Sunday, July 21, 2024

Analisis Usaha Menanam Sengon

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Pekebun sengon Parserianthes falcataria perlu melakukan analisis usaha sebagai landasan awal untuk menghitung keuntungan dan mengantisipasi kerugian. Yuno Abeta Lahay, pekebun sengon di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengatakan, mengebunkan sengon “di atas kertas” pasti untung.

Menurut pekebun sengon sejak 2014 itu, biaya produksi mengebunkan sengon Rp40 juta per hektare. Itu di luar sewa lahan. Populasi rata-rata 1.100 tanaman per hektare.

Pekebun memanen kayu sengon pada umur 5 tahun dengan total pendapatan lebih dari Rp150 juta. Itu jika pertumbuhan 70% alias penjarangan 30% pada umur 2,5–3 tahun.

Semula jarak tanam padat 3 meter × 3 meter. Penjarangan 30% menyisakan 770 pohon pada umur 5 tahun. Hitungan sederhananya, sebatang pohon dijual seharga Rp300.000 sehingga total pendapatan mencapai Rp231 juta.

Kalkulasi itu tanpa menghitung panen penjarangan pada umur 2,5–3 tahun. Menurut Yuno, pekebun harus memilih lokasi lahan dengan akses transportasi mudah. Setidaknya, truk colt diesel dapat masuk ke kebun untuk mengangkut kayu hasil panen.

Bila akses sulit, tentu akan menyusahkan pengangkutan hasil panen sehingga biaya melambung. Lokasi yang berada di pelosok menjadikan ongkos mengangkut panen dari kebun ke pabrik jauh lebih besar dibanding harga jualnya.

Akses juga membuat pemilik mudah mengontrol kebun minimal setiap dua pekan atau sebulan sekali. Itu untuk mencegah pencurian sekaligus memastikan pegawai bekerja dengan baik.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

PFI dan Tanoto Foundation Luncurkan Buku Kolaborasi untuk Negeri

Trubus.id—Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Tanoto Foundation dan Klaster Filantropi Pendidikan melalui  Philanthropy Thought Leaders (PTL) ke-15 menyelenggarakan peluncuran...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img