Tuesday, July 23, 2024

Alfamart Jakarta Lou Han Competition & Expo 2005 Jawara Cinhua Gebuk Kemalau

Rekomendasi
- Advertisement -

Mereka serius dan tegang mengamati calon grand champion: jawara cinhua B, kemalau, dan cinhua A. Secara bergantian mereka berdiri di depan akuarium CHWB 178 menelisik kelengkapan ikan. “Sepakat ikan ini grand champion. Tingkat kerusakan dan cacat paling sedikit,” ujar E.endy sambil menunjuk jawara cinhua B.

Keputusan itu diiringi tepuk tangan para hobiis lou han. Bukan apa-apa, mereka yang memadati lantai 2, Plaza Maspion, Jakarta Utara, meramal gelar terhormat akan jatuh ke tangan kemalau. “Kemalau memang bagus. Warna dan mutiaranya top. Namun, ekornya ada yang patah. Itu sangat fatal,” kata Sekjen Perhimpunan Pecinta Lou han Indonesia (P2LI) itu.

Wajar bila andalan Rennes Harjono asal Makassar Team itu menyandang gelar terbaik. Ia tampil mengungguli kemalau. “Ikan itu komplit. Mulai dari marking hingga ukuran kepala, tubuh, dan ekor sangat proporsional,” kata Phangramlie, juri dari P2LI. Menurut Acin—demikian ia dikenal—sang juara tampil memukau sejak penjurian dimulai. Ia meliuk lincah memamerkan nongnong jumbo, bulat, dan kencang. Selain itu, tubuhnya berbentuk kotak dan gradasi warna bagus mendongkrak nilai sirip ekor dan mutiara yang kurang.

Perang bintang

Semua keistimewaan itu mampu menutupi kesalahan dan kekurangan ikan. Saat kontes, para juri sepakat untuk mencari dan menilai kesalahan terkecil pada ikan. Pasalnya, semua kontestan memiliki kualitas merata. “Ikan yang memiliki kekurangan paling sedikit, dia yang menang,” ujar E.endy mantap. Lantaran cacat pada kampiun cinhua B paling sedikit, gelar grand champion pun digenggam.

Namun, perjalanan sukses cinhua B itu terbilang berat. Demi meraih gelar terhormat ia harus bertarung melawan 11 pesaing lain dari Makassar, Jakarta, Solo, Semarang, dan Yogyakarta di kelas cinhua ukuran 16—22 cm. Di sana, ia beradu molek dengan cinhua andalan William asal Jakarta, pesaing terberat. Menurut Acin penghuni akuarium CHWB 107 tampil prima. Sayang, ia belum mampu mengalahkan marking sang jawara yang penuh dari ekor hingga kepala.

Perjuangan terus berlanjut. Di tangga perebutan gelar terhormat, para kampiun dari setiap kategori, kecuali bonsai dan freehead, telah siap menjegal. Buktinya, jawara kemalau, cinhua A, dan cencu A saling menyodok dalam perolehan nilai. Mereka tampil percaya diri lantaran jam terbang terbilang luar biasa.

Jawara kemalau, misalnya, peraih gelar grand champion di putaran ke-3 Liga Alfamart di Makassar Juli 2005. Pun cinhua A menjadi langganan jawara di setiap kontes. “Persaingan grand champion sangat sengit. Masing-masing ikan tampil ngeform dan prima. Tinggal cari yang mendekati sempurna dan cacat paling sedikit,” ujar E.endy. Jawara kemalau tampil memukau dengan gradasi warna yang wah. Mutiara pasir yang shining menyedot perhatian pengunjung dan juri. Sayang, cacat pada ekor membuat nilai drop. Tak pelak, ia pun tereliminasi bersama kampiun cencu A lantaran marking, tubuh, dan .n tail kurang memikat.

Klasik ketat

Persaingan di kelas cinhua klasik pun mendapat perhatian ekstra para juri. Maklum, 26 peserta kontes yang berasal dari berbagai kota itu tampil di atas rata-rata. “Sejak babak 10 besar persaingan di kelas cinhua klasik ketat. Nilai mereka mepetmepet,” kata Acin.

Di kelas neraka itu, cinhua klasik andalan Yohannes asal Bandung menjadi terbaik. Ia tampil memukau dengan memamerkan kepala dan nongnong jumbo. Penghuni akuarium CHWK 168 itu berwajah monyet dan tubuh proporsional. “Markingnya memang minim, tetapi penilaian kepala mampu menutup kekurangan,” ucap juri berkacamata itu.

Dengan segala kelebihan itu ia mengempaskan cinhua klasik jagoan William, rival terberatnya. Tampil dengan marking yang apik ikan berajah asal Jakarta itu sebenarnya mampu menyalip perolehan angka sang jawara. Sayang, tubuh kurang prima dan kepala tidak showy membuat penampilan pun kurang greget. Ia harus rela melepaskan gelar kampiun.

Kelas bonsai pun menyedot waktu dan pikiran para juri. “Saya tidak menyangka kelas bonsai memiliki kualitas bagus. Saya cukup kerepotan memilih juara pertama,” kata E. endy. Pasalnya, persaingan untuk merebut gelar tidak hanya melihat bentuk tubuh yang bulat khas bonsai, tetapi marking, mutiara, dan warna turut diperhitungkan.

Di kelas tak diunggulkan itu 21 ikan beradu cantik meraih gelar terbaik. Bonsai andalan Boen Yauw dari Jakarta, tampil sebagai juara. Penghuni akuarium BON 083 itu tampil lincah, prima, dan bertenaga. Ia kian mencorong lantaran marking dan mutiara pun mentereng.

Meriah

Kontes bertajuk Alfamart Jakarta Lou Han Competition & Expo 2005 itu berlangsung meriah dan sukses. Setidaknya 190—200 peserta berlomba di 11 kategori. “Putaran ke 4 Liga Alfamart ini lebih ramai. Kebanyakan yang datang hobiis. Malah ada hobiis dari Malaysia datang untuk melihat kualitas ikan,” ujar Soerianto Kusnowirjono, ketua panitia. Menurut pemilik Pesona Lou Han itu tren lou han kian meningkat berkat kontes yang semakin semarak.

Kontes Liga Alfamart memang selalu menyuguhkan pertandingan yang menarik. Tak hanya mengangkat pamor pribadi, kemenangan juga mendongkrak poin dan nama tim dalam perebutan gelar juara umum. Liga Alfamart putaran ke-4 itu memberikan nilai tertinggi sekaligus juara umum pada ILC yakni 1.295. Tim lain seperti Java Team (1.265); Makassar Team (1.190); dan ILM=325. Sedangkan klasemen sementara Liga Alfamart dipimpin oleh ILC dengan 400 lalu disusul Java Team (325); ILM (240); dan Makassar Team (150). (Rahmansyah Dermawan/Peliput: Imam Wiguna)

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img