Wednesday, August 17, 2022

Ambisi Ambico Olah Porang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kini Ambico yang didirikan oleh mendiang M Ishii-setelah menjadi WNI berubah nama menjadi Mohamad Amin- pada 1962 menjadi salah satu eksportir porang terbesar. Menurut Yanto Sudjatmiko-anak Mohamad Amin-yang kini mengelola Ambico, setiap tahun perusahaannya mengolah 2.000 ton porang dan iles-iles. Porang Amorphophallus onchophyllus dan iles-iles A. muelleriblume masih sekerabat. Keduanya anggota famili Araceae.

Umbi itu diolah menjadi 3 produk turunan: shirataki kering, shirataki basah, dan konyaku. Yang disebut pertama persis mi; konyaku seperti tahu. Untuk membuat penganan itu, umbi porang dan iles-iles dicuci bersih dan diiris tipis-tipis sekitar 0,5 cm. Setelah kering ketebalannya menjadi hanya 0,2 cm dibikin tepung yang disebut glukomanan.

Berbagai industri seperti kosmetik, kedokteran, dan cat membutuhkan glukomanan. Namun, Ambico hanya memanfaatkannya sebagai bahan baku shirataki dan konyaku. Semula Ambico mengekspor shirataki basah. Mi itu dikemas bersama air sehingga mudah tumpah. Oleh karena itu pendiri perusahaan, Mohamad Amin, belajar membuat mi kering. Pria asal Hokaido, Jepang, itu menghabiskan waktu 3 tahun untuk belajar membuat mi kering. Sebab, setelah jadi mi kering dan direndam, mi gagal mengembang.

Harga stabil

Shirataki dan konyaku menjadi mata dagangan ke Jepang dan Eropa. Pada perkembangan berikutnya, Ambico juga memodifi kasi shirataki dengan mencampurkan cabai dan wortel. Sementara konyaku dicampur nasi hingga 20%. Rasanya enak, mengenyangkan, tapi tak membuat gemuk. ‘Keistimewaan shirataki dan konyaku mengandung serat dan berkalori tinggi,’ ujar Johan Sudjatmiko, cucu Mohamad Amin.

Sayang, Yanto menolak memberikan total volume ekspor. Sebagai gambaran, pada 2001 perusahaan di Surabaya itu mengekspor 2-3 kali sepekan dengan volume rata-rata 2-3 ton sekali pengiriman. Ketimbang satu dasawarsa sebelumnya, volume itu memang menurun. Pada 1990 Ambico mengekspor 3-5 ton per hari. Malahan ketika itu permintaan dari Taiwan dan Korea terpaksa ditolak lantaran kesulitan bahan baku.

Menurut Yanto harga jual shirataki dan konyaku cenderung stabil atau naik sedikit demi sedikit. Alumnus Waseda University itu enggan membeberkan perkembangan harga setahun terakhir. Lima tahun silam harga ekspor mencapai Y3.500 setara Rp280.000 per boks isi 12 kg untuk shirataki kering dan konyaku.

Selain mengekspor, Ambico yang kini mempekerjakan 300 karyawan juga menjual shirataki dan konyaku di pasar domestik. Menurut Yanto, pangsa pasar lokal kurang dari 10%. Konsumennya adalah ekspatriat dan perusahaan Jepang di Jawa Timur, Jakarta, dan Bali. Menurut catatan Trubus, pada 2001 harga shirataki kering Rp480.000 per boks isi 12 kg; konyaku, Rp25.000 per boks terdiri atas 20 pak masing-masing 200 g.

Dikeringkan

Kesinambungan produksi dapat terjaga lantaran perusahaan itu menjalin kerja sama dengan 10 pengepul. Dari merekalah pasokan bahan baku terjamin. Para pengepul mengumpulkan kerabat talas itu di sentra-sentra seperti Blitar, Banyuwangi, Jember, dan Nganjuk-semua di Provinsi Jawa Timur. Hampir separuh dari total pasokan merupakan hasil perburuan di hutan-hutan.

Standar mutu yang diharapkan adalah bobot umbi 1-2 kg dan diameter 15 cm. Menurut Yanto masih ada saja pekebun yang memasok umbi kurang dari 1 kg. Padahal, ‘Semakin kecil umbi, kadar glukomanan juga kecil bahkan bisa tanpa glukomanan,’ katanya. Ambico menerima pasokan pascamusim hujan sekitar April-Juli. Alasannya, pertumbuhan umbi pada musim hujan cukup maksimal. Selain itu memanen porang dan iles-iles pada kemarau relatif sulit lantaran tanaman ‘menghilang’. Umbi tanaman kembali bertunas saat musim hujan tiba.

Selama 4 bulan itu, hampir setiap hari pasokan mengalir ke Ambico. Menurut Hendro P, hubungan masyarakat PT Ambico, volume pasokan 12-18 ton per hari. Harga beli saat ini Rp1.100/ kg. Menurut catatan Trubus, harga beli porang dan iles-iles cenderung naik. Pada 2000, misalnya, Ambico membeli iles-iles Rp600-Rp650/kg; 1990, Rp50-Rp60/kg. Ambico sempat menjalin kemitraan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan.

Ambico menyediakan bibit dan menerima seluruh hasil panen. Namun, sejak 2001 jalinan kerja sama itu mandek lantaran pengaruh iklim. Di luar musim panen, meski tak ada pasokan umbi segar Ambico tetap memproduksi shirataki dan konyaku. Pasokan selama April-Juli itu dikeringkan dalam bentuk keripik. Ketika pasokan ubi segar kosong, Ambico mengolah keripik itu sebagai bahan baku shirataki dan konyaku.

Ditolak

Perjalanan Ambico selama seperempat abad bukan tanpa hambatan. Memenuhi produk dengan standar mutu yang dikehendaki konsumen sebuah kendala. Sudah menjadi rahasia umum, pasar Jepang amat ketat ketika meminta sesuatu. ‘Konsumen Jepang sangat ketat. Mereka minta satu bulatan dry shirataki berbobot 25 gram. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang. Ini jadi kendala karena berpengaruh terhadap lama pengukusan dan pengovenan,’ ujar Mohamad Amin suatu ketika.

Namun, dengan disiplin tinggi Ambico tetap mampu melayani permintaan itu. Pada awal ekspor, produk Ambico pernah ditolak Jepang. Negeri Hino Maru membuat kebijakan baru: jual beli hanya melalui perusahaan negara. Harga beli Jepang jauh lebih murah jika melalui perusahaan negara. Ambico yang memasarkan iles-iles dan porang ke Jepang sejak 1963 itu lantas membuka negosiasi hingga akhirnya ekspor dapat dilanjutkan.

Hingga kini 25 tahun berselang, Ambico masih berambisi mengolah iles-iles dan porang. (Sardi Duryatmo/Peliput: Evy Syariefa Firstantinovi & Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img