Wednesday, February 8, 2023

Anak Muda Kembali ke Ladang

Rekomendasi

Trubus.id — Berbagai upaya mengembalikan anak-anak muda Korea Selatan dan dunia menerjuni bidang pertanian. Harap mafhum, krisis petani muda kini mengglobal. Bersenang-senang sambil bertani.

Itulah prinsip Ahn Yoon Jeong, petani organik di Goesan, Korea Selatan. Jadi, meski harus berpanas-panasan dan berkeringat di ladang, petani berusia 28 tahun itu tetap menjalaninya dengan semangat. Ahn Yoo Jeong menjadi petani pada 2019. “Semula saya pindah ke Goesan setelah lulus kuliah untuk menemani kakek dan nenek,” katanya.

Setelah melihat pertanian di Goesan, ia pun tertarik menjadi petani. Sejak itu ia mengikuti pelatihan budidaya pertanian. Mula-mula Ahn Yoo Jeong membudidayakan sayuran dengan sistem konvensional yang menggunakan pupuk anorganik dan pestisida. Namun, sejak 2021 ia beralih ke pertanian organik. Ketekunannya bertani membuahkan hasil yang menggembirakan.

“Lebih dari 95% hasil panen kentang berhasil dikirim ke Heuksarang. Rasanya semua kerja keras terbayar,” kata Ahn Yoo Jeong.

Heuksarang merupakan koperasi petani yang mengoordinir hasil panen petani untuk diolah dan dikemas sebelum dipasarkan. “Jadi, petani bisa fokus dalam budidaya tanpa harus mengkhawatirkan pasar,” kata Presiden Heuksarang, Yoon Young Woo.

Jaminan pasar

Woo menuturkan, Heuksarang memiliki tanggung jawab untuk melatih dan membimbing petani anggotanya, terutama yang baru, agar budidayanya berhasil. Ahn Yoo Jeong termasuk salah satu petani yang dibimbingnya.

Oleh karena itu, Ahn Yoo Jeong berterima kasih kepada Heuksarang, kakek neneknya, petani tetangga, mahasiswa Universitas Sungkyunkwan, dan pelatih. Ahn Yoon Jeong menuturkan, sulit membudidayakan sayuran di greenhouse dan ladang.

“Musim kemarau panjang, sulit air, dan gulma kerap menjadi kendala dalam budidaya,” katanya.

Namun, semua itu terbayar ketika hasil panen melimpah. Kini ladang kentang bersalin rupa menjadi ladang kedelai. Ahn Yoon Jeong memang menanam beragam sayuran seperti tomat, brokoli, kedelai, dan jagung manis.

Pemilihan komoditas yang ditanam dan waktu tanamnya itu arahan dari Heuksarang berdasarkan permintaan pasar. Keamanan pasar juga menjadi salah satu alasan Kim Jin Min membudidayakan sayuran organik pada 2015. Petani berusia 30 tahun itu menanam tomat, brokoli, kubis, dan jagung. Komoditas yang ditanam pun sesuai dengan permintaan Heuksarang.

Menurut Yoon Young Woo Heuksarang menjual 2 macam produk, yaitu organik dan nonpestisida. Kategori nonpestisida membolehkan petani menggunakan pupuk kimia kurang dari1/3 dari pemakaian di budidaya konvensional. Produk yang dihasilkan Heuksarang dijual ke Hansalim dan pasar swalayan lain.

“Jadi, meski produknya sama, tapi kami kemas dengan desain berbeda untuk masing-masing pasar,” kata Yoon. Meski memiliki beragam pasar, harga yang diberikan ke petani sama, berdasarkan harga rata-rata.

Krisis petani muda

Keberadaan Ahn Yoon Jeong dan Kim Jin Min merupakan angin segar di dunia pertanian. Hal itu karena banyak pemuda yang enggan terjun menjadi petani. Mayoritas petani di Korea Selatan kategori aging farmer alias petani tua. Sebesar 60,6% populasi petani berusia 60 tahun atau lebih pada 2019.

Berdasarkan kelompok usia, petani berusia 60—64 tahun menduduki posisi pertama dengan 314.191 orang. Sementara petani berusia di bawah 45 hanya sebanyak 60.000 orang. Selain di Korea Selatan, krisis petani muda juga terjadi di Kanada dan negaranegara di Eropa.

Data sensus penduduk 2021 di Kanada menunjukkan proporsi operator pertanian berusia 55 tahun ke atas tumbuh sebesar 6,0 poin dari persentase sensus sebelumnya. Pada 2016 tercatat 54,5% operator pertanian berusia 55 tahun ke atas, meningkat menjadi 60,5% pada 2021. Sebaliknya, pangsa operator pertanian muda, usia di bawah 35 tahun, pada 2021 sebesar 8,6% atau turun sedikit dari 9,1% pada 2016.

Masterclass 2022 diikuti 19 peserta yang berasal dari Bhutan, Filipina, Srilanka, Vietnam, Jepang, Kirgizstan, India, Indonesia, Iran, dan Korea Selatan. (Trubus/ Dok. panitia ALGOA Organic Leadership Masterclass 2022)

Di Uni Eropa 9,7 juta orang bekerja di pertanian pada tahun 2016. Namun, hanya 11% saja yang berusia di bawah 40 tahun. Bagaimana dengan di Indonesia?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) proporsi pemuda yang bekerja di sektor pertanian terus menurun. Pada 2011, tercatat ada 29,18% pemuda yang bekerja di sektor pertanian dan angkanya merosot menjadi 19,18% pada 2021.

Sebaliknya, proporsi pemuda yang bekerja di sektor jasa tercatat sebesar 55,8% pada 2021. Persentase itu naik 9,87% dari 2011 yang sebesar 45,93%. Data BPS pada 2018 menunjukkan, hanya 885.077 petani yang berusia di bawah 25 tahun. Petani yang berusia 25—34 tahun tercatat sebanyak 4,1 juta jiwa. Kemudian, petani dalam kelompok usia 35—44 tahun sebanyak 8,17 juta jiwa.

Program

Melihat kondisi itu pemerintah dan pihak yang peduli akan pertanian dan keberlangsungan pangan pun tak berpangku tangan. Kementerian Pertanian Indonesia menggenjot upaya menarik minat generasi muda ke sektor pertanian melalui sejumlah upaya.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) misalnya, bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) membuka program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services (YESS).

YESS merupakan program bagi milenial untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan kemampuan di bidang pertanian. Beberapa kegiatan dalam program YESS adalah Hibah Kompetitif dan Young Ambassadors.

Hibah Kompetitif bertujuan menggerakkan pemuda tani membangun usaha pertanian dan perekonomian di pedesaan. Sementara Young Ambassadors adalah pemilihan dan pelatihan petani atau pengusaha muda sektor pertanian Indonesia untuk dapat menjadi Duta Program YESS.

Setiap wirausaha muda bidang pertanian berusia 17—35 tahun berkesempatan menjadi Young Ambassadors. Tugasnya mempromosikan dunia pertanian untuk meningkatkan citra dan motivasi kaum muda agar terlibat dalam sektor ini.

Di tingkat Asia ada International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM)-Asia yang serius memperhatikan regenerasi petani melalui progam pelatihannya yang bernama Organic Foundation Course (OFC). OFC melatih pejabat pemerintah daerah, mitra, dan pelaku di bidang pertanian tentang prinsip-prinsip pertanian, khususnya pertanian organik.

“Bisa dikatakan OFC merupakan salah satu bagian dari Akademi Organik IFOAM Internasional,” kata Konrad Hauptfleisch, pelatih organik internasional.

Pelatihan dan pendidikan Akademi Organik diselenggarakan sejak 2012 dengan peserta dari berbagai negara. Jennifer Chang, peserta pelatihan Akademi Organik 2014 asal Korea Selatan, bermimpi menciptakan pemimpin organik masa depan.

Wanita yang saat ini menjabat sebagai Executive Director of IFOAM Asia itu pun menggandeng pihak pemerintah daerah untuk menyelenggarakkan pelatihan organik (OFC).

Program OFC terselenggara pertama kali pada 2016 dan rutin diselenggarakan setiap tahun. “Pemerintah akan selalu mendukung dalam kegiatan untuk meningkatkan pertanian, khususnya organik,” kata Song In-Hern, bupati Goesan.

Pada 2022 IFOAM Asia menyelenggarakan pelatihan dengan tingkatan lebih tinggi lagi yaitu ALGOA Organic Leadership Masterclass. Sebanyak 19 orang terpilih di antara semua lulusan dari enam pelatihan OFC (2016—2021). Peserta berasal dari Bhutan, Filipina, Srilanka, Vietnam, Jepang, Kirgizstan, India, Indonesia, Iran, dan Korea Selatan.

Penulis salah satu peserta yang mengikuti program itu selama 6 hari. “Pada OFC peserta hanya diajarkan konteksnya atau pengenalan terhadap organik. Sementara di masterclass lebih diperkenalkan topik baru yang berhubungan dengan isu atau masalah yang sedang berkembang. Kurikulumnya sedikit tapi lebih banyak diskusi,” kata Konrad kepada Majalah Trubus.

Sesi pembelajaran memberikan kesempatan untuk mendiskusikan topik yang relevan tentang gerakan organik. Contohnya peran organik dalam mencapai program pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan mengatasi krisis iklim. Namanya terus berkembang seperti mengadopsi kata regeneratif dan agroekologi, inovasi dalam produksi dan pemasaran, dan masalah sertifikasi.

Pembelajaran tidak hanya dilakukan di kelas, tapi juga di lapangan. Peserta ALGOA Organic Leadership Masterclass yang berlangsung pada 15—20 Juli 2022 di Goesan, Korea Selatan, berkesempatan mengunjungi Seol-mae Farm, Goesan-Seoul Farm, dan Heuksarang. Seol-mae Farm adalah koperasi petani yang berdiri sejak 1994 beranggotakan 21 orang.

Sementara Goesan-Seoul Farm adalah lembaga pelatihan yang memperkenalkan pertanian dan pertanian organik kepada penduduk perkotaan. Bagian lain dari masterclass adalah partisipasi peserta pada KTT ALGOA ke-8 dan Konferensi Internasional ke-2 tentang Kebijakan Pertanian Organik.

Dalam acara-acara itu, ditekankan bagaimana pertanian organik dapat memberikan pendekatan holistik dalam menangani baik pandemi Covid-19 maupun krisis iklim.

Masterclass tidak hanya menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian organik pada para peserta tapi juga berfungsi sebagai reuni teman lama dan di situlah koneksi baru dibangun. Kegiatan itu dapat mengarah pada kolaborasi untuk mencapai masa depan organik yang lebih baik.

Presiden IFOAM Asia, Mathew John berharap lulusan program Masterclass bisa mendorong banyak pihak termasuk generasi muda yang peduli dan terjun ke dunia pertanian, khususnya organik. (Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img