya kelas-kelas pengusahaan adenium bukan tanpa alasan. “Pasar adenium sekarang sudah terbentuk. Artinya jumlah pembeli cukup signifi kan,” ujar Chandra Gunawan, salah seorang pioner mawar gurun di Indonesia. Pada masa awal perkenalan di tanahair sekitar 5 tahun silam, para pemain cenderung bermain di satu segmen: menjual tanaman berbunga. “Tujuannya untuk mendidik dan membentuk pasar,” tegas pemilik Nurseri Godongijo itu.

Kini pasar mulai dewasa. Buktinya konsumen tidak lagi bertanya apa itu adenium, tapi mulai selektif memilih jenis-jenis baru. Bahkan ada hobiis yang cuma suka keunikan bonggol tanpa peduli bunganya. “Maka permintaan tidak hanya datang dari pembeli akhir tapi juga produsen itu sendiri,” lanjut Chandra. Para pemilik nurseri yang semula “memborong” pekerjaan mulai dari menyemai biji hingga menjual tanaman siap berbunga, kini kelimpungan memenuhi permintaan.

Lalu ada pula penyedia adenium-adenium unik seperti Adeng. Konsumen di seputaran Yogyakarta antara lain yang jadi pembeli setia. Sebut saja misalnya Kelik. Di lantai 2 kediamannya di kawasan Sangaji terdapat 300-an pot kamboja jepang berbonggol antik. “Di Yogyakarta orang fanatik dengan bentuk bonggol, bunga nomor 2,” kata Adeng.

Munculnya kelas-kelas baru di kontes pun mendorong kian terbentuknya segmentasi. Pada kontes terakhir di Kota Gudeg pada Mei 2005 peserta dikelompokkan ke dalam kelas tanaman berbunga, nonbunga, arabicum, antik unik, dan prospek. Dengan pembagian itu, pekebun yang khusus menyediakan batang bawah, misalnya, bisa ikut bertanding di kelompok prospek. Sementara penggemar jenis-jenis spesies atau adenium berbonggol nyeleneh punya pesaing setara di kelas arabicum dan antik unik.

Untung

Segmentasi serupa sudah lama terbentuk di Th ailand—barometer awal adenium di Indonesia. Malah pembagiannya lebih lengkap. Di negeri Gajah Putih ada pekebun yang khusus menanam choun-chom—sebutan mawar gurun di sana—untuk diambil bijinya. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, biji diekspor antara lain ke Indonesia. Jumlah penangkar yang aktif menghasilkan varietas baru pun cukup signifi kan. Terbukti selama tahun-tahun pertama pengenalan di tanahair, adenium asal Th ailand merajai. Sebut saja la-ong thong, crimpson star, dan siamese ruby.

Di Indonesia 2 segmen itu yang belum disentuh dan potensial untuk digarap. Buktinya, para pedagang pelanggan Toekangkeboen yang semula hanya meminta tanaman berbunga, kini mulai meminta pasokan biji. “Tapi tidak saya layani, repot,” kata Maria. Impor Flora Indah Lestari—perusahaan milik Eddy Suharry—50.000 biji per 2 bulan ludes diambil para pekebun batang bawah seperti Saman dalam hitungan hari. Meski belum intensif, Caelia J Donia—lebih akrab dengan panggilan Ny Sembiring—mulai mengotak-atik tanaman untuk menghasilkan varietas anyar.

Dari penggolongan itu, segmen usaha menjual tanaman berbunga hasil graft ing paling banyak diterjuni. Maklum waktu pengusahaan relatif cepat—sekitar 3 bulan dari sambung hingga siap jual, keuntungan pun memikat. Bermodalkan lahan 50 m2, pekebun dapat menuai keuntungan Rp4-juta per bulan. (baca: Raup Untung dari Adenium halaman 26)

Toh, menjadi penyedia batang bawah pun bisa jadi pilihan menguntungkan. Saman mengocorkan duit Rp30-juta setiap 2 bulan untuk membeli 50.000 biji adenium. Setelah dibesarkan 1—2 bulan batang bawah dijual Rp1.500 per tanaman. Tingkat kelulusan hidup hingga siap jual mencapai 60%. Artinya, dari penjualan 30.000—35.000 tanaman diperoleh pendapatan Rp45-juta. Setelah dikurangi biaya media, pot, dan perawatan pria asli Betawi itu masih mengantongi laba Rp10-juta per 2 bulan atau Rp5-juta per bulan.

Batu sandungan

Akan tetapi, menangguk rencengan rupiah seperti itu bukan tanpa kendala. Sejak akhir April, Maria kesulitan mendapatkan pasokan batang bawah. “Biasanya petani-petani pemasok mengabari kalau mereka punya stok batang bawah. Sekarang saya mesti mencari-cari sendiri ke kebunkebun, tetap saja susah,” tutur alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu.

Karena langka, harga pun melonjak. Kalau semula Rp10.000 per batang berdiameter 3—5 cm, kini menjadi Rp13.000—Rp14.000. Untung saja Ahmad Zaeni—yang dipercaya mengelola Toekangkeboen sehari-hari—rajin menyemai biji-biji dari adenium koleksi. Chandra Gunawan bermitra dengan Ricky—pekebun tanaman hias dan buah di Sawangan, Depok—untuk memastikan pasokan batang bawah. Semua hasil semaian Ricky—tahun ini sudah sekitar 7.000 batang—masuk ke Nurseri Godongijo. Dengan kemitraan harga relatif stabil.

Namun, menyemai biji pun tak semudah membalikkan telapak tangan. Pertama kali menyemai, Joelang hanya memanen 20% dari populasi biji. Musababnya, media tanam terlalu lembap sehingga bibit membusuk dan mati. Supaya porus, ke dalam campuran media ditambahkan pasir.

Biji terlalu lama disimpan pun jadi penyebab tingginya tingkat kematian. Itu yang dialami Freddy Wiyanto, pemilik Nurseri Millenium di Tangerang. Setengah dari total populasi biji asal Afrika yang disemai menemui ajal. Maklum, pengiriman dari Afrika mencapai 1 bulan, sementara biji adenium cuma tahan simpan 2—3 bulan. Lebih dari itu daya perkecambahan menurun. Kalau sudah begitu membeli batang bawah dari importir jadi pilihan lain.

Padahal mengimpor pun bukan tanpa batu sandungan. Satu kontainer berisi batang bawah dan tanaman siap berbunga yang dibawa Eddy Suharry untuk dijajakan di pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu silam tertahan di pelabuhan selama 1 bulan. Jalan berliku untuk memperoleh izin bongkar muat membuat laba dari penjualan di pameran gagal didulang.

Hujan: masalah!

Kendala lain ialah hujan! Hampir semua pemain yang Trubus hubungi mengeluh penjualan menurun. Di musim itu adenium biasanya mogok berbunga. Padahal itu jadi daya tarik utama bagi sebagian besar pembeli—terutama konsumen langsung. Pantas kegiatan jual-beli di gerai milik Agung Budi di Yogyakarta menurun 70% pada Januari ketimbang September—Oktober.

Bila batu-batu sandungan itu bisa dilewati, peluang mengumpulkan rupiah ada di hadapan. “Kue pasar adenium terus berkembang,” tutur Chandra Gunawan. Indikasi paling mudah dilihat dari ajang ekshibisi. Dari tahun ke tahun jumlah stan yang memajang adenium terus bertambah. Toh, omzet para pedagang justru meningkat. Total penjualan Nurseri Godongijo pada pameran hortikultura yang Trubus selenggarakan pada April di Taman Anggrek Indonesia Permai naik 50% ketimbang pada pameran serupa pada Oktober 2004.

Hasil lacakan Trubus pun menunjukkan, pasar adenium meluas ke berbagai pelosok. Pada bulanbulan pertama pengusahaan, Toekangkeboen hanya melayani pembeli di seputaran Tangerang. Kini mayoritas konsumen adalah pedagang di Medan, Pontianak, Banjarmasin, hingga Balikpapan. Chandra mengaku, 70% omzet kini disumbang dari penjualan ke daerah. Yang paling deras antara lain permintaan dari Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. (Evy Syariefa/Peliput: Bertha Hapsari, Hanni Sofi a, Karjono, Laksita Wijayanti, Oki Sakti Pandana, Rosy Nur Apriyanti, dan Sardi Duryatmo)

Liliput Ilha Formosa

Memang benar kata pepatah, kecil itu indah. Buktinya penggemar adenium di Taiwan kini tengah gandrung jenis-jenis mini. Maklum selain sosok liliput—tinggi maksimal cuma sejengkal tangan orang dewasa, daun dan bunga ikut-ikutan mini. Para pekebun pun membuat si mini berbunga sepanjang tahun dan lebih marak. Percabangan banyak. Cocok nian diletakkan di atas meja di ruang tamu atau ruang kerja.

T.W Lee—pemilik nurseri Taiwan Adenium di C h i a o Tou, Kaohsiong—misalnya merakit versi mini funny bunny. Bunga putih bergaris merah—mirip harry potter—diciutkan jadi berdiameter 5 cm; lazimnya 8—10 cm. Penampilannya kian atraktif kala 1 dompol terdiri dari 10—12 kuntum mekar berbarengan.

Tak sekadar membuat mini, penangkar di Ilha Formosa—artinya pulau yang cantik, sebutan untuk Taiwan—pun memoles corak bunga. Versi mini serena dibuat menjadi lebih cerah dengan motif garis lebih tipis.

Untuk mendapatkan para liliput, para penangkar menggunakan “versi asli” sebagai indukan. Tanaman itu lantas disilangkan dengan Adenium somalense asal Amerika Serikat. Sayang, proses penyilangan rinci masih menjadi rahasia. Maklum prosesnya sulit. TW Lee berkutat selama setahun untuk mendapatkan miniatur funny bunny. Itu setelah ia melakukan 3—4 kali persilangan.

Toh bila berhasil, keberuntungan bakal menaungi si penangkar. Adenium mini hasil rakitan bakal diincar para penggemar. Tak heran jika hampir setiap pemilik nurseri menampilkan dessert rose mini. Sementara untuk pecinta adenium di tanahair, tunggu saja kehadiran sa-mo-mei-guei mini sebentar lagi. (Bertha Hapsari)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img