Friday, August 12, 2022

Agribisnis Thailand

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Padahal jika dirunut, asal muasal durian yang jadi kebanggaan masyarakat Thailand itu sebenarnya berasal dari Indonesia.

Melalui pemuliaan genetika, durian bung karno berubah baik penampilan maupun rasanya menjadi monthong. Pada 1960-an saat Presiden Soekarno bertemu dengan Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), beliau membawa durian Bung Karno sebagai cinderamata. Raja Bhumibol yang intens mengembangkan dan meneliti dunia pertanian kemudian membudidayakan durian itu sejak 1962.

Setelah itu ternyata Indonesia tak cuma kecolongan durian. Pun komoditas lain seperti jambu air, perkutut, dan beras. Misalnya jambu citra di Thailand disebut chompuu chitra atau thong saam sii yang berukuran 2 kali lebih besar dibanding aslinya. Perkutut nok khao chawa (burung gunung dari tanah Jawared) yang kesohor di Bangkok, induknya berasal dari Jawa yang dibawa ke negeri Siam pada jaman Rama V. Ironis memang, jika beberapa produk asli Indonesia yang digelar di pasar swalayan dan tradisional harus dilabeli ‘bangkok’ dulu untuk menarik selera pembeli.

Thailand tidak hanya pandai memodifi kasi buah atau burung. Mereka juga ahli mengolah tanaman pengganggu seperti eceng gondok. Gulma air tawar nomor satu di Thailand itu kini jadi produk unggulan kerajinan tangan seperti elemen dekorasi dan furniture. Bahkan olahan phak tok chawa (sayuran hijau limpahan sungai Pulau Jawa-red) itu dipasarkan ke seluruh dunia dengan label Thai Water Hiacynth Products.

Mendunia

Agribisnis di Thailand memang maju pesat, hingga mendapat predikat negara produsen hasil pertanian terbesar di dunia. Maklum, bidang penelitian dan pengembangan pertanian dijadikan perhatian utama pembangunan di sana. Itu tak lepas dari peran Raja Bhumibol Adulyadej yang sangat disegani warganya. Beliau selalu menerapkan prinsip pola hidup berkecukupan dan hiduplah dari hasil pertanian sekitar rumah. Kini prinsip itu dituangkan dalam strategi dan perencanaan pembangunan pertanian untuk menumbuhkan perekonomian Thailand. Wajar saja jika target penghentian bantuan IMF pada Desember 2002 lalu tercapai. Dan target berikutnya bertekad melunasi seluruh utang negara dalam tempo lebih cepat dari perjanjian.

Thailand juga mendapat julukan World’s Rice Bowl atau lumbung padi dunia. Sebagai negara agraris, tentu Thailand bangga terkenal dengan negara produsen pangan dan hasil pertanian. Itu sesuai dengan motto Department of Export and Promotion (DEP) yakni Diversity & Refi nement. Perdana Menteri Thaksin Shinawatra menerapkan program kebijakan One Tambon One Product (OTOP), yang berarti 1 kecamatan dikenal dengan 1 produk unggulan. Dengan moto itu terbentuk citra Thailand sebagai Kitchen of the World maupun OTOP to Fulfi ll World Market.

Kesan mendunia selalu ditanamkan untuk memotivasi para pelaku agribisnis. Di bidang pangan, Thailand memang mengekspor aneka bahan segar, bekuanmentah, bahan setengah jadi, bahan jadi sampai siap saji. Dalam pemgolahannya semua menerapkan Good Agricultural Practices, Good Manufacturing Practices, Statistic Quality Control 2000, serta standar mutu Organization for International Standard dan Hazard Analysis Critical Control Points.

Strategi pemasaran

Tak heran jika masyarakat Thailand bangga disebut petani. Berbeda dengan sebutan petani di Indonesia yang identik dengan hidup susah atau rugi melulu. Petani di Thailand mulai dari warga sipil biasa, pejabat tinggi militer, profesional, hingga pejabat tinggi negara. Bahkan para konglomerat Thailand secara rutin, tiap tahun, menyumbangkan sejumlah dana kepada Yayasan Royal Projects yang diketuai Raja Bhumibol atau Ratu Sirikit.

Mereka tahu dana yang terkumpul milyaran Baht itu kembali kepada rakyat. Dana itu sebagian besar disalurkan ke penelitian pertanian, reklamasi lahan, beasiswa pelajar, pembangunan desa tertinggal, dan pembagian bibit unggul cuma-cuma untuk petani.

Andil penyuluh informasi & teknologi pertanian (PPL) juga besar untuk membesarkan nama Thailand di mata internasional. Mereka secara khusus dipegang oleh Department of Agriculture Extension (DOAE) yang terpisah dengan Department of Agriculture (DOA) di bawah pimpinan Director General. Ia langsung di bawah pengawasan Ministry of Agriculture & Cooperatives (MOAC).

MOAC juga mengatur Departemen Pertanian, Departemen Pengairan, Departemen Perikanan & Kelautan, Departemen Peternakan, Departemen Kehutanan, Departemen Koperasi yang masing-masing dipimpin seorang Dirjen. Maka SK Menteri MOAC secara sinergis diterapkan oleh beberapa Departemen tersebut. Selanjutnya tugas promosi & pameran produk pertanian ditanggung DOA, DOAE bersama DEPMOC (Department of Export Promotion – Ministry of Commerce).

Para tokoh parlemen, pejabat pemerintah, peneliti, pelaku agribisnis bahkan petani terkemuka di Thailand mengenal Indonesia sebagai gudangnya berbagai jenis sumberdaya hayati dan alam yang potensial. Mereka kemudian mengintroduksi setelah dilakukan rekayasa genetika, menstabilkan produktivitas, mengemas, dan mengolahnya sesuai selera konsumen, termasuk juga strategi pemasaran.

Setiap target dan sasaran pasar seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa, Asia atau Timur Tengah memiliki teknik berbeda. Itu sebabnya Thailand harus bisa memahami kebutuhan pasar. Untuk mewujudkan itu Thailand memiliki database seluruh komoditas Indonesia yang diminati pasar tersebut. Dari databaseitu kemudian dikompilasi melalui sistim komputerisasi menjadi peta sentra produksi hortikultura sesuai musim. Perusahaan perusahaan eksportir terkemuka di Indonesia pun dijadikan direktori untuk mempermudah impor. Dengan pelayanan One Stop Service seperti itu tak heran jika importir merasa sangat puas.

Tidak salah jika Thailand menjadikan 220-juta penduduk Indonesia sebagai target pasar bebas pada 2003. Merekatahu bahwa karakter konsumen Indonesia menyukai segala seuatu yang serba ‘bangkok’. Akhirnya pekebun di tanah air hanya bisa berkata kapan Indonesia bisa selamat dari krisis dan bangga hidup dari hasil pertaniannya sendiri?” Semoga tidak terjadi apa kata pepatah tikus mati di lumbung padi****) Ir Nancy Martasuta Konsultan Pertanian Thailand-Indonesia

Tameng Kanker

Berapa nilai bisnis pengobatan kanker? Luar biasa. Pada 2003, harian Kompas mencatat, penjualan obat kemoterapi di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat, mencapai Rp2,5-miliar per bulan. Jadi boleh hitung sendiri, berapa banyak uang yang dibelanjakan masyarakat untuk berperang melawan kanker?

Jangankan pengobatannya, baru periksa kesehatan saja sudah makan banyak biaya. Bermacam tes, pemantauan, dan kelak perawatan harus ditempuh bila sampai terjangkiti kanker. Pembunuh manusia nomor 2 di dunia itu muncul dalam bentuk macam-macam. Mulai dari kanker tulang, perut, rahim, prostat, usus, paru-paru, payudara, bahkan darah.

Padahal konon, mencegahnya sederhana: perbanyak makan buah-buahan dan sayuran. Lebih dari 35 macam sayuran penolak kanker berlimpah di pasar. Mulai dari brokoli, sawi, kubis, seledri, buncis, bawang putih, dan kembang kol.

Wortel!

Yang paling terkenal tentu tomat dan wortel! Hampir semua penelitian mengatakan risiko terkena kanker turun drastis bagi para penggemar tomat dan wortel. Yang terakhir itu sedang ngetren di kalangan gadis-gadis Jepang dalam upaya menghindari kanker rahim. Wortel mengandung banyak betakarotin yang menyehatkan jaringan sel tubuh.

Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle, Amerika Serikat, memperhitungkan hanya dengan banyak makan sayuran, terutama tomat, risiko terkena kanker prostat turun 48%. Itulah konfi rmasi oleh 15% responden dari 1.200 pria berusia antara 40—64 tahun, usia paling rentan terkena prostat.

Namun, kita tidak boleh mendewakan buah dan sayuran sebagai pelindung manusia dari kanker. Riset terhadap 135.000 responden menunjukkan, risiko terkena kanker tidak otomatis turun. Banyak faktor lain yang lebih berpengaruh harus diwaspadai. Misal merokok, kegemaran makan daging, dan junk food.

Sebuah siaran kesehatan BBC menggarisbawahi pentingnya pola hidup dan pola makan, bukan sepenuhnya berserah pada khasiat sayuran dan buah-buahan.

Sudah ada di rumah?

Yang jelas, ketakutan pada kanker membuat orang kembali mencintai makanan alami. Namun, mengapa manusia perlu disentakkan oleh musibah sedahsyat kanker untuk mencintai hidup sederhana, murah, sehat, dan bahagia bersama sayuran dan buah-buahan?

Sekarang resep-resep murah, kembali diperhatikan. Bukan hanya sayuran, buah dan dedaunan yang semula diabaikan, kini mendapat nama. Mengkudu atau pace Morinda citrifolia katanya mengandung dammacanthel. Zat antikanker itu mampu melawan pertumbuhan sel abnormal pada stadium prakanker dan mencegah perkembangan sel kanker.

Sari perasan 2—3 mengkudu dapat dibubuhi madu agar rasanya lebih nikmat. Disarankan pilih buah yang tidak terlalu matang. Sebab, nantinya muncul kandungan alkohol akibat fermentasi. Itu merusak zat-zat penting buah itu.

Daun dewa Gynura divaricata juga dikenal sebagai penggempur kanker. Ramuan 30 g daun dewa segar, 20 g temu putih, 30 g jombang direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Lalu disaring dan diminum airnya. Bukan hanya untuk kanker, tapi untuk bermacam penyakit lain. Demikian hebat khasiatnya, sampai disebut sebagai daun penyambung nyawa.

Maka jangan heran kalau banyak orang menanamnya di pot atau di pekarangan. Pada awal 1999 Ken Zuraida, istri penyair dan dramawan Rendra, menitipkan satu pot daun dewa pada istri saya. Setelah lima tahun berlalu, batangnya segar berjuraijurai. Ia tumbuh subur luar biasa. Seakan selalu membawa kabar baik, dan “every morning you greet me!” Maka, dengan memelihara dan cinta tanaman saja, sudah makin panjang umur kita.

Hikmah pertama mengetahui khasiat tumbuhan adalah perlunya menanam sendiri. Kunyit putih, tapak dara, rumput mutiara, daun jombang, dan 35 macam sayuran yang menyehatkan bisa ditanam dan dipelihara sendiri. Di tempat sempit pun bisa, asal ada kemauan, kesabaran, ketekunan, dan kecintaan pada tanaman, dalam arti yang seluas-luasnya.

Kalau ada resep, kita bisa meracik sendiri. Misalnya, “Petiklah 30 g daun dewa segar, 30 g tapak dara segar, 30 g rumput mutiara, dan 30 g rumput lidah ular direbus dengan 1.000 cc air hingga tersisa 500 cc. Airnya disaring lalu tambahkan madu secukupnya, aduk kemudian diminum selagi hangat.” Insya Allah panjang usia dan bebas kanker.

Daun ceremai Phyllanthus acidus konon juga obat antikanker. Segenggam daun ceremai muda, sejumput daun belimbing, bidara upas sejari, gadung cina sejari, dan gula aren direbus dengan 3 gelas air hingga tinggal segelas. Ramuan itu diminum 3 kali sehari masing-masing satu gelas. Nah, daun belimbing dan ceremai tak perlu dibeli bukan? Bidara upas, gadung cina, dan gula aren bisa dipesan pada tukang sayur atau penjual jamu gendong.

Penahan kanker

Yang paling banyak diperhatikan dan menjadi primadona belakangan ini keladi tikus Typhonium fl agelliforme alias rodent tuber. Jenis talas kecil berukuran 25—30 cm itu jadi sangat populer gara-gara Drs Patoppoi Pasau dan anaknya, Boni Pasau, yang tinggal di Sidoardjo, Jawa Timur. Di Malaysia diteliti sejak 1995 dan kabarnya telah menyembuhkan banyak pasien kanker dari berbagai negara.

Pakar keladi tikus dan pendiri Cancer Care Penang, Prof Dr Chris K.H. Teo, dari Universiti Sains Malaysia, dikabarkan telah membantu ribuan pasien kanker dari Amerika, Australia, Inggris, Selandia Baru, dan Singapura. Sukses inilah yang mungkin mengilhami berdirinya Cancer Care Indonesia di Jakarta dan Surabaya. Berbekal pengalaman menyembuhkan istri sendiri dan berpegang pada buku karangan pakar Malaysia itu, ayah dan anak Patoppoi mempopulerkan keladi tikus sebagai penggempur kanker andal.

Selain itu, kita sudah lama mengenal benalu pohon teh, khususnya dari spesies Scurrula atropurpurea. Tanaman parasit pada pohon teh Camellia sinensis sejak zaman kuno digunakan untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Misalnya Viscum album untuk mengobati sakit pinggang dan jamu setelah para ibu di Jepang melahirkan. Viscum album mengobati kanker di Korea dan Cina. Di beberapa negara Eropa malah menjadi obat antikanker nonkonvensional dan dijual dengan nama dagang Iscador.

Dr Hendig Winarno, MSc, peneliti pada Lab Agrokimia Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi Batan, Jakarta, menyatakan masyarakat Indonesia secara turun-temurun menggunakan benalu untuk mengobati berbagai penyakit. Termasuk benalu teh untuk mengobati kanker. Sementara di Semarang, Dr Retno Murwani, MSc dari Universitas Diponegoro menyatakan bahwa benalu teh berkhasiat membunuh sel tumor dan sel kanker fi bro sarcoma.

Sejak 1992 bermacam obat antikanker modern muncul berkat benalu teh itu. Misal obat keluaran Bristol-Myers Squibb dengan nama dagang Taxol. Akhir tahun lalu, lahir merek lain yaitu Paxus, yang juga memanfaatkan senyawa antikanker dari tumbuhan.

Penelitian benalu teh berlanjut lebih serius melalui kerjasama tim peneliti dari Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) dengan Prof Hirotaka Shibuya dari Universitas Fukuyama, Jepang, dan Prof Dr Mutsuko Mukai dari Osaka Medical Center, Jepang. Setelah melalui proses 3 tahun, tim gabungan itu berhasil mengisolasi 16 senyawa dari benalu teh yang merupakan parasit pohon teh di Perkebunan Gunung Mas, Cipanas, Jawa Barat.

Kombinasi berbagai senyawa itu tidak membunuh sel kanker, tapi secara efektif menahan laju pertumbuhannya. Diakui, masih perlu uji klinis lebih lanjut, tetapi masyarakat sudah boleh mendapat pegangan, spesies benalu tertentu memang betul-betul berdaya guna.

Dengan investasi ratusan juta rupiah, kabarnya akan berdiri lagi satu pabrik obat antikanker dengan bahan baku benalu pada 2004 ini. Nah, kalau benalu saja (belum terhitung benalu pohon mangga, rambutan, duku, dan buah-buahan lain) mampu menggerakkan industri kesehatan, bagaimana sayuran dan buah? Rasanya tidak perlu dianjurkan lagi untuk panjang umur bersama buah-buahan dan sayuran. Lebih-lebih bila mereka berasal dari pot atau kebun sendiri. Selamat hidup sehat dan bahagia!*** *) Eka Budianta, naturalis, kolumnis majalah Trubus, dan penulis buku sastra, pariwisata, dan pendidikan lingkungan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img