Wednesday, August 10, 2022

Akhir Elegi untuk Anoa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Anoa dataran rendah satwa endemik yang terancam punah di Pulau Sulawesi.
Anoa dataran rendah satwa endemik yang terancam punah di Pulau Sulawesi.

Di tengah hutan yang senyap, satwa besar itu bergerak liar. Tambang menjerat kuat kaki kiri depan sehingga binatang berkaki empat itu terbelenggu. Semak dan tumbuhan di sekitar fauna itu rusak karena upayanya meloloskan diri gagal. Malah tambang semakin kuat melilit kakinya. Ketakutan dan kecemasan terpancar di raut muka pejantan muda itu. Sekilas satwa itu mirip kerbau, tapi berukuran lebih kecil.

Hewan itu bertanduk dan tubuhnya ditutupi rambut berwarna hitam. Itulah anoa yang terjerat. Sudah dua hari Diah Irawati Dwi Arini dan tim menelusuri vegetasi lebat di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Sulawesi Utara, demi menjumpai anoa. Siang itu perjalanan mereka terhenti karena kehadiran anoa naas itu. Pada 2010 itu mereka hanya bisa memantau kerbau mini alias anoa dari jarak 500 m.

Anoa berusaha melarikan diri dari perangkap yang dipasang pemburu.
Anoa berusaha melarikan diri dari perangkap yang dipasang pemburu.

Harap mafhum anoa satwa agresif. Fauna ikon Provinsi Sulawesi Tenggara itu mengejar manusia yang berpapasan dengannya untuk melindungi diri. Oleh karena itu masyarakat dan polisi hutan segera lari dan memanjat pohon terdekat saat bertemu anoa. Jika tidak lari, kemungkinan tubuh bisa terluka akibat tandukan anoa. Salah satu warga desa di dekat hutan mengaku pernah diserang anoa yang terluka.

Arin—sapaan akrab Diah Irawati Dwi Arini—mengatakan sejatinya satwa anggota famili Bovidae itu cenderung pemalu sehingga menghindari bertemu manusia. Indera penciuman yang tajam membantu satwa itu mendeteksi keberadaan manusia. Belum ada data dan referensi yang menunjukkan jangkauan penciuman anoa. Anoa des plaines—sebutan anoa di Perancis—itu lumayan “beruntung” karena keempat kakinya masih menepak tanah.

Itu memungkinkan satwa dilindungi itu menyantap tumbuhan sekitar saat lapar. Rekan Arin, Harwiyaddin Kama, mengatakan, ada jebakan yang mengangkat satu kaki anoa ke atas, sedangkan kaki lainnya menjejak tanah. Posisi itu semakin menyulitkan hewan menyusui itu untuk kabur. Belum lagi jika lapar, hewan itu pasti susah menjangkau tumbuhan.

Konservasi anoa di luar habitat dilakukan oleh Anoa Breeding Center.
Konservasi anoa di luar habitat dilakukan oleh Anoa Breeding Center.

Lazimnya pemburu memasang tambang sebagai jebakan. Supaya hasil maksimal jumlah jerat pun tidak hanya satu, tapi ratusan perangkap memenuhi lantai hutan. “Jerat terpasang di tempat-tempat yang banyak jejak anoa. Bisa di pinggir sungai, tengah hutan, atau puncak gunung,” kata Arin. Pemburu tidak setiap hari memeriksa jebakan. Kadang sebulan kemudian pemburu mengunjungi perangkap.

Ketika itu mayoritas hewan yang terjebak sudah mati. Arin dan tim pernah menjumpai tulang belulang hewan dengan jerat masih terpasang di tempat berketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl). Dari kepala yang tersisa Arin yakin fauna bernasib buruk itu anoa. Saat itu Arin senang karena berjumpa langsung dengan hewan pemakan tumbuhan alias herbivora itu.

Perjalanan panjang sejauh 20-an km menembus rimba membuahkan hasil. Namun Arin pun nestapa karena anoa itu terjerat. Arin dan rekan adalah peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado, Sulawesi Utara. Kedatangan tim peneliti untuk mengetahui karakteristik habitat dan populasi anoa di alam.

Kayu tempat anoa menggosok tanduk di dalam kandang.
Kayu tempat anoa menggosok tanduk di dalam kandang.

Diduga perburuan anoa sudah berlangsung lama. Pemburu mengambil daging anoa, kulit, dan tanduk sebagai hiasan. Ada kepercayaan lokal yang menyebutkan daging anoa berkhasiat menyembuhkan penyakit tertentu. Padahal, belum ada riset ilmiah yang membuktikan mitos itu. Bahkan di salah satu daerah di Sulawesi Tengah terdapat upacara adat yang mesti menghidangkan daging anoa.

Teknisi di BP2LHK Manado, Harwiyaddin Kama, menuturkan pemburu menguliti dan mencincang daging anoa di hutan. “Mereka hanya membawa potongan daging sepulang dari hutan sehingga orang lain tidak mengetahui asal daging itu,” kata Harwiyaddin. Menurut Arin sebuah penelitian pada 2000 menguraikan perburuan fauna kerabat kerbau itu di dalam dan luar kawasan hutan konservasi mencapai 1,5 ekor per desa per tahun.

Jika Pulau Sulawesi terdiri dari 100 desa dan perkiraan populasi anoa saat ini 5.000 ekor, maka diproyeksikan 30—40 tahun mendatang anoa punah. “Selain perburuan liar, kerusakan hutan juga pemicu menurunnya populasi anoa,” kata Magister Kehutanan alumnus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu. Anoa de ilanura—sebutan anoa di Spanyol—sangat bergantung pada hutan sebagai sumber pakan dan tempat berlindung.

Anoa tidak lagi menghuni hutan di CA Tangkoko.
Anoa tidak lagi menghuni hutan di CA Tangkoko.

Oleh karena itu degradasi hutan mengancam kelestarian anoa. Forest Watch Indonesia dalam Potret Keadaan Hutan Indonesia menjabarkan Pulau Sulawesi kehilangan 1,6-juta hektare hutan pada 2000—2009. Sebelumnya luas hutan di Pulau Celebes 10,7-juta hektare dan pada 2009 anjlok menjadi 9-juta hektare. Wana yang menyusut 15,58% itu beralih fungsi menjadi pemukiman, lahan pertanian, dan perkebunan.

Dampaknya keanekaragaman hayati menurun. Selain itu lanskap hutan yang tadinya utuh berubah menjadi kawasan yang lebih kecil dan terpecah-pecah alias terfragmentasi. Artinya habitat satwa liar termasuk anoa menyempit. Padahal, anoa dan satwa lainnya memiliki daya jelajah luas. “Daya jelajah anoa mencapai 500 ha,” kata Arin. Pengecilan habitat membuat populasi anoa terisolasi sehingga berpotensi terjadi degradasi genetik yang berujung pada kepunahan spesies.

Kini anoa semakin sulit ditemui di alam. Penelitian Arin dan tim selama 12 bulan pun hanya menemui 2 anoa terjerat dan tulang belulang satwa kerabat sapi itu. Bahkan jejak kaki dan kotoran anoa pun jarang ditemukan. Setelah 3 hari 3 malam Arin baru menemui jejak dan kotoran anoa saat mengeksplorasi TNBNW.

Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Harwiyaddin yang tinggal di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, kerap menemui anoa di kawanan sapi yang merumput dekat hutan. Saat ini ia tidak lagi menjumpai satwa berkuku itu. Pemandu di Cagar Alam (CA) Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Irawan Halir, mengatakan sudah tidak ada anoa lagi di Tangkoko.

Tempat anoa berlindung di dalam kandang.
Tempat anoa berlindung di dalam kandang.

“Orang tua saya mengatakan dahulu sekali anoa pernah berada di CA Tangkoko,” kata Iwan, sapaan akrab Irawan Halir. Cerita orang tua Iwan memang betul. Pada 1978 Abdullah Syam dari Lembaga Penelitian Hutan Bogor, Jawa Barat, menjumpai mamalia bertanduk itu di CA Tangkoko. Saat itu Abdullah meneliti habitat dan populasi anoa. Kini anoa di tempat itu tinggal kenangan.

Arin menduga sejak 2001 tidak ada lagi anoa di CA Tangkoko. Organisasi lingkungan yang berkantor pusat di Swiss, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menduga terdapat sekitar 2.500 anoa di alam pada 2008. Pada tahun yang sama IUCN memasukkan anoa ke dalam daftar merah dengan kategori endangered alias genting. Anoa mendapat status itu kali pertama pada 1986.

Perjanjian internasional antarnegara, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), mengategorikan anoa ke dalam apendiks I. Artinya semua bentuk perdagangan anoa dataran rendah dan tinggi dilarang. Arin mengatakan sejatinya sejak zaman pemerintah kolonial Belanda anoa pun sudah dilindungi berdasarkan Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar.

Rumput gajah salah satu pakan anoa di penangkaran.
Rumput gajah salah satu pakan anoa di penangkaran.

Peraturan itu menyebutkan anoa satwa langka dan wajib dilindungi karena persebarannya sangat terbatas yaitu hanya di daratan Sulawesi dan Pulau Buton. Keputusan Menteri Pertanian RI No: 421/KPTS/ UM/8/1970 dan Surat Keputusan Menteri Pertanian No: 90/KPTS/2/1972 meneguhkan posisi anoa sebagai satwa yang dilindungi. Peraturan itu semakin diperkuat dengan Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Anoa satwa endemik sekaligus mamalia terbesar di hutan Pulau Sulawesi. Arin menuturkan terdapat dua jenis anoa yaitu dataran rendah dan tinggi. Ciri yang membedakan kedua jenis anoa itu antara lain ukuran tubuh, tanduk, serta warna dan bentuk rambut. Ukuran tubuh anoa dataran rendah Bubalus depresicornis lebih besar, bobotnya bisa mencapai 300 kg. Tubuh ditutupi rambut pendek berwarna kehitaman serta tanduk membulat.

Sementara bobot anoa dataran tinggi Bubalus quarlesi lebih kecil, yakni sekitar 200 kg dengan rambut tebal yang menyelimuti tubuh. Bentuk tanduk anoa dataran tinggi kerucut. Anoa dataran rendah lazimnya hidup di habitat berketinggian tempat 0—600 mdpl. Dataran berelevasi 600—1.300 m dpl termasuk daerah favorit anoa dataran tinggi. Kini habitat anoa tidak khas lagi.

Sebab, kadang anoa dataran rendah berada di dataran tinggi. Begitu pun sebaliknya. Terbatasnya luasan hutan primer menjadi penyebabnya. Anoa termasuk hewan soliter yang hanya dijumpai 1 atau 2 individu di alam. Hewan memamah biak itu menyukai hutan primer sebagai habitat. Terutama lokasi yang menyediakan pakan dan tempat berlindung. Tempat yang jauh dari aktivitas manusia adalah faktor utama pemilihan sarang.

Diah Irawati Dwi Arini SHut MSc (kedua dari kiri) dan Harwiyaddin Kama (kedua dari kanan) termasuk anggota staf Anoa Breeding Center.
Diah Irawati Dwi Arini SHut MSc (kedua dari kiri) dan Harwiyaddin Kama (kedua dari kanan) termasuk anggota staf Anoa Breeding Center.

Di alam anoa menjadikan pohon tumbang dan batu-batu besar sebagai tempat berlindung. Menurut Arin satwa endemik itu termasuk pemakan pucuk (browser) dan sedikit rumput-rumputan (grazer). Oleh karena itu anoa diklasifikasikan ke dalam intermediate feeder/grazer. Artinya ruminansia itu memiliki kebiasaan makan di antara browser dan grazer.

Anoa mengonsumsi aneka jenis pakan seperti rumput, tumbuhan air, dedaunan semak belukar, tunas/pohon muda, umbi-umbian, dan buah-buahan. Lazimnya hewan yang tergolong browser bergantung pada pakan yang tidak berlimpah tapi tersebar luas. Dampaknya hewan bertipe browser cenderung membentuk kelompok kecil bahkan menjadi soliter atau introvert seperti anoa.

Di alam anoa menggemari pakan tinggi protein dan mudah dicerna seperti daun muda/pucuk, bunga, dan buah. Lazimnya anoa mengonsumsi buah masak yang jatuh di lantai hutan.

Hasil penelitian Arin dan Nurlita Indah Wahyuni menunjukkan terdapat 35 jenis tumbuhan teridentifikasi sebagai pakan anoa di tiga lokasi habitat di TNBNW. Buah dangin atau leler Dillenia serrata salah satu jenis buah kesukaan anoa karena kandungan airnya cukup tinggi. Rofu atau tepu Elatostema sp. pakan alami favorit anoa. Hewan pemalu itu mengonsumsi pucuk daun, daun, hingga batang rofu yang menjalar di atas tanah. Rofu tumbuh di dekat sumber air dan membentuk hamparan luas serta tersedia sepanjang musim.

Anoa Dataran Rendah
Anoa Dataran Rendah

Penelitian Jahidin dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan, anoa menghendaki daerah yang tidak terlalu rapat ditumbuhi semak dan pepohonan dan lebih terbuka sebagai lokasi mencari pakan.Tempat sumber pakan adalah hutan yang belum dan telah terganggu aktivitas manusia seperti jalan setapak yang tidak digunakan lagi. Jahidin juga menyatakan waktu makan anoa sampai pukul 09.00, sedangkan sore mulai pukul 16.00. Di selang waktu itu anoa beristirahat dan memamah biak.

Agar anoa tetap lestari BP2LHK Manado mendirikan Anoa Breeding Center sebagai tempat konservasi anoa di luar habitat asli. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, meresmikan Anoa Breeding Center pada 5 Februari 2015. Menurut Kepala BP2LHK Manado, Muhammad Abidin, sasaran utama Anoa Breeding Center antara lain mengetahui cara perkembangbiakan anoa, pola makan, dan perilaku lainnya.

Setelah mengetahui biologi dan ekologi anoa, barulah dilakukan perbanyakan populasi anoa. Tujuan jangka panjang Anoa Breeding Center yakni mendomestikasi anoa menjadi satwa budidaya (Baca Mencegah Anoa Punah). “Rencana lainnya yakni melepasliarkan anoa ke habitat asli seperti di TNBNW,” kata Abidin. Ia menuturkan terdapat 12 petugas yang tergabung ke dalam Anoa Breeding Center termasuk Arin. Lima orang peneliti, empat teknisi, dan tiga penjaga anoa.

Full.pdfSupaya konservasi anoa berjalan lancar, Anoa Breeding Center bekerja sama dengan lembaga lain di dalam dan luar negeri. Instansi lain yang terlibat antara lain Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara; Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) dari Bogor, Jawa Barat; Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit-Forest and Climate Change (GIZ-FORCLIME) di Indonesia, PT Cargill Indonesia, Leipzig Zoo (Jerman), dan Tasikoki Wildlife Rescue Centre di Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Bentuk kerja sama antara lain pelatihan peningkatan kapasitas dan keahlian staf, pembangunan kandang baru, dan pengadaan jasa dokter hewan. Saat ini area penangkaran milik Anoa Breeding Center seluas 30 m x 40 m. Di lahan itu berisi enam kandang berukuran 10 m x 7 m. Setiap kandang berisi satu anoa. Arin dan tim melengkapi kandang dengan tempat berteduh dan susunan kayu yang tertancap di tengah kandang. Kayu yang tertancap itu tempat anoa menggosok tanduk.

Pemandu di Cagar Alam (CA) Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Irawan Halir, mengatakan anoa tidak ada lagi di Tangkoko.
Pemandu di Cagar Alam (CA) Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Irawan Halir, mengatakan anoa tidak ada lagi di Tangkoko.

“Itu salah satu perilaku khas anoa,” kata Arin. Di alam anoa menggosok tanduk pada batang dan akar pohon. Hasil penelitian Jahidin dari IPB juga mengungkapkan anoa menggosok tanduk setelah makan siang. Perilaku khas anoa lainnya yakni menjilat tanah atau batu untuk memenuhi kebutuhan mineral tertentu. Terdapat enam anoa di Anoa Breeding Center terdiri atas empat dewasa (1 jantan dan 3 betina) dan dua anakan (jantan dan betina). Semuanya termasuk anoa dataran rendah.

Hanya ada satu anoa yang belum jelas jenisnya karena ciri-ciri anoa dataran rendah dan tinggi ada pada hewan itu. Anoa-anoa itu hasil sitaan BKSDA Sulawesi Utara dari masyarakat sekitar. Ada satu anoa yang tengah hamil tua. “Kemungkinan anoa itu melahirkan pada akhir Juni 2016,” kata Arin. Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu mengatakan anoa bunting selama 10 bulan dan hanya melahirkan satu anak.

Rencananya pada 2018 Anoa Breeding Center memiliki kandang baru seluas 0,4 ha dan 0,6 ha. Di lahan seluas 0,4 ha berdiri delapan kandang berukuran masing-masing 13 m x 12 m sebagai kandang individu. Sementara hamparan seluas 0,6 ha sebagai kandang umbaran tempat anoa kawin. Semua pihak mesti terlibat aktif dalam penangkaran anoa. Mulai dari masyarakat hingga pejabat berwenang. Dengan begitu kelestarian anoa di alam dan penangkaran terwujud. (Riefza Vebriansyah)

Previous articlePereda Glaukoma
Next articleMencegah Anoa Punah
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img