Monday, November 28, 2022

Adenium: Dominasi Anting Putri

Rekomendasi

Anting putri meraih gelar paling bergengsi pada dua kontes bonsai tingkat nasional.

Persiapan Yayat Hidayat menghadapi kontes bonsai tingkat nasional benar-benar tak lazim. Menjelang kontes para pehobi bonsai lain biasanya berupaya menumbuhkan dan menata daun bonsai agar tampil simetris sehingga terlihat apik saat kontes. Namun, Yayat, perawat bonsai milik Muhammad Farid di Jakarta, malah memangkas habis seluruh daun bonsai anting putri. Bonsai itu pun gundul, tanpa sehelai daun pun.

Aksi nekat Yayat itu bukan tanpa alasan. “Setiap karakter pohon berbeda-beda. Bonsai anting putri itu memiliki kelebihan pada sosok batang dan rantingya yang terlihat sangat tua dan natural,” ujarnya. Menurut Yayat, pemangkasan daun itu bertujuan agar penampilan ranting dan batang pohon terlihat semua. “Kalau ada daun, keistimewaan ranting dan batang di bagian tengah tidak kelihatan dari luar,” kata pemain bonsai sejak 1989 itu.

Agar tanaman tetap segar meski tanpa daun, Yayat melakukan perawatan lebih intensif. “Setelah daun dipangkas langsung beri pupuk agar kondisi tanaman tetap optimal,” kata Yayat. Ia memberikan 2 sendok makan pupuk daun lambat urai setiap 6 bulan dan rutin menyiram tanaman dua kali sehari.

Dua gelar

Dengan perawatan itu batang tanaman tetap terlihat segar dan tidak mati saat terjun di ajang kontes bonsai tingkat nasional di Bogor, Jawa Barat, pada awal September 2013. Bahkan, para juri yang terdiri atas Toni Effendi dari Jakarta, Maya Rusmayadi (Bandung), Tatang T Soeltanto (Malang), Gunaryanto (Bekasi), Margiyo Winarno (Yogyakarta), dan T Soekimto (dewan juri dari Jakarta) mendaulat bonsai anting putri itu sebagai best in show dan best in size.

Menurut Soekimto, pada kontes bonsai nasional yang diselenggarakan Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Bogor itu, anting putri milik Farid tampil dengan performa terbaik. “Pohon sudah matang, ranting sudah banyak, keseimbangan bagus, ditambah kondisi tanaman sehat,” tutur juri bonsai sejak 1980—an itu. Juri dari Bekasi, Jawa Barat, Gunaryanto berpendapat senada. “Batang dan ranting anting putri milik Farid terlihat tua dan natural,” tuturnya.

Anting putri Wrightia religiosa koleksi Farid menjadi yang terbaik di antara 210 peserta yang berdatangan dari berbagai daerah seperti Medan, Makassar, Bali, Bogor, Tangerang, Jakarta, Semarang, dan Cirebon. Seluruh peserta terbagi menjadi 4 kelas yaitu kelas utama 24 pohon, kelas madya (41), kelas regional (115), dan kelas prospek (21). “Kontes kali ini sangat meriah. Jumlah peserta melampaui target kami yakni 150-an pohon,” kata ketua PPBI cabang Bogor, Deddy H Attamimi.

Selain anting putri milik Farid, pohon lohansung milik Soeroso Soemopawiro dari Jakarta juga meraih best in show di kelas madya. Di kelas regional gelar terbaik diraih pohon waru milik Rudi dari Jakarta. “Penampilan pohon waru itu sangat matang, untuk menjadikannya seperti itu butuh training puluhan tahun,” kata Soekimto.

Cirebon

Dua pekan kemudian giliran PPBI cabang Cirebon yang menggelar kontes bonsai tingkat nasional. Sebanyak 208 pohon yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Medan, dan Bali, beradu cantik memikat juri. Seluruh peserta terbagi menjadi 4 kelas: prospek, regional, madya, dan utama.

Pada kontes yang diselenggarakan pada 15 September 2013 itu, lagi-lagi anting putri milik Muhammad Farid meraih gelar best in show di kelas utama. Namun, pohonnya berbeda dengan yang menjadi juara di Bogor. Sosok pohon lebih kecil, yakni tinggi hanya 30 cm. Menurut Yayat dari segi perawatan hampir sama, tapi, “Sosoknya lebih indah dengan daun. Jadi saya biarkan daunnya tumbuh,” kata Yayat. Ia memangkas seluruh daun dua pekan sebelum kontes. Ketika kontes daun sedang tumbuh maksimal dan terlihat hijau segar.

Menurut juri asal Surabaya, Rudi Najoan, bonsai milik Farid itu unggul dari segi kematangan dan karakter akar pohon yang menonjol. Di kelas madya, best in show diraih pohon kupalandak milik Teddy dari Bandung. Sementara itu di kelas regional diraih cemara udang milik Henky Wahyu dari Jakarta.

Menurut Adi Bima, ketua PPBI cabang Cirebon, kontes itu sebagai salah satu cara memperkenalkan bonsai kepada masyarakat Indonesia, khususnya Kota Cirebon. “Banyak pehobi bonsai di Cirebon yang relatif baru,” kata Adi. Menurut Adi kontes kali ini sebagai ajang bertukar ilmu tentang bonsai dan sekaligus sosialisasi kepada masyarakat Cirebon yang masih belum mengenal bonsai. “Kualitas dan kuantitas peserta lebih baik dari pada peserta kontes nasional PPBI cabang Cirebon pada 2012,” kata Iryans Muhyono, ketua pelaksana kontes. (Bondan Setyawan)

FOTO:

  1. Drs H Ano Sutrisno MM, walikota Cirebon (tengah dan berpeci) membuka kontes bonsai nasional di Cirebon
  2. Best in show dan best in size kelas utama kontes nasional di Bogor, anting putri milik M Farid, Jakarta
  3. Jawara madya di Bogor, lohansung milik Soeroso, Jakarta
  4. Juara kelas regional pohon waru di Bogor
  5. Best in show kelas utama kontes nasional di Cirebon anting putri milik M Farid, Jakarta
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img