Monday, August 8, 2022

Anthony Ekasaputra Terjerumus di Belantara Lidah Mertua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Siang itu di awal April Anthony tampak sibuk melayani seorang kolega dari Bogor yang memborong beberapa calon induk lidah mertua. Menjelang transaksi usai, seorang pembeli lain datang lalu menghampiri. Diselingi obrolan singkat sambil mengisap dalam-dalam sebatang rokok, Anthony yang siang itu memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan terlihat bergegas mengambil beberapa pot Sanseviera trifasciata laurentii.

Bagi Tjien Ek—begitu sapaan Anthony Ekasaputra—pembeli perlu diberlakukan bak raja. “Kalau mereka puas demikian pula saya,” ujarnya. Wajar bila tanpa berpromosi pun banyak konsumen datang ke nurseri Tjien Ek di Cimanggu, Bogor, itu. Dalam sebulan rata-rata 5.000—6.000 pot anggota famili Agaveceae seharga belasan ribu rupiah itu terjual. Itu belum termasuk koleksi unik terbatas 1—2 pot saja seperti golden hahnii model rossete yang nilai jualnya mencapai Rp1-juta/pot.

Pria berkacamata minus itu memiliki 20 jenis sanseviera yang mencapai total populasi 30.000—40.000 tanaman. Semua jenis-jenis itu seperti golden hahnii, moonshine, longifolia, laurentii, dan superba, dipelihara di antara kepungan belasan ribu palem hias di lahan 7 ha. Lokasinya di Rancabungur, Kabupaten Bogor. Seluruh lidah mertua itu ditanam di atas guludan 125 m x 1 m dengan ketinggian guludan sekitar 15 cm. “Kebanyakan posisi guludan di antara jarak tanaman palem,” ujar ayah 4 putra itu.

Kodok-kodokan

Menurut pehobi jalan-jalan itu pamor sanseviera melonjak setelah eksportir dari Korea sejak akhir 2003 berbondongbondong mencari kerabat dracaena itu. Mereka mengumpulkan dari para pekebun untuk dikirim kembali ke berbagai negara tujuan ekspor. “Dulu harganya tidak seperti sekarang, untuk bisa menjual Rp500—Rp1.000 per pot saja susah,” tutur kelahiran Bogor 21 September 1957. Meski demikian hingga kini ia enggan memasok ke eksportir lantaran harga jual di dalam negeri sebagai elemen taman lebih menguntungkan.

Semua itu memang berkaca pada palem, tanaman hias pertama yang ditekuni sejak medio 1980-an. Ketika itu banyak perumahan baru bermunculan, jenis palem-lah yang sangat diminati. Ukuran sejengkal xipohentia yang dibeli seharga Rp50.000 laku terjual Rp500.000 setelah 4 tahun kemudian. Jenis lain seperti wuditia dengan ukuran serupa dibeli Rp30.000. Tiga tahun berselang palem ekor tupai itu dijual Rp650.000. “Setiap keuntungan selalu untuk membeli tanaman baru lagi,” katanya.

Permintaan dari beberapa konsumen perumahan yang ingin memiliki tanaman kecil, tapi bercorak menawan membuatnya memilih sanseviera sebagai persinggahan berikutnya pada awal 1990-an. Lidah mertua jenis kodok-kodokan bercorak kuning hijau merupakan jenis yang pertama kali diperbanyak. “Ternyata banyak yang suka. Pasarnya besar karena pekebun yang menekuni sanseviera saat itu sedikit sekali,” papar anak ke-6 dari 7 bersaudara itu. Ketika itu ratusan pot laku terjual setiap bulan. Untuk menggenjot produksi, ia mendapat pinjaman lahan seluas 4 ha dari sang mertua.

Bekal pisau

Bak putaran roda, bisnis sanseviera yang dilakoni selama 2 tahun sempat surut mendekati medio 1990-an. “Saat itu orang sudah memperhatikan tren. Jenis mana yang tren itulah yang dicari. Saat itu palem kembali banyak dicari,” ujar Anthony. Beruntung saat ia mengebunkan lidah mertua, palem yang sempat ditekuni tetap dipelihara. Hebatnya dalam memperbanyak semua tanaman, Tjien Ek melakukan seorang diri. “Saya harus beraktivitas, kalau diam tekanan darah tinggi saya akan naik,” paparnya memberi alasan.

Soal memperbanyak tanaman, Tjien Ek memiliki cara unik yang jarang dipakai pekebun. Lewat kerjasama dengan 2 buah pisau lipat yang selalu setia berada di kantong celana, Tjien Ek akan mengeksekusi setiap tanaman lidah mertua berdaun pendek yang akan diperbanyak. Dengan wajah dingin, ujung pisau Tjien Ek yang berkilat akan menusuk tepat di atas dompolan daun pertama. Dompolan daun lain buru-buru ditancapkan ke media lain. “Istilah kasarnya dengan cara ini induk dimatikan,” paparnya.

Andai sang lidah mertua bisa bersuara tentu ia akan memprotes tindakan Tjien Ek. Namun, dengan tindakan itulah Tjien Ek bisa menuai anakan sanseviera lebih banyak. Jika secara normal, setiap sanseviera mengeluarkan 2 anakan baru, dengan cara itu jumlah anakan yang dihasilkan bisa melonjak 3 kali lipat. “Ini caranya.. sret…sret…dan ini hasilnya,” ujar Tjien Ek menunjukkan cara perbanyakan secara langsung pada Trubus.

Hingga kini memang hanya sanseviera dan palem yang menjadi tumpuan Anthony Ekasaputra. “Mereka akan terus dicari dan disukai sebagai elemen taman,” paparnya penuh keyakinan. Meski demikian belasan jenis tanaman hias seperti aglaonema, euphorbia, adenium, encephalartos, dan jenis-jenis variegata turut dikoleksi untuk pelan-pelan diperbanyak. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img