Wednesday, April 24, 2024

Agar Populasi  Kerbau Marongge Kian Lestari

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Desa Marongge, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah dengan populasi kerbau cukup baik. Ternak kerbau itu telah menyatu dengan kondisi alam, sosial, dan budaya setempat. Keruan saja hewan famili bovidae itu disebut kerbau marongge.

Menurut Dosen di Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, Dr. Ir. Dudi, M.Si., IPM., kerbau mampu hidup di kawasan yang relatif sulit dan daerah dengan ketersediaan pakan yang berkualitas rendah.

“Dalam kondisi kualitas pakan yang tersedia relatif kurang baik, setidaknya pertumbuhan kerbau dapat menyamai atau justru lebih baik dibandingkan dengan sapi, dan masih dapat berkembang biak dengan baik,” ujar Dudi.

Peran kerbau selama ini sangat berarti bagi kehidupan terutama dalam sektor pertanian. Musababnya selain berperan sebagai penghasil daging, kerbau juga menandakan derajat seseorang dalam tatanan masyarakat.

Daging kerbau dapat menjadi komplementer bahkan subtitusi daging sapi. Atas dasar kemampuannya beradaptasi diberbagai kondisi agroklimat menyebabkan populasi kerbau juga kian merata.

Dudi menuturkan bahwa populasi seperti kerbau marongge pun patut dijaga agar lestari. Harapannya kualitas genetik kerbau marongge terjaga dan meningkat. Salah satu upaya dengan  pemuliaan ternak.

Aktivitas pemuliaan ternak bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerbau. Berdasarkan observasi Dudi, upaya masyarakat dalam menjaga kualitas genetik kerbau marongge sudah dilakukan secara sederhana.

Masyarakat tidak melakukan pencatatan (recording) di atas kertas, namun catatan berulang itu dalam bentuk cap bakar pada tubuh ternak induk dan anaknya. Catatan yang diperlukan misalnya bobot sapih yakni pada 6—7 bulan.

Untuk mengetahui bobot badan jika tidak ada timbangan cukup dengan mengukur lingkar dada. “Ukuran lingkar dada tidak perlu diterjemahkan ke dalam taksiran bobot badan. Ukuran ini hanya dipakai untuk membandingkan satu anak ternak (kerbau) dari yang lain dalam kelompok umur dan daerah yang sama,” tutur Dudi pada laman UNPAD.

Anakan kerbau yang menjadi bibit merupakan 10—20 persen dari anakan terbaik. Anakan itu diberi tanda cap bakar dan masuk pada kelompok A. Begitupun indukan diberikan cap bakar A. Sementara kelompok B anakan sisa yang berukuran di atas rataan kelompoknya.

Bibit pilihan itu menjadi calon pejantan dan induk untuk menghasilkan generasi berikutnya. “Oleh sebab itu tujuan pemuliaan yang mungkin dapat dirumuskan adalah mendapatkan kerbau lumpur yang unggul sebagai tenaga pengolah lahan pertanian,” tutur Dudi.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Lirik Potensi Briket untuk Shisha, Tom Cococha Baru penuhi 40% Permintaan dari Mancanegara

Trubus.id—Potensi briket arang kelapa kian menggeliat. Direktur Utama PT Tom Cococha Indonesia, Asep Jembar Mulyana, menuturkan briket arang kelapa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img