Tuesday, November 29, 2022

Ampuh Kolostrum Atasi Stroke

Rekomendasi

Ia berhenti dan terperanjat mendapati kakaknya, Rahadi, yang ia bonceng terkulai lemas. Di bawah mentari yang memanggang itu Suyatno bergegas membawa kakaknya ke Puskesmas Pagerbarang.

 

Suyatno menduga Rahadi pusing lantaran terpanggang matahari. Benar? Diagnosis dokter mengagetkan pria berusia 52 tahun itu. Rahadi terserang stroke dan harus dirawat inap. Tiga malam dilaluinya di atas pembaringan. Tak ada kesembuhan berarti. Malahan pria kelahiran Tegal itu tak dapat menggerakkan tangan dan kaki kanan.

Melihat kondisi pasien memburuk, dokter Puskemas segera merujuk ke dokter spesialis saraf di RS Kartina, Tegal. Lagi-lagi ia mesti dirawat inap untuk menjalani terapi. Haparan kesembuhan juga disandarkan pada beragam obat seperti plaviks, crestor, dan prexum.

Menurut Dr Satya Hanura, SpS, ahli penyakit saraf Rumah Sakit Jakarta, faktor utama penyebab stroke adalah hipertensi. Hipertensi bepengaruh langsung terhadap proses fisiologi peredaran darah dalam otak. Akibatnya, timbul gangguan aliran darah menuju otak sehingga menyebabkan stroke dan atrofi otak alias pengerutan atau penciutan otak. Pada beberapa kasus, atrofi menyebabkan koma.

Hipertensi dipicu kadar kolesterol dalam darah yang tinggi. Kolesterol menyebabkan pembuluh darah tersumbat oleh tumpukan lemak. Jadi, kolesterol menjadi faktor pemicu sekunder. Kolesterol bersumber dari makanan berlemak. Kebiasaan mengkonsumsi makanan berlemak itulah yang mengantarkan Rahadi ke meja dokter. Sebelum vonis stroke diketukkan, memang tak satu pun makanan yang dipantang. Padahal usianya 52 tahun.

Hasrat Rahadi menjalani terapi hingga sembuh terpaksa urung lantaran terganjal biaya. Baru dua hari dirawat inap, ia meminta izin pulang. Pria kelahiran 16 Mei 1954 itu berharap terapi dapat berlanjut dengan berobat jalan. Dokter pun menyetujui. Sebelum pulang, ia dibekali resep dokter yang harus ditebus bila obat habis.

Kolostrum

Resep demi resep ia tebus. Namun, derita lumpuh pada tangan dan kaki kanan tak kunjung sembuh. Putrinya yang tinggal di Jakarta tak kuasa menahan hati menyaksikan sang ayah yang terus-menerus terkapar di pembaringan. Keluhannya itu ia sampaikan pada atasan ketika hendak menjenguk sang ayah.

Pada November 2006, atasannya itu menawarkan kolostrum yang dapat membantu menyembuhkan stroke. Kabar gembira itu ia sampaikan pada ayahnya di Tegal. Bentuknya mirip susu bubuk, katanya. Sejak itulah Rahadi rutin mengkonsumsi kolostrum sekali sehari menjelang tidur. Caranya, 1 sachet kolostrum isi 20 g dilarutkan dalam segelas air.

Sepekan mengkonsumsi kolostrum, kesembuhan Rahadi mulai tampak. Tangan kanan yang semula lumpuh dan mati rasa dapat digerakkan. Kaki kanan pun sedikit-demi sedikit bisa melangkah. Meski tertatih-tatih, ia tak pernah lagi dibopong bila hendak ke peturasan.

Menurut dr Dripa Sjabana MKes, dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, kolostrum mengandung insulin-like growth factor (IgF)-faktor pertumbuhan mirip insulin-1 dan 2. Perannya menjaga kestabilan kadar kolesterol normal dalam darah. Salah satu jenis faktor pertumbuhan itu juga berperan membantu pemulihan pasien pascaserangan stroke iskemik. Peran itu dibuktikan secara klinis oleh Marta Bondanelli, dari bagian Endokrinologi Departemen Ilmu Biomedis dan Terapi Lanjutan University of Ferrara, Italia.

Marta meriset pada 1 Januari 2005-31 Desember 2005 di Bagian Rehabilitasi St. Anna’s Hospital of Ferrara, Italia. Tim dokter itu memberikan terapi IgF untuk 42 pasien berusia 50-88 tahun yang menjalani rehabilitasi pascastroke. Indikasi kesembuhan dinilai berdasarkan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS)-untuk mengukur tingkat keparahan, Ranchos Los Amigos Scale of Cognitive Functioning (LCFS)-untuk mengukur fungsi kognitif pascaterapi, dan Functional Independence Measure (FIM).

Yang disebut terakhir metode untuk mengukur aktivitas pasien sehari-hari setelah terkena serangan stroke. Metode itu juga menilai aspek motorik dan kognitif para pasien. Pada beberapa kasus, serangan stroke menyebabkan cedera otak sehingga pasien mengalami gangguan kognitif, seperti kehilangan daya ingat, dan motorik (lumpuh).

Pelindung saraf

Hasil uji klinis menunjukkan, pemberian terapi IgF berdosis 161,8 ?g/dl atau lebih meningkatkan kemampuan fungsi kognitif dan motorik pasien pascaterapi. Itu terlihat dari skala LCFS dan FIM yang berbeda nyata ketimbang pasien yang tidak diberi perlakuan. Efek terapi IgF juga tidak dipengaruhi oleh tingkat keparahan stroke si pasien.

Lalu, bagaimana duduk perkara IgF-yang terkandung dalam kolostrum-membantu menyembuhkan derita lumpuh dan gangguan saraf lainnya akibat stroke? Menurut Marta, seperti dikutip Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, IgF berperan sebagai neuroprotector alias pelindung dan memperbaiki sel-sel saraf yang cedera akibat serangan stroke. Oleh sebab itu, IgF berpotensi untuk memperbaiki fungsi kognitif dan motorik pasien selama rehabilitasi.

Peran IgF juga penting untuk mencegah serangan stroke. Menurut MJ van Rijn, seperti dikutip Journal Neurol Neurosurg Psychiatry, hasil studi epidemiologi menunjukkan, pasien berkadar IgF di bawah normal meningkatkan risiko kematian setelah serangan jantung dan stroke iskemik. Peningkatan itu 1,5-5,2 kali lipat ketimbang yang berkadar normal. Kadar IgF normal dalam tubuh 10-1.000 ng/ml. Kini, untuk memenuhi kebutuhan asupan IgF dapat diraih dari seteguk kolostrum. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img