Wednesday, August 10, 2022

Alam Dermawan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Manusia bisa sintas (survive) karena pemberian alam. Namun, ia baru hidup (live) kalau berhasil memberikan sesuatu kepada dunia. Sintas menyintas-sekadar hidup-membuat pertanian dan petani Indonesia menjadi subsisten, sekadar ada.

 

Hobiis dan filantropi di bidang pertanian, membuat tanaman dan ternak menjadi penting. Hidup menjadi berbudaya, karena dari agrikultur muncul kultur (kebudayaan) yang diperjuangkan setiap bangsa. Agrofilantropi berkembang pesat di Indonesia sejak awal 1990-an. Indikasinya ada satu pot anthurium dihargai Rp1- miliar. Harga seekor burung perkutut mencapai Rp200-juta.

Itulah tanda bahwa produk pertanian tidak hanya dilihat secara ekonomis. Harga ekonomis suatu benda (tanaman atau hewan) adalah harga semurah-murahnya. Contoh, seekor ikan koi, semurah-murahnya bisa ditawar Rp1.000 (seribu rupiah). Kalau mau silakan ambil uangnya. Kalau tidak mau, ya sudah, tidak usah dijual.

Harga estetis

Bukankah seekor ikan lele yang siap goreng dalam ukuran yang sama juga Rp1.000 per ekor? Itu jelas tidak adil dan kurang memperhatikan modal kerja, harga bibit, dan aspek perawatannya. Jadi, kalau mau menghormati hukum, aturan tenaga kerja, dan nilai barang, maka harga seekor koi Rp10.000. Itulah harga resmi menurut undang-undang.

Tingkat selanjutnya harga menurut estetika dan nilai-nilai artistik. Koi mempunyai keunikan. Itulah aspek harga yang dikaitkan dengan keindahan dan kelangkaan. Jadi, Rp10.000 jelas terlalu murah untuk seekor ikan yang unik dan langka. Pemilik dan peminatnya perlu sepakat untuk harga yang lebih tinggi, misalnya Rp100.000. Seratus ribu rupiah untuk seekor koi adalah harga estetis.

Itu harga tertinggi? Bukan, harga tertinggi bila terkait dengan nilai-nilai kasih di antara manusia dengan benda atau hal-hal yang dicintainya. Itulah harga yang terkait pada filantropi! Agrofilantropi di Indonesia berkembang sangat pesat. Seekor ikan koi yang secara ekonomis hanya seribu rupiah bisa menjadi Rp1-juta, bahkan lebih.

Pakar feng-sui terkemuka, Kang Hong Kian, membangun kolam indah sedalam 2 meter sepanjang 20 meter dan lebar 4 meter, untuk membuat ikan-ikan koinya berenang merdeka. Lalu harga seekor koi sepanjang 60-80 cm? Uang di seluruh negeri ini pun mungkin tidak cukup untuk membelinya.

Beras jagung

Indonesia bersyukur memiliki pencinta tanaman dan hewan yang hebat, penuh dedikasi, dan punya komitmen kuat. Pada saat yang sama, kita juga prihatin menyaksikan berjuta-juta petani miskin. Berapa banyak yang mengharap harga beras semurah-murahnya, dan tidak menghormati ubi, jagung, sagu, talas. Pada 1960-an, makan nasi-jagung adalah hal biasa. Saat terjadi krisis global 2008-2009, para pembantu rumahtangga mengira, beras jagung hanya pakan burung. Syukurlah, beras jagung masih banyak dicari karena keluarga-keluarga kaya memerlukannya untuk pakan burung.

Di Pejaten, Pasarminggu, Jakarta Selatan, ada satu keluarga minimal membeli 5 kg beras jagung untuk ratusan punai dan balam yang mampir di pekarangan. Salah satu contohnya adalah keluarga Ganda Kusuma. ‘Pada awalnya hanya belasan burung yang datang. Kalau dilakukan dengan tekun dan kasih sayang, selama 3 tahun, yang datang ratusan. Lebih dari 60 di antaranya tekukur,’ katanya.

Filantropi untuk pelestarian plasmanutfah sangat diperlukan. Berbagai jenis unggas, domba, dan kambing akan punah kalau tidak ada yang memperhatikan. Domba garut, misalnya, berkembang pesat sejak wisata adu domba dijadikan ajang dan puncak perayaan pesta ternak di Jawa Barat. Harganya berkisar Rp6-juta-Rp20- juta per ekor.

Contoh yang saya kenal adalah Rachmat Priatna di Desa Cimande. Ia mulai beternak 20 domba garut dan menjadi hampir 200 ekor dalam waktu 6 tahun (2002-2008). Domba-domba peliharaannya bersih dan sehat. Bobot seekor pejantan lebih dari 87 kg. ‘Kalau tidak dipelihara dengan bagus, domba tidak akan tumbuh sebesar ini,’ kata dia.

Penggemar ayam asli Indonesia juga mulai unjuk gigi. Ketua kelompok peternakan rakyat ayam kampung, Ade M. Zulkarnain, yakin cinta pada ayam terus berkembang. Di pekarangannya seluas 1.800 m2, diupayakan pembibitan ayam asli sampai 2.000 ekor. ‘Siapa bilang ayam kampung tidak bisa dikembangkan secara besar-besaran?’ katanya.

Indonesia memiliki 32 jenis ayam asli yang unik dan sangat berharga. Bukan hanya untuk tingkat kampung dan desa asalnya, tetapi juga untuk seluruh dunia. Agrofilantropis di dunia ayam asli sudah mengenal ayam pelung dan ayam cemani (serba hitam dengan harga berjuta-juta rupiah), ayam serama (superkecil), dan ayam kapas. Tanpa kecintaan, jangan harap anak-cucu kita pernah mengenal kekayaan dunia ayam itu.

Pembibitan & penelitian

Perbanyakan merupakan kunci untuk penyelamatan dan bisnis. Pencinta lingkungan sejati, bukan hanya berupaya melindungi, tapi juga memperindah, meningkatkan kualitas, dan kuantitas. Contoh paling andal di Indonesia ditunjukkan oleh Karen Sjarief Tambayong. Pebisnis daun untuk ekspor itu meyakini, optimalisasi adalah kunci untuk memperindah Indonesia dan menyejahterakan rakyat.

Alih-alih mengikuti tren yang sedang berlangsung, Karen lebih suka menemukan dan mengembangkan tren baru. ‘Kalau orang sudah sibuk menggarap tanaman tertentu, janganlah kita ikut-ikutan. Sebaiknya kita cari hal-hal yang belum diperhatikan,’ kata Karen. Caranya jika berjalan di pematang sawah, menyusur sungai, atau masuk hutan, ia perhatikan tumbuhan yang jarang ditemui. Pakis, tanaman berbiji, bahkan bayam-bayam berbunga bisa dikembangkan menjadi bagus, layak untuk ekspor.

Pembibitan memang kunci untuk penyelamatan dan pemasyarakatan plasma nutfah. Kita sering bangga dengan memiliki satwa atau tanaman langka yang tidak ada duanya di dunia. Itulah filosofi penyelamatan keaneka-ragaman hayati di Indonesia. Kota-kota besar dan kecil perlu memiliki wahana pembibitan, termasuk untuk buah-buah langka. Penelitian sudah banyak dilakukan, sedangkan perbanyakan dan pengembangannya belum.

Para filantropis pertanian tidak hanya perlu memborong lahan untuk menanam buah-buah langka seluas-luasnya, tapi juga membuat peneliti dan hasil-hasil penelitian berdaya guna. Sayang kekayaan dan kemurahan berderma baru sebatas untuk memuaskan hobi dan kesenangan sendiri.

Dunia memerlukan kontribusi di bidang pengembangan alat-alat pertanian, pembibitan, pelestarian benih, dan pengembangan penelitian. Boleh yang mengarah pada agribisnis dan agroindustri. Dalam pemahaman negara tentang filantropi yang diberi insentif pajak baru terbatas pada: bencana alam, olahraga, kesehatan, pendidikan, dan macam-macam amal jariah terkait agama. Belum ada klausul apalagi anjuran agar masyarakat ikut menyumbang untuk pengembangan pertanian dan peternakan.

Padahal, pengembangan filantropi untuk dunia pertanian, justru seharusnya merupakan hal pokok. Sebab dunia tanaman dan ternak terkait langsung pada ketahanan pangan dan berlanjutnya kehidupan. Tantangan itu terbuka untuk para pencinta lingkungan. Bagi yang telah menjalankan perlu mendapat pengakuan, penghargaan, bahkan insentif pemotongan pajak. Kita hanya sekadar sintas kalau suka menerima. Namun, kita akan berjaya kalau suka memberi. Majulah agrofilantropi di Indonesia tercinta. ***

Eka Budianta, Budayawan, pengelola Jababeka Botanic Gardens dan Multicultural Centre di Cikarang Baru, Jawa Barat. Kolumnis Trubus sejak 2001.

Previous articleDaun Ungu
Next articleAglaonema Terbaik Indonesia
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img