Thursday, December 8, 2022

Akasia Akhiri Penyakit Gula

Rekomendasi

Berbagai cara penyembuhan yang sudah ditempuh tak jua memberi hasil memuaskan. Hanya ramuan tunggal, daun akasia yang dikemas sebagai teh herbal mampu membebaskan penderitaannya.

Siapa sangka Sugeng bakal mengidap kencing manis. Sejak usia sekolah pria yang kini berusia 50 tahun itu rajin berolahraga. Kegiatan itu semakin sering dilakukan sejak ia menjadi anggota kesatuan marinir TNI-AL pada 1978. Fisik prima menjadi tuntutan mutlak dalam menjalankan tugas teritorial sebagai anggota pasukan khusus angkatan laut itu. Pemeriksaan rutin yang dilakukan di dinas kesehatan marinir selalu membuktikan tubuhnya tidak memiliki masalah berarti.

Keadaan mulai berubah menginjak pertengahan 1980-an. Saat itu Sugeng mengalami mutasi menjadi staf bagian logistik di Armada Laut Bagian Barat (Armabar) di bilangan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Kegiatan olahraga yang dulu rajin dilakukan pelan-pelan mulai tersisih karena kesibukan mengurus logistik pasukan. Kalaupun ada waktu kosong, kelahiran Malang 1955 itu lebih banyak memanfaatkan untuk kongkow-kongkow bersama teman-teman.

Setahun memasuki masa pensiun pada 1999, badai pun mulai menerpa badannya. Rasa gatal seringkali datang. “Semula sedikit tapi lama-lama kok menyebar. Kalau digaruk timbul luka dan bekasnya susah sekali kering,” ujar ayah 2 putra itu. Selain gatal, acara ke peturasan pun menjadi lebih sering dilakukan. Tak heran teman-teman sejawatnya di ruang kerja sering menatap heran.

Yang dirisaukan Sugeng ketika mendapati pandangan matanya yang tiba tiba kabur. Selama masih berada di sekitar kantor, kondisi itu masih bisa diatasi. Namun, itu berbeda ketika menempuh perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya dengan mengendarai sepeda motor.

Bermacam herba

Selama gejala-gejala kencing manis itu datang, pola makannya tak pernah dikontrol. Hampir semua makanan kesukaan dilahap. Mulai dari kacang, durian, satai kambing, dan kue-kue manis. Minum siang dan sore selalu ditemani teh atau kopi bergula. Tanpa disadari ia sudah menimbun gula dalam darah.

Semua gejala penyakit itu semula tetap dibiarkan tanpa perlu memaksa diri untuk mencari penyebabnya. Namun, kondisi itu berubah 180° setelah beberapa waktu ia mendapati diri mengalami disfungsi ereksi hingga selalu gagal berhubungan dengan sang istri. Sugeng pun mulai panik. “Buruburu saya datang ke rumah sakit Mintoharjo. Setelah menjalani general chek up, ketahuan gula dalam darah sangat tinggi,” tutur suami Nanik itu. Hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) menunjukkan kadar glukosa darah puasa mencapai 370 mg/dl. Dalam kondisi normal kadar glukosa darah puasa berkisar 100—140 mg/dl.

Sejak itu pula pensiunan sersan kepala marinir itu harus menjalani diet ketat. Konsumsi nasi dibatasi, tidak boleh lebih dari ¾ piring. Berbagai makanan kegemaran yang mengandung kacang harus ditinggalkan. Termasuk buah-buahan kesukaan seperti pisang ambon dan durian. Ia pun dianjurkan menghindari daging, berhenti mengkonsumsi gula murni, dan banyak-banyak makan ikan.

Ia mulai mengikuti saran beberapa teman untuk meminum rebusan bermacam herba pengentas diabetes seperti daun nimba Azadirachta indica, daun salam Syzygium polyanthum, hingga mahkotadewa Phaleria macrocarpa. Toh semua itu belum memberi dampak memuaskan. Hasil pemeriksaan TTGO kembali menunjukkan nilai gula dalam darah puasa berada pada angka 230 mg/dl.

Sehari 2 kali

Aroma kesembuhan mulai datang saat Sugeng berdinas selama 2 pekan di Palembang, Sumatera Selatan, pertengahan 2000. Seminggu pertama di Kota Pempek itu, ia masih setia mengkonsumsi rebusan daun nimba yang sengaja dibawa. Tidak disangka salah seorang penduduk yang sering singgah ke kediaman selama tugas menyarankan meminum air rebusan daun akasia.

Beberapa lembar daun akasia itu direbusbersama 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas untuk diminum. Dosis minum 2 kali sehari. “Dua hari setelah minum rasa gatal mulai berkurang dan tidur terasa enak,” ujar Sugeng. Sekembali ke Jakarta ia masih rajin meminum rebusan daun akasia itu. Melalui cek laboratorium, nilai gula dalam darah puasa sudah turun ke angka 145 mg/dl, setelah 2 minggu mengkonsumsi. Disfungsi ereksi yang dulu datang pun berangsur hilang.

Agar daun akasia itu mudah dibawa ke sana-ke mari, Sugeng sengaja mengeringkan dan membungkusnya memakai kemasan teh. “Biar ekonomis dan tidak perlu repot membuatnya. Cukup menuangkan air panas dan menyeduh,” ujar Sugeng. Dosis pemakaian, ukuran sachet teh untuk 2 kali sehari.

Sayang, ketika dihubungi Trubus, pria 50 tahun itu tidak bersedia mengungkapkan jenis akasia yang daunnya dipakai sebagai teh herbal. Maklum ia sekarang masih mengusahakan mendapat sertifi kat dari BPOM untuk menjadikan teh herbal daun akasia sebagai obat diabetes.

Kini Sugeng bisa melakukan aktivitas seperti semula. Bahkan makanan kegemaran pun mulai berani disentuh sedikit-sedikit. “Biasanya gula darah naik sampai dekat angka 200 mg/dl bila melanggar pantangan,” paparnya. Kalau sudah demikian, ia pun kembali meminum seduhan teh herbal daun akasia selama 2 hari berturut-turut. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img