Monday, November 28, 2022

Alpukat Pati Tambang Emas di Lereng Timur Muria

Rekomendasi

Tak ada yang menduga wilayah Pati di sisi timur Gunung Muria menyimpan alpukat andal. Sukir yang sejatinya kelahiran Pati dan kerap berniaga buah-buahan baru mendengar keberadaan anggota famili Lauraceae itu dari Tatang-sapaan Suparman Halim-pada awal 2007.

Kabar dari Jakarta itu membuka mata guru Sekolah Dasar itu untuk menelusuri keberadaan aguacate-sebutan alpukat di Spanyol. Hasil pelacakannya, alpukat yang disebut-sebut Suparman ada di daerah bernama Jolong. ‘Saya kaget luar biasa, ternyata masih di Kecamatan Gembong, tempat saya tinggal,’ ujar pria 44 tahun itu.

Trubus yang datang langsung ke lokasi kebun pada penghujung Februari beruntung mendapatkan buahnya. Maklum alpukat tengah musim raya. Di Pati, kerabat kayu manis itu dipanen pada Januari-Februari dan April-September.

Kering

Kulit buah mulus mengkilap. Bila digoyang-goyang terdengar suara koclak dari dalam-mirip alpukat dari Lembang, Jawa Barat. Itu karena benturan antara biji dan daging yang kering. Bunyi koclak tak bakal terdengar kalau daging buah lembek dan benyek.

Benar saja, saat buah dibelah terlihat daging hijau kekuningan yang kering. Rasanya legit dan pulen. ‘Legitnya tidak kalah dibanding alpukat probolinggo,’ tutur Tatang. Yang disebut terakhir avocado yang kerap ditemukan di toko-toko buah di kota besar. Alpukat disebut legit jika rasanya enak meski tanpa gula tambahan.

Drs Jawal Anwaruddin Syah, MS, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok, menyebut daging buah legit, pulen, kering, dan lembut sebagai kriteria alpukat enak. Warna daging menarik dan kulit mulus seperti yang dimiliki alpukat pati jadi nilai plus.

Kalah pamor

Ironisnya alpukat pati justru asing buat sebagian besar warga kota pantai itu. ‘Saya baru tahu alpukat pati disukai konsumen Jakarta setelah Pak Tatang minta dikirim,’ ujar Sukir. Di daerah asal, alpukat pati kalah pamor dari saudaranya asal Kudus. Di pasar, alpukat berbentuk lonjong dan panjang itu diperkenalkan sebagai yang terenak dari kaki Gunung Muria.

Sosok alpukat asal kudus itu memang memikat dalam sekali pandang. Ukuran besar dengan bobot 1,2 kg per buah. Alpukat lain rata-rata berbobot 300-500 g. ‘Karena sosoknya seperti lonceng, bagian buah yang dapat dimakan lebih banyak. Biji hanya ada di tengah, bagian pangkal buah 90% berisi daging,’ kata Prakoso Heryono, penangkar di Demak yang mempopulerkan alpukat jumbo kudus. Pantas konsumen lebih menyukainya. (baca: Superjumbo Warisan Wali, Trubus Agustus 2003).

Di pasar, harganya pun lebih mahal ketimbang jenis lain. Alpukat pati hanya dihargai Rp1.500 per kg pada musim hujan; kemarau, Rp4.000-Rp5.000 per kg. Alpukat jumbo kudus dibandrol 2 kali lipat. Makanya banyak pekebun yang beralih mengembangkan si jumbo.

Tak terurus

Di sentra alpukat Dukuh Jimat, Desa Klakah Kasian, Kecamatan Gembong, Pati, Trubus melihat ribuan pohon alpukat di sela-sela kebun kopi dan jeruk besar. Menurut Jasri, pengepul di sana, pohon berumur 10-15 tahun itu kebanyakan ditanam dari biji. Bijinya diambil dari Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus-sentra alpukat jumbo lonjong. Populasi alpukat bulat terus merosot karena buahnya tidak laku.

Toh Trubus masih menemukan buah seukuran bola kasti berbentuk bulat. Ir Arry Suprianto, MS, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Subtropika Tlekung, menuturkan variasi seperti itu lazim terjadi secara alamiah di daerah sentra. ‘Pada alpukat, persilangan antarvarietas-yang bentuknya berbeda-beda-sangat terbuka luas,’ kata Arry.

Alpukat yang tumbuh di ketinggian 450-500 m dpl itu tidak pernah dirawat. Padahal, dari sanalah alpukat pati yang disebut Tatang berasal. (Destika Cahyana/Peliput: A Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img