Sunday, August 14, 2022

Amarilis Mahkota Tumpuk

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Amarilis koleksi Ricky Hadimulya itu begitu istimewa karena bermahkota tumpuk.

Di mana ada amarilis mahkota tumpuk?” ujar Dr Ir Liauw Lia Sanjaya MS, pemulia lili di Balai Penelitian Tanaman Hias di Cianjur, Provinsi Jawa Barat, kepada Trubus. Informasi kehadiran amarilis petal tumpuk di tanahair rupanya membuat Lia penasaran. Maklum, hingga saat ini ia belum pernah melihat amarilis yang memiliki mahkota lebih dari satu lapis.

Doktor Pemulia Tanaman alumnus Institut Pertanian Bogor itu mengungkapkan, “Di luar negeri amarilis mahkota tumpuk sudah ada sejak 3-4 tahun silam. Kalau di tanahair ini jenis baru.” Trubus pernah melihat amarilis petal tumpuk dipamerkan di Hortpark Singapura pada 2008. Kabar gembira kehadiran amarilis petal tumpuk di tanahair datang dari Ricky Hadimulya. Saat Trubus berkunjung ke kebunnya di Ciseeng, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada akhir Oktober 2012, beberapa varian tanaman anggota famili Amarillidaceae itu tengah berbunga.

Aneka varian

Penampilan amarilis berpetal tumpuk itu begitu cantik karena terdiri atas 2-3 lapis mahkota yang tersusun menumpuk dan roset. Lazimnya amarilis hanya terdiri atas selapis mahkota. Saat itu di kebun Ricky terdapat empat varian warna. Ada amarilis berbunga putih dengan tiga lapis mahkota. Penampilan bunga itu kian menarik karena terdapat semburat merah dari bagian tengah. Bagian tepi mahkota yang bergelombang menambah keelokan tanaman yang namanya dalam bahasa Yunani berarti berkilau-kilau.

Varian lain yang tak kalah cantik adalah amarilis petal tumpuk berbunga putih dengan kelir dan semburat berwarna merah dari bagian tepi mahkota. Bunga itu memiliki tiga lapis mahkota. Ada lagi varian yang bunganya putih dengan warna kuning lemon pada pangkal petal.

Di kebun Ricky juga ada varian amarilis petal tumpuk berwarna merah yang terdiri atas 3 lapis mahkota. Yang menawan pada bagian petal terdapat guratan berwarna putih. Sayang, Ricky belum memberi nama seluruh amarilis koleksinya itu. Dengan penampilan yang istimewa itu pantas bila Ricky rela memboyong 30 umbi amarilis petal tumpuk dari sebuah nurseri di Hongkong, meski harganya relatif mahal. Pemilik nurseri di sana membanderol harga Rp300.000 per umbi.

Begitu tiba di tanahair, Ricky memperbanyak amarilis dengan membelah umbi menjadi 8 bagian. “Jumlah belahan tergantung ukuran umbi,” ujarnya. Kedalaman belahan hingga sepertiga dari pangkal umbi. Setelah itu ia menyimpan umbi di tempat kering dalam suhu ruang hingga sepekan. Sepekan berselang, Ricky membenamkan umbi dengan posisi terbalik hingga setengah bagian umbi dalam media tanam berupa campuran serbuk sabut kelapa dan sekam bakar dengan perbandingan sama.

Sebulan kemudian dari sela-sela belahan umbi muncul tunas-tunas baru. “Jumlah tunas yang muncul tergantung jumlah belahan,” kata Ricky. Tunas-tunas itu nantinya berkembang menjadi anakan. Setelah tunas tumbuh daun, ia memisahkan anakan ke dalam pot. Perbanyakan berikutnya dapat dilakukan setelah tanaman berbunga dan bunganya layu. Dalam kurun 3-4 tahun, kini Ricky memiliki sekitar 1.000 tanaman yang siap dilepas ke pasaran.

Beradaptasi

Menurut pekebun yang juga mantan peneliti tanaman hias di Jakarta, Benny Tjia, PhD, amarilis petal tumpuk kemungkinan lahir dari hasil persilangan 2 jenis amarilis bermahkota tunggal. Dari persilangan itu menghasilkan 50% keturunan bermahkota tunggal dan 50% lainnya bermahkota tumpuk. Hasil silangan yang bermahkota tumpuk itu kemudian dipertahankan kestabilan genetiknya, lalu menyilangkannya dengan sesama bermahkota tumpuk untuk menghasilkan variasi warna.

Menurut Lia, amarilis petal tumpuk itu kemungkinan lahir dari persilangan interspesifik, yakni persilangan dua spesies berbeda, tapi masih dalam satu famili. Misalnya amarilis dengan vallota. Dalam persilangan interspesifik biasanya terjadi pembelahan meiosis tidak normal. Pada pembelahan meiosis normal terjadi pengurangan set kromosom menjadi setengah dari set kromosom induk. Misalnya tanaman dipolid 2N berubah menjadi N. Pada pembelahan meiosis abnormal reduksi set kromosom tidak terjadi sehingga gamet yang terbentuk tetap 2N atau lebih.

Pada pembelahan pertama gamet 2N yang terbentuk bersifat heterosigus atau menghasilkan gamet berbeda. Adapun pada pembelahan kedua gamet 2N yang terbentuk bersifat homosigus (menghasilkan gamet yang sama). Persilangan antara tetua diploid yang membawa gamet 2N heterosigus menghasilkan turunan-turunan triploid dan tetraploid yang biasanya bersifat unik.

Pada kasus amarilis, maka keturunan poliploid itu menghasilkan mahkota tumpuk. Hasil persilangan berupa mahkota tumpuk itu kemudian dipertahankan hingga stabil. “Setelah itu baru dilakukan persilangan-persilangan untuk menghasilkan variasi warna,” kata Lia. Menurut Ricky, meski amarilis mahkota tumpuk itu merupakan hasil introduksi, tapi sudah beradaptasi di tanahair. Oleh karena itu perawatannya pun mudah, sama dengan amarilis bermahkota tunggal.

“Saya jarang memberi pupuk,” ujarnya. Ia hanya melakukan penyiraman sekali sehari saat tanaman sedang tidak berbunga. Bila sedang berbunga penyiraman menjadi dua kali sehari. Namun, hindari penyiraman terlalu banyak. Media tanam yang terlalu lembap dapat membuat umbi jadi busuk. (Pressi Hapsari Fadlilah)

Keterangan Foto :

  1. Varian amarilis putih bersemburat merah dan petal bergelombang
  2. Varian putih dengan tepi mahkota warna merah
  3. Varian amarilis merah dengan guratan putih
  4. Amarilis petal tumpuk di Hortpark Singapura pada 2008
  5. Varian bunga putih dengan pangkal petal kuning lemon
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img