Monday, November 28, 2022

Aglaonema: Terbaru dari Thailand

Rekomendasi

Pemandangan hamparan padi yang menghijau berganti dengan lautan air. Empat jam berkendaraan menyusuri jarak 150 km, akhirnya mobil diparkir di depan deretan greenhouse di sebuah sudut Suphan Buri-utara Bangkok. Itulah Apinya Plant Tissue Culture Lab & Nursery milik pasangan Dr Metha Nithisoontorn dan Kritaya Nithisoontorn.

Rasa penat menempuh perjalanan panjang terbayar tunai begitu kaki menjejak ke dalam. Di dalam greenhouse beratap tunnel setinggi 8 m, terlihat pot-pot lady valentine berbaris rapi di atas rak sepanjang 20 m. Ukurannya seragam: terdiri dari 1-4 daun yang tingginya belum sejengkal di pot berdiameter 7 cm. Semua berjumlah 13.500 pot. Jumlah lebih massal terlihat di greenhouse ke-2. Di sana lady valentine mengisi 4 rak yang ada. Sosoknya lebih rimbun ketimbang yang sebelumnya.

Pemandangan tak kalah menarik hadir waktu Trubus melongok greenhouse di belakang kantor dan gudang perlengkapan. Di sana legacy dan venus yang menghampar. Total jenderal ada 6.000 pot. Ah, rupanya di sinilah gudangnya 3 siamese rainbow yang banyak ditemukan di pameran dan nurseri di tanahair.

Jenis baru

Anggota famili Araceae itu membanjiri pasar Indonesia lantaran Metha memperbanyak dengan teknik kultur jaringan. Total jenderal setiap bulan doktor fisika dari Institute of Experimental Physics, Innsbruck, Austria, itu memproduksi 3.500-4.000 tanaman per bulan. Dari jumlah itu hampir 100% masuk ke Indonesia. Pantas bila Pairoj Tanachai-broker di Thailand berujar, ‘Pemain aglaonema di Thailand jadi kaya karena orang Indonesia.’

Itulah yang dirasakan oleh Pramote Rojuangsang-penyilang aglaonema. Dud unyamee, chao phraya, dan sultan brunei contoh-contoh aglaonema karya pemilik Unyamanee Garden yang dimiliki hobiis di tanahair. Mereka rela menebus dengan harga puluhan juta rupiah. Wajar bila Tjiew-sapaan Pramote- getol melahirkan jenis-jenis baru. Trubus melihat sepot kaewkanjana-nama di Thailand-berdaun lanset berpaduan warna hijau di tepi, merah muda di tengah, dan tulang merah. Tjiew menyebutnya maneeratana.

Sri rejeki itu terbilang istimewa. ‘Salah satu induknya variegata,’ papar kolektor tanaman variegata itu. Tjiew menggunakan Aglaonema chawang dan golden bay variegata sebagai bahan silangan. Hasilnya, sang ratu dengan pola warna menawan.

Belakangan muncul penyilang-penyilang baru. Tjiew menyebut angka 100 orang. Dari jumlah itu, ‘Hanya 10 orang yang profesional,’ kata Profesor Dr Neungpanich Sinchaisri-pakar hortikultura yang menjadi konsultan di radio pertanian Thailand. Salah satunya Chirayu Thongwutthisak yang melahirkan legacy. Dari tangan para penyilang, hadir siam diamond-aglaonema berdaun bulat dengan warna seperti tembaga, sofia berbentuk kompak dengan paduan merah muda dan cokelat, dan brown sugar yang merah kecokelatan. Nuansa cokelat rupanya tengah populer.

Luar Bangkok

Demam aglaonema pun menular lebih luas. Waktu berkunjung ke pasar tanaman hias Chatuchak pada pertengahan 2005, Trubus hanya menjumpai 5 pedagang. Kini minimal 10 pedagang. Lokasi nurseri pembesar tak melulu di ibukota. ‘Banyak pemain baru muncul di luar Bangkok,’ tutur Tjiew. Sebut saja di Phra Nakhon Si Ayutthaya, Ang Thong, Lop Buri di utara Bangkok, Ratchaburi di barat daya, Nakhon Pathom di barat, dan Samuth Prakan di selatan.

Sebagian mereka semula bermain tanaman hias lain. Sebut saja Anant Kulchaiwatna. Pemilik Nabanant Plants Nursery itu lebih dikenal sebagai pemain adenium. Baru 7 bulan terakhir Anant melirik aglaonema. Snow white, venus, dan legacy ditata rapi di lahan seluas 1.000 m2 di belakang hamparan adenium. Dari pengamatan Tjiew memang sejak awal 2006, euforia aglaonema kian merajalela.

Pembagian kerja pun kian jelas. Tjiew menyebut ada 3 segmen yang bermain di bisnis aglaonema Thailand: penyilang, pembesar, dan pedagang. Untuk mempercepat laju produksi, teknologi kultur jaringan mulai lazim dipakai. Bahkan dud unyamanee yang menjadi incaran hobiis di Thailand dan Indonesia berhasil digandakan dengan perbanyakan vegetatif in-vitro itu. Teknolgi dan banyaknya jumlah pemain membuat aglaonema negeri Siam mendunia. ‘Ini yang harus kita hadapi dengan bekerja,’ tegas Gregori Garnadi Hambali-penyilang di Bogor.

Kondisi setali 3 uang terjadi di tanahair. Kehadiran aglaonema baru membuat hobiis lokal tak pernah bosan menikmati keelokan tanaman pembawa rezeki itu. Buktinya, meski sudah mengoleksi puluhan pot. Syahrial Usman di Dumai, Riau, terus menambah koleksi. Pengusaha kelapa sawit itu bisa tak tidur jika aglaonema incaran belum didapat. Di Surabaya, Husny Bahasuan-pemilik perusahaan sarung cap BHS Tex-juga terpesona daun jelita itu. Bola salju memang terus bergulir ke daerah. Ukay Saputra menyebut pedagang di Makassar, Manado, Balikpapan, Bontang, Pontianak, serta Bangka dan Belitung pelanggan yang rutin dilayani. Untuk melayani permintaan dari daerah, Adil Barus di Medan, rutin mendatangkan siamese rainbow dari negeri Gajah Putih.

Para pemain pioner sepakat banyak pemain baru bermunculan di berbagai daerah. Sebut saja kakak beradik Isa Fauzi dan Nurul Fikri di Jakarta Selatan. Sejak 6 bulan terakhir pemuda yang masih berstatus pelajar itu menjajakan lipstik, cochine, dan jenis-jenis tanpa nama pada orangtua teman masing-masing. Hasilnya, ‘Bisa laku 3-4 pot per minggu. Lumayan tidak perlu membebani orangtua untuk minta uang jajan,’ kata Isa.

Pasar realistis

Di Semarang ada Hirza, SE. Baru 2 tahun alumnus UII Yogyakarta itu jatuh hati pada sri rejeki. Dalam setahun koleksi berlipat menjadi 200 pot. Iseng-iseng kelahiran Palembang itu menjajakan di pameran. Ekshibisi pertama pada akhir 2005 berbuah manis. ‘Dalam 2 hari barang habis,’ kata Hirza. Padahal pameran berlangsung selama 17 hari.

Untuk mengisi hari pameran tersisa, staf akutansi di harian surat kabar itu mendatangkan sri rejeki dari importir di Medan. Terhitung 5 kali Hirza mengisi ulang stan dengan butterfly, lady valentine, dan lipstik. Masing-masing 200-300 pot. Dengan harga Rp100.000-Rp300.000 per pot, total omzet Rp100-juta. Pantas setelah setahun serius menekuni bisnis aglaonema, Hirsa memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. ‘Pendapatan sekali pameran bisa 5-10 kali gaji,’ katanya.

Penambahan hobiis dan pedagang tak lepas dari harga sri rejeki yang kian terjangkau. Waktu pertama dikenalkan pada awal 2004, harga lady valentine sekitar Rp300.000 per pot. Kini dengan Rp125.000 hobiis sudah mendapat sepot cantik terdiri dari 3-4 daun ukuran sama.

‘Pasar kelas menengah bawah adalah pasar yang realistis,’ ujar Ukay Saputra. Pemilik nurseri Annisa Flora itu mencontohkan pengalaman mengikuti pameran. Ternyata 75-80% omzet didapat dari penjualan jenis-jenis berharga Rp100.00-Rp300.000 per pot. Sebut saja heng-heng, snow white, lady valentine, dan pride of sumatera. Di atas itu-kisaran hingga Rp1-juta-seperti legacy dan beberapa jenis lipstik. Pantas bila Fransiskus Wiratmahusaha-pekebun di Semarang-mulai mengambil ancang-ancang. Pemilik nusreri Gama Cactus itu memborong petita, JT-2000, dan madame soeroyo dari kebun Greg-sapaan Greg Hambali-di Bogor. Masing-masing 100 pot untuk bahan perbanyakan.

Maling

Namun, penawaran manis sri rejeki bukan tanpa batu sandungan. Pencuri profesional menjadi ancaman faktual. Iwan Hendrayanta di Permatahijau, Jakarta Selatan, mesti merelakan aglaonema kesayangan digondol maling. Total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Untuk mengamankan si pembawa rezeki Frans membentengi nurseri dengan gulungan kawat baja. Greg melengkapi kebun dengan alarm dan monitor pengontrol.

Ancaman hama-penyakit dan ketidaksesuaian lokasi tetap menghadang. Ulat penggerek batang musuh utama yang menggerogoti induk-induk milik Greg. Pada bulan-bulan pertama kepindahan ke Sawangan, Depok, lady valentine, snow white, dan pride of sumatera di kebun Ukay merana, ditandai daun terkulai. Setelah lantai dilapisi batu koral dan sering disiram, aglaonema tumbuh bugar. Rupanya kelembapan 80% yang diinginkan sang ratu belum tercapai.

Salah menetapkan pasar dan barang investasi menjadi batu sandungan lain. Banyak pemain baru yang tergiur melipatgandakan uang dengan menanamkan modal pada aglaonema berharga jutaan rupiah per lembar. Hitung-hitungan di atas kertas memang menjanjikan. Dengan penambahan 1 daun setiap bulan, berarti melonjak pula nilai jual.

Sayang, tak semua berbuah manis. Banyak di antara mereka hanya mengenal tanaman dari foto atau kata orang. Akibatnya, kejadian salah membeli kerap terdengar. ‘Ketika tanaman yang benar didapat, ternyata menjualnya tak semudah yang dibayangkan,’ kata Frans. Maklum bila dilihat dalam piramida konsumen, pembeli jenis-jenis mahal itu berada di bagian puncak. Jumlahnya tak sampai 30%. Pembelinya pun tertentu.

Sepanjang masa

Toh, meski begitu para pemain tak jera. ‘Pasar yang belum tergarap masih sangat luas. Kuncinya bermain di jenis dengan harga terjangkau,’ kata Ukay. Ia mengajak berhitung. Kini penduduk Indonesia berjumlah 220-juta jiwa. Anggap 20% dari mereka masuk dalam kategori sejahtera sehingga bisa leluasa menyalurkan hobi. Ambil 10% sebagai pencinta tanaman hias. ‘Itu berarti 4- juta orang yang bisa digarap sebagai konsumen,’ lanjut pria yang punya obsesi mengurangi impor sri rejeki dengan memproduksi massal itu. Dengan harga realistis, aglaonema bertahan dari hantaman anthurium yang sempat naik daun.

Kehadiran jenis-jenis baru bakal memperpanjang napas tren. ‘Aglaonema itu harus seperti fesyen. Selama ada barang baru yang berbeda, selama itu pula orang akan terus menyukai,’ kata Greg. Syarat lain, tanaman mesti mudah dirawat supaya konsumen tidak repot. Handry Chuhairy-pekebun di Tangerang-menyebut contoh venus dan legacy yang memiliki karakter seperti itu.

Pemilihan jenis-jenis yang diminati hobiis memperbesar peluang keberhasilan. Ansori Y-pemain kawakan di Pondoklabu, Jakarta Selatan-menyebut jenis-jenis berbatang pendek, kompak dengan paduan warna merah, kuning, dan merah muda tetap diminati. Kompetisi Suan Luang di Thailand setiap Desember bisa jadi barometer. Di tanahair, produk-produk hasil silangan Greg yang berkali-kali menjuarai lomba menjadi incaran. Dengan cara seperti itu, ‘Kayaknya sepanjang manusia masih ada, bisnis aglaonema masih bertahan,’ seloroh seorang pemain. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana & Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img