Thursday, December 8, 2022

Alga Jadi Bensin

Rekomendasi

Untuk menghasilkan seliter bioetanol berkadar 99%, Sulfahri hanya memerlukan 0,67 kg alga.

Sulfahri memanfaatkan alga Spirogyra sp untuk membuat bioetanol karena relatif mudah memperoleh mahkluk mini itu. Alasan lain spirogyra istimewa karena, “Kandungan karbohidrat mencapai 64%,” kata Sulfahri. Itu hampir 3 kali lipat karbohidrat singkong, yang rata-rata cuma 25%.

Itulah yang membuat spirogyra menjadi bahan baku bioetanol potensial. Harap mafhum spirogyra memang tidak dapat dikonsumsi sehingga tak terjadi kompetisi dengan kebutuhan pangan. “Pemanfaatan bahan pangan untuk bioetanol bakal berdampak serius terhadap ketersediaan pangan,” kata Dr Ir Supriyanto, periset bioetanol di Pusat Biologi Tropik Wilayah Asean (SEAMEO Biotrop), di Bogor, Jawa Barat.

Kaya karbohidrat

Menurut Prof I Nyoman Kabinawa, periset alga di Pusat Penelitian Bioteknologi, alga yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi cocok untuk bioetanol. “Minimal mengandung 25% karbohidrat,” kata Kabinawa. Sejatinya lemak bisa diolah menjadi biodiesel, tapi kandungannya paling tidak 30%. spirogyra menyimpan karbohidrat sebanyak 33-64% dan 11-21% lemak sehingga cocok sebagai bahan baku bioetanol.

Menurut Sulfahri, jenis karbohidrat dalam spirogyra adalah amilum alias zat tepung. Zat tepung tergolong polimer alam dengan ukuran molekul besar yang tersusun oleh monomer glikosida. ”Sel tidak mampu memanfaatkan amilum secara langsung,” kata Sulfahri. Itu sebabnya ia menambahkan 0,12% enzim alfa-amilase untuk menguraikan ikatan polimer amilum menjadi gula berbentuk glukosa, maltosa, dan dekstrin.

Ketiga bahan itulah yang nantinya menjadi bioetanol. “Semakin banyak gula yang dapat dimanfaatkan sel, semakin tinggi pula kadar etanol yang dihasilkan,” tutur alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu. Maklum, glukosa dan maltosa adalah sumber energi bagi bakteri penghasil etanol. Bakteri itu mengubah glukosa dan maltosa menjadi etanol dalam kondisi tertutup tanpa udara melalui proses fermentasi sehingga dijuluki bakteri fermentor.

Fermentasi tergolong proses biologis yang melibatkan bakteri hidup sehingga etanol yang dihasilkan disebut bioetanol. Produsen sejatinya bisa membuat etanol dengan proses fisika atau hidrasi. Industri alkohol untuk farmasi maupun kosmetik membuat etanol dengan cara itu lantaran prosesnya jauh lebih cepat dan efisien. Pada riset ilmiah itu, Sulfahri memanfaatkan spirogyra dari lahan kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur.

Menurut Kabinawa, spirogyra lazim dijumpai di kolam air tawar yang tergenang serta tinggi kandungan nitrogen dan fosfor. Itu sebabnya makhluk super mini itu mudah diperoleh. Sulfahri lalu mengoven alga hijau basah itu hingga berkadar air maksimal 5%, memblender, lalu menambahkan air suling sebanyak 15 kali bobot alga kering. “Hasil itu yang nantinya digunakan untuk hidrolisis, pembuatan starter, dan fermentasi,” tutur Sulfahri.

Chlorella

Pada riset yang dibiayai oleh Beasiswa Unggulan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sulfahri menambahkan 10% kapang Saccharomyces cerevisiae sebagai bakteri fermentor. Selang 10 hari, larutan itu pun mengandung 9,245% etanol. Ia lantas menyaring dan menyuling larutan itu sampai memperoleh bioetanol berkadar 99%. Hasilnya, untuk memperoleh seliter bioetanol berkadar 99% alias fuel grade ia memerlukan 0,67 kg spirogyra kering atau setara 6-7 kg segar.

Bioetanol dari makhluk air bukan barang baru. Pada 2008, Ir Mujizat Kawaroe MSc di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, juga meriset alga untuk membuat bioetanol. Bedanya, Mujizat menggunakan ganggang hijau biru dari jenis Chlorella (baca: Makhluk Mini Pengisi Tangki, Trubus Maret 2008). Chlorella berkadar karbohidrat 29-31% lebih laku sebagai pangan fungsional ketimbang bahan bakar. Ia berhasil membuktikan bahwa bioetanol dari alga menjadi solusi potensial kebutuhan bahan bakar.

Menurut Ir Sri Nurhatika MP, peneliti di jurusan Biologi institut Teknologi Sepuluh Nopember, tingginya rendemen bioetanol menjadikan spirogyra berpeluang besar dikembangkan. “Bandingkan dengan singkong yang perlu 6,5 kg, jagung 5,5 kg atau sagu yang butuh 5 kg untuk menghasilkan seliter bioetanol,” kata Nurhatika. Riset itu mengantarkan Sulfahri meraih sarjana dari jurusan Biologi ITS pada 2011. (Bondan Setyawan/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

 

Keterangan Foto :

  1. Bioetanol 99% potensial pengganti bahan bakar minyak
  2. Spirogyra mengandung karbohidrat hingga 64%
  3. Alga hidup di tempat yang memiliki cukup sinar matahari, air, dan karbondioksida
  4. “Spirogyra efektif sebagai bioetanol,” kata Sri
  5. Nurhatika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img