Sunday, August 14, 2022

Anies Rasyid Baswedan Terhibur Kicau Anis

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Menyeruput secangkir kopi panas dan menikmati kicauan burung menjadi pembuka hari-hari rektor Universitas Paramadina, Anies Rasyid Baswedan PhD.

Kicauan burung anis itu riuh-rendah mengiringi terbit sang surya. Di halaman belakang rumah Anies Baswedan memang terdapat deretan sangkar beragam burung. Penggagas Gerakan Indonesia Mengajar itu mengoleksi 11 burung beragam jenis: masing-masing 2 perkutut, kenari, terucuk, dan cucakrawa serta masing-masing seekor kacer, anis, dan anis kembang. Burung-burung itu rajin berkicau.

“Setiap jam setengah lima pagi burung-burung itu mulai ramai bersuara,” kata Anies. Bahkan, kacer berkicau sejak pukul 02.00. Sembari sarapan, Anies menikmati kicauan itu. Biasanya pria 43 tahun itu sarapan di meja kayu bundar bergaris tengah 1 meter di beranda belakang rumah.

Menabung dahulu

Kegemaran Anies terhadap burung bermula saat duduk di bangku Sekolah Dasar di Yogyakarta. Saat itu Anies kecil memperoleh sepasang merpati dari kerabat. Lewat sepasang merpati itu Anies belajar merawat burung hingga beranak-pinak. Bukan hanya merawat, Anies juga kerap menonton balap merpati yang biasa digelar di Lapangan Klebengan di dekat rumah orangtuanya di Kaliurang, Yogyakarta. “Saya bersepeda untuk menonton lomba,” tutur pria kelahiran 7 Mei 1969 itu.

Anies juga menyambangi Pasar Burung Ngasem saban pekan. Selepas pulang sekolah, Anies menumpang kendaraan umum dari rumah menuju kantor pos di dekat ujung Jalan Malioboro. Dari sana ia berjalan kaki melewati keraton ke Pasar Ngasem. Di pasar burung terbesar di Yogyakarta itu, Anies betah berlama-lama mendengarkan kicauan burung. Menjelang azan magrib berkumandang, barulah Anies bergegas pulang.

Anies tergerak untuk menambah koleksi burung peliharaannya. Untuk mewujudkan impiannya itu, ia punya kiat unik. Saat mengincar burung betet, misalnya, ia mendekati pedagang untuk menanyakan harganya. Berikutnya Anies berterus terang bahwa ia perlu menabung dahulu untuk menebus burung itu. Boleh jadi lantaran kasihan sang pedagang biasanya menahan menjual.

Kedua orangtua Anies, Drs Rasyid Baswedan SU dan Prof Dr Aliyah Rasyid MPd, memang menerapkan aturan ketat soal hobi memelihara burung. “Pesannya harus beli sendiri dan harus merawat yang baik,” kata Anies. Oleh karena itu Anies rela menyisihkan sebagian uang jajan untuk menabung. “Waktu itu saya menerima uang mingguan Rp500 yang diberikan setiap Senin pagi,” tutur Anies. Lewat jalan menabung itulah, Anies bisa membeli kepodang dan jalak suren. Burung kicauan lain seperti murai, kacer, dan cucakrawa saat itu belum terjangkau tabungan Anies.

Simpan

Selepas Sekolah Dasar, Anies jarang bersinggungan dengan memelihara burung. Musababnya kegiatan sekolah dan aktivitas luar sekolah yang padat memaksanya melepas hobi itu sementara waktu. Kondisi itu berlanjut hingga ia menamatkan program doktor Ilmu Politik dari Departemen Ilmu Politik di Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat.

Ketika tiba kembali di tanah air pada 2005, ia berpindah ke Jakarta dan menempati rumah seluas 120 m2. Kondisi rumah yang relatif sempit membuatnya tidak leluasa menyalurkan hobi lamanya yang mulai ditekuni kembali. Namun, pada 2007 ia bisa menempati rumah yang lebih luas. “Saya sudah membayangkan di mana lokasi untuk menaruh sangkar burung di sekeliling rumah,” ujar Anies.

Sejak itu pula Anies mulai rajin berburu burung ke Jalan Barito, Jakarta Selatan. Murai batu menjadi koleksi awal. Akibat rajin menyambangi pasar burung di Jalan Barito, membuat ayah 4 anak itu tenar di kalangan pedagang. “Ada 6-7 pedagang langganan kalau saya butuh burung,” tutur pria yang juga suka menyambangi pasar burung di seputaran Kuningan, Jawa Barat, saat bertandang ke rumah mertua.

Lewat pesan singkat, Anies biasanya mengabarkan sang penjual mengenai burung yang diincarnya. Selanjutnya penjual membawa burung itu ke kediaman Anies sehingga dapat mendengar suaranya. “Biasanya ditaruh di rumah sampai sepekan untuk memastikan suaranya bagus,” kata Anies. Jika cocok, Anies membayar burung itu. Pedagang langganan Anies juga tersebar hingga di Pasar Burung Dongkelan, Yogyakarta.

Tak tergantikan

Selain menyambangi pasar burung, Anies memiliki trik sederhana untuk memperoleh burung idamannya. Ia mempelajari kicauan melalui alat perekam. Anies pernah mendapatkan burung trucuk, setelah mendengarkan rekaman kicauannya selama 2 hari lewat telepon seluler. Begitu jatuh hati, suami Ferry Farhati Ganis SPsi, MSc, pun membeli trucuk itu dari seorang teman di Pekalongan, Jawa Tengah.

Kegemaran Anies mengoleksi burung tidak ayal menjadi perhatian tamu yang bertandang ke rumah. Seorang sahabat pernah menghadiahkan seekor perkutut untuk Anies. Tak hanya itu, burung koleksi Anies tergolong kerap berpindah tangan. Musababnya pria dinobatkan sebagai 20 tokoh dunia yang akan membawa perubahan dalam 20 tahun mendatang versi Majalah Foresight Jepang pada 2010 itu, kerap memberikan burung peliharaannya kepada kenalan yang serius memelihara.

Meski demikian di antara sekian banyak koleksi Anies terdapat 2 burung yang terus dijaga. Mereka adalah cucakrawa yang dibeli pada 2008 dari seorang penangkar di Jakarta serta anis kembang yang dibelinya pada 2010. “Susah mencari gantinya lagi jenis-jenis itu,” tutur Anies. Mafhum Anies sudah kadung jatuh hati dengan suara cucakrawa dan anis kembang yang selalu menemaninya saat menyeruput secangkir kopi pagi hari. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

Keterangan Foto :

  1. Anies Baswedan dan putra bungsunya, Ismail Hakim, bersama anis kembang salah satu burung favorit Anies
  2. Anies kembang menjadi klangenan favorit Anies Baswedan
  3. Tempat makan untuk burung liar sengaja disediakan di halaman belakang
  4. Perkutut bertengger di pohon jambu di bagian belakang rumah
  5. Kenari turut menghiasi rumah Anies Baswedan
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img