Thursday, August 18, 2022

Aglaonema, 7—9 Anakan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ya, itulah dia kehebatan Agen Smith, musuh nomor satu Keanu di dunia Matrix. Ia sanggup berduplikasi dalam waktu singkat dan membuat musuh-musuhnya kewalahan. Toh dengan kehebatannya, Keanu alias tokoh Neo berhasil mematahkan perlawanan klon-klon sang agen.

Di Indonesia Frans Wiratmahusada juga tidak mau kalah dengan gaya sindikat Agen Smith. Ia menerapkan metode duplikasi supercepat pada aglaonema miliknya. Proses pertumbuhan tunas seolah di-geber, hingga dalam waktu 1 bulan, anakan baru sudah muncul dengan jumlah berlipat. Cara biasa 1,5—2 bulan cuma 3—5 anakan. Cara Frans, 1 bulan, 8—10 anakan.

Kuncinya pada paduan hormon sitokinin dan auksin. Sitokinin berfungsi merangsang pembelahan sel di daerah tunas lateral (samping). Auksin berperan dalampembelahan sel apikal bulb (ujung tunas).

Oleh Lila Natasaputra, sang peracik, kolaborasi itu disebut reiki grow plus. Reiki karena pada awalnya diterapkan pada tunas tua (reiki) anggrek. Plus karena ada tambahan auksin di dalamnya. “Jika digabungkan, spektrum pemakaiannya lebih luas,” ujar Lila. Jika sebelumnya hanya bisa dipakai pada anggrek dan padi, maka sekarang aglaonema dan anthurium pun kecipratan berkahnya.

Sitokinin plus

Kombinasi yang digunakan adalah sitokinin dari jenis 6-benzylaminopurine (BAP) dan indoleaceticacid (IAA) sebagai auksin. Keduanya dicampur dengan lanolin dan dilarutkan dalam temperatur tertentu. BAP sudah dikenal sebagai sitokinin kelas 1, lantaran kualitasnya yang tinggi.

Gabungan hormon ini sengaja dibuat dalam bentuk pasta. Menurut Lila bentuk pasta memiliki daya tahan lebih lama, sehingga tanaman leluasa untuk menggunakannya. Aplikasi bisa dilakukan sekali. Kelebihan lain, “Sitokinin bentuk cair mudah menguap, daya serap tanaman rendah,” ujar Lila.

Ini dibenarkan oleh Frans. Jika menggunakan hormon bentuk cair biasa, aplikasi harus dilakukan 3—5 kali, setiap 2 minggu. Namun, jika memakai bentuk pasta, cukup sekali saja. Frans sudah menggunakan hormon ini sejak pertengahan 2004. Harganya Rp20.000 per 3 g pasta.

Jangan serakah

Untuk mengoptimalkan kerja hormon, Frans memberi rambu-rambu khusus. Yang pertama umur tanaman. “Minimal umur 6 bulan atau paling tidak terdiri dari 8—10 lembar daun,” kata Frans. Semakin tua umur tanaman, daya resapnya semakin rendah.

Rambu kedua, pemakai harus rela mengurangi jumlah anakan. Inilah risiko pemakaian hormon ini. Kadangkala hobiis langsung merasa senang melihat jumlah anakan yang muncul. Namun, lama kelamaan kecewa karena ternyata pertumbuhan tanaman terhambat alias bantat. Menurut Frans, kondisi tanaman harus diperhatikan. Jika tidak seimbang, tanaman akan stres. Dalam kondisi tertentu mati.

”Cukup dilihat tanda tandanya saja, kalau tanaman tampak merana, kontet, daunnya pucat seperti terbakar matahari itu artinya dia kelebihan anakan, langsung buang saja beberapa tunas,” ungkap Frans. Secara normal, 5—7 anakan masih bisa ditolerir. Untuk tanaman yang belum dewasa, anakan di atas 10 menyebabkan tunas tumbuh tidak optimal.

 

Aplikasi di lapangan mudah. Tanaman yang sudah siap dipangkas habis. Kemudian di setiap titik tumbuhnya dioleskan pasta hormon. Hindari penggunaan cotton bud, karena sifatnya yang menyerap. Lebih baik memakai tusuk gigi. Sebulan kemudian tunas-tunas baru mulai bermunculan. Sekali tumbuh 2—3 tunas. Sampai di sini selesailah tugas sang reiki grow. “Selanjutnya bisa diberikan pupuk lengkap NPK dengan dosis rata, untuk memacu pertumbuhan” ujar Frans. (Laksita Wijayanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img