Friday, December 2, 2022

Antidepresi Warisan Nenek Moyang

Rekomendasi

Pada masa lampau Areca catechu banyak tumbuh di daerah itu sehingga kata pinang disematkan sebagai nama. Di semua tempat itu pinang akrab sebagai teman makan sirih. Sebuah ritual bergengsi para bangsawan kerajaan di masa silam. Riset abad 21 membuktikan, pinang berkhasiat sebagai antidepresi.

Pantas nenek moyang kita mengabadikan pinang sebagai nama tempat. Sejak dulu biji pinang digunakan sebagai obat tradisional. Ia dipakai secara sendirisendiri maupun dalam bentuk ramuan. K Heyne, penulis buku Tumbuhan Berguna Indonesia, mencatat, pinang secara empiris berkhasiat sebagai obat cacing, peluruh kentut, peluruh kencing, peluruh dahak, obat gangguan pencernaan, obat keputihan, dan obat malaria.

Dua peneliti mancanegara, Dar dan Khatoon, pada 1996 tertarik meneliti efek farmakologi pinang. Hasilnya cukup mengejutkan. Ekstrak etanol biji pinang mempunyai aktivitas antidepresi alias obat stres. Setahun kemudian keduanya berhasil mengungkapkan, ekstrak pinang bekerja menghambat enzim monoamin oksidase (MAO) pada otak tikus. MAO ialah enzim yang menekan aktivitas neurotransmiter, norepineprin, dan serotonin. Bila aktivitas ketiga hormon itu tertekan, maka gejala stres pada manusia dan hewan muncul. Sebaliknya, bila hormon itu lancar, maka stres dapat ditanggulangi.

Penulis bersama peneliti lain dari Universitas Padjadjaran, Taofi k Rusdiana, penasaran untuk melanjutkan penelitian keduanya. Maka dilakukan pengujian secara klinis seperti yang biasa dilakukan pada obatobatan antidepresi. Hewan percobaan yang digunakan dipilih mencit jantan putih Mus musculus. Mencit itu dibuat stres dengan 4 cara. Dibiarkan berenang dalam bejana dan disuntikan berbagai macam senyawa kimia penyebab stres: reserpin, haloperidol, dan 5-hidroksitriptopan (5-HTP).

Anti putus asa

Apa yang terjadi bila Anda dibiarkan berenang di lautan tak bertepi? Putus asa pasti mendera. Sehari sebelum percobaan, 24 mencit dilatih berenang selama 5 menit dalam bejana berisi air setinggi 8 cm. Permukaan bejana yang licin tidak memungkinkan mencit memanjat dinding sehingga mau tak mau mereka harus terus berenang. Setelah itu mencit dibiarkan di tempat kering sampai kondisinya normal kembali.

Keesokan harinya, mencit dibagi secara acak menjadi 3 kelompok masing-masing beranggotakan 6 mencit. Satu kelompok kontrol dan 2 kelompok uji. Kelompok kontrol disuntikkan gom arab 1%. Kelompok uji pertama diberi ekstrak pinang 200 mg/kg. Yang kedua 400 mg/kg. Sejam kemudian, mencit dimasukkan ke dalam bejana berisi air dan dibiarkan berenang. Setiap selang 5 menit, lamanya mereka diam tak bergerak, dicatat selama 15 menit.

Saat mencit diam tak bergerak disebut imobilitas. Ia mengambang dengan posisi hampir tegak, kepala tetap di atas permukaan air. Semakin lama mencit mengambang, maka ia semakin putusasa.

Hasilnya? Seperti yang telah diduga. Kelompok yang paling stres berasal dari mencit yang tidak diberi pinang. Mereka ratarata mengambang selama 190 detik pada 5 menit pertama. Yang diberi pinang 200 mg/kg lebih bersemangat berenang, mereka hanya mengambang selama 97,2 detik. Mencit yang paling aktif dari kelompok uji 400 mg/kg, mereka hanya mengambang selaam 62,3 detik. Pada 5 menit kedua dan ketiga pun terlihat gejala yang sama. Mencit yang diberi pinang antiputusasa.

Antikaku

Tubuh kaku tak bergerak juga salah satu ciri stres. Mencit kelompok kontrol dan kelompok uji diberi senyawa halopedirol sebanyak 5 mg/kg sehingga tubuhnya kaku tak bergerak. Mencit itu lalu diletakkan dengan posisi tergantung. Kedua cakar depan dikaitkan pada seutas kawat yang terbentang, kedua cakar belakang dibiarkan menyentuh lantai.

Lamanya mencit pada posisi kaku tak bergerak itu dicatat dan dikonversikan dalam bentuk skor. Skor 0: 0—4 detik, 1: 5—9 detik, 2: 10—14 detik, 3: 15—19 detik, dan 4 >20 detik. Mencit disebut katalepsi bila ia kaku tak bergerak selama 20 detik atau lebih. Hasilnya, hanya mencit yang diberi ekstrak pinang 400 mg/kg yang mengalami perbaikan katalepsi. Pada menit ke 90’, 120’, dan 150’ lama katalepsi semakin berkurang. Berturutturut menurun dari skor 3, 2, dan 1. Pada mencit kontrol, ia masih tak bergerak selama 193’ pada menit ke-150. Mencit yang diberi perlakuan 200 mg/kg jauh lebih baik kondisinya dibanding kontrol.

Penstabil suhu

Mencit secara acak dibagi atas kelompok kontrol dan uji, lalu diukur suhu rektum pada kedalaman 2 cm. Mencit dengan suhu rektal 37—38,50C dipilih untuk percobaan. Masing-masing mencit diberi reserpin—zat yang dapat menurunkan suhu tubuh—sebanyak 8 mg/kg. Enam belas jam kemudian, suhu rata-rata rektum mencit turun menjadi 30—320C.

Agar suhu kembali stabil, diberikan ekstrak pinang sesuai dengan kelompok uji. Sejam kemudian, mencit yang diberi ekstrak pinang 400 mg/kg suhu tubuhnya naik kembali sebanyak 20C pada 60 menit pertama dan 30C pada menit ke-90. Mencit kontrol suhu rektumnya relatif tak berubah.

Pernah lihat orang tripping? Mencit yang telah diberi perlakuan dimasukkan 5-HTP sebanyak 300 mg/kg. Tak lama kemudian, kepalanya bergerak cepat, mirip orang tripping. Namun, tubuh sedikit bergerak bahkan tidak bergerak sama sekali. Gerakan kepala mencit dihitung setiap 15 menit selama 60 menit.

Pemberian ekstrak pinang 200 mg/kg dan 400 mg/kg menurunkan jumlah gerakan kepala mencit secara bermakna. Makin besar dosis yang diberikan, gerakan kepala semakin sedikit. Bahkan pada menit ke-60, mencit yang diberi ekstrak pinang 400 mg/kg rata-rata hanya menggerakan kepala 1,8 kali. Bandingkan dengan rata-rata mencit kontrol yang kepalanya bergerak 34,3 kali.

Memang telah diketahui 5-HTP yang diberikan dapat meningkatkan kadar serotonin di otak sehingga menimbulkan efek gerakan kepala. Diduga ekstrak pinang bekerja menghambat reseptor serotonin sehingga gerakan kepala berkurang.

Begitulah riset pinang membuktikan, pilihan nenek moyang makan sirih, bukan tanpa alasan. Selepas mengunyah sirih plus pinang, rasa segar menyergap para nenek moyang kita. (Anas Subarnas, dosen Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img