Monday, August 8, 2022

Antikanker dari Bawah Tanah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pekebun lazim memanen temulawak berumur 11-12 bulan
Pekebun lazim memanen temulawak berumur 11-12 bulan

Riset ilmiah membuktikan temulawak tokcer hentikan kanker usus besar.

Lalapan dan Liliana Kamil—nama samaran—sulit terpisahkan. Perempuan 28 tahun itu memang gemar mengonsumsi lalapan sejak kecil. “Orang tua saya menyenangi lalapan dan itu menurun ke saya,” ucap Liliana yang menyukai daun muda jambu mete dan kemangi. Menurut ahli gizi dari Rumahsakit Immanuel, Bandung, Jawa Barat, dr Dadang Arief Primana MSc SpKO SpGK, konsumsi sayuran seperti lalap atau pecel memang lebih sehat.

“Konsumsinya mesti diimbangi dengan makanan yang mengandung karbohidrat dan protein,” ucap dr Dadang. Liliana menerapkan pola makan seperti itu hingga kini. Perubahan pola konsumsi dari pangan tradisional ke pangan modern yang tinggi kalori ternyata membahayakan. Lihat saja kaum migran asal Korea Selatan dan Jepang ke Amerika Serikat. Ketika tinggal di negeri asal, mereka mengonsumsi kimchi dan tofu. Begitu tinggal di Negeri Abang Sam, konsumsi mereka berubah, yakni pangan tinggi kalori.

Menurut Brenda Hofer Giddings dan rekan dari California Cancer Registry, Sacramento, Amerika Serikat, gaya hidup salah satu penyebab terjadinya kanker kolorektal atau kanker usus. Giddings mengidentifikasi kejadian kanker kolorektal  pada orang Jepang, Cina, Filipina, Korea, Vietnam, dan Asia Selatan yang bermigrasi ke Amerika Serikat. Hasil penelitian itu menunjukkan pria Korea mengalami peningkatan insiden kanker kolorektal dengan annual percent change (APC) 3,6%. Gidding mengatakan itu terjadi karena pria Korea gemar menenggak alkohol dan merokok.

Berbagai macam produk kesehatan berbahan baku temulawak
Berbagai macam produk kesehatan berbahan baku temulawak

Pembunuh nomor 2

Riset Gidding sejalan dengan penelitian Flood DM dan rekan dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, Washington, Amerika Serikat, yang mengungkap orang Jepang kelahiran Amerika Serikat berisiko tinggi terkena kanker kolorektal. Hasil penelitian Flood menunjukkan pria Jepang yang lahir di Amerika Serikat berpeluang terkena kanker kolorektal dua kali lebih tinggi ketimbang pria Jepang yang lahir di negaranya sendiri dan 60% lebih tinggi dari pria kulit putih Amerika Serikat.

Sementara perempuan Jepang yang lahir di AS berisiko terkena kanker kolorektal 40% lebih tinggi dari perempuan Jepang yang lahir di Negeri Sakura dan perempuan kulit putih AS. Menurut Gidding orang Jepang rentan terkena kanker kolrektal karena mengadopsi gaya hidup Barat. Gaya hidup itu ditandai dengan mengonsumsi makanan tinggi kalori, kurang aktivitas tinggi, dan obesitas.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Amerika Serikat, kanker kolon-rektum atau kolorektal menjadi penyebab kematian kedua karena kanker di negeri itu. Pada 2009 penduduk negara adidaya yang meninggal karena kanker kolon mencapai 51. 848 jiwa. Prevalensi kanker kolon pada 2009 mencapai 136.717 penduduk. Data itu menjadikan kanker kolorektal sebagai kanker yang paling sering diderita pria dan wanita setelah prostat dan paru-bronkus.

Di tanahair penderita kanker kolorektal juga mengkhawatirkan. Hasil penelitian dr Mochamad Aleq Sander MKes SpB FinaCS dari Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Malang, menunjukkan pasien kanker kolorektal cenderung meningkat dalam 3 tahun di rumahsakit Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat. Riset itu juga menunjukkan umur penderita penyakit itu berkisar 41—55 tahun dan sebagain besar berjenis kelamin perempuan.

PT Tri Rahardja hanya menggunakan temulawak berkualitas bagus
PT Tri Rahardja hanya menggunakan temulawak berkualitas bagus

Antikanker

Dokter spesialis penyakit dalam di rumahsakit dr Sutomo, Surabaya, Jawa Timur, dr Arijanto Jonosewojo SpPD, mengatakan kanker kolon bisa terjadi di bagian kanan (asenden), tengah atas (transversum), dan kiri (desenden). Menurut Arijanto penyebab kanker kolon karena zat karsinogenik dan faktor keturunan. Salah satu gejala kanker itu buang air besar disertai darah dan diikuti rasa nyeri.

Lazimnya pasien terduga kanker kolon menjalani kolonoskopi dan biopsi untuk mendeteksi kehadiran kanker kolon. Sebagian masyarakat bergidik mendengar kedua kata itu. Kini ada cara alami mengatasi dan mencegah kanker kolon. Hasil riset ilmiah You Jin Kang dan rekan dari Ewha Womans University, Seoul, Korea Selatan, membuktikan temulawak ampuh mengatasi kanker kolon secara in vitro.

Selama ini rimpang kerabat jahe itu sohor untuk mengatasi hepatitis. Namun, riset mutakhir membuktikan bahwa temulawak juga berhasiat antikanker. You Jin Kang dan rekan menguji khasiat xantorizol—senyawa aktif dalam rimpang temulawak—terhadap sel kanker kolon manusia HCT 116. Sel HCT 116 mendapat pemberian xantorizol dengan konsentrasi berbeda 0—200 µM selama 72 jam. Untuk memastikan efek induksi apoptosis, Kang mengambil Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) sel HCT116 setelah terpapar xantorizol selama 24 dan 48 jam dengan teknik elektroforesis.

Hasil penelitian pada 2009 itu menunjukkan xantorizol cespleng mengatasi sel kanker kolon manusia. Xantorizol menghambat proliferasi sel HCT 116 dengan penangkapan siklus sel dan apoptosis. Setiap sel mengalami pembelahan dan pada fase tertentu perkembangan sel kanker berhenti karena kehadiran xantorizol. Konsentrasi zat aktif itu hingga 50 µM efektif menghambat proliferasi sel kanker melalui aktivitas sitostatik. Sementara konsentrasi lebih dari 50 µM memiliki efek sitotoksik.  Efek apoptosis muncul pada pemberian 75—100 µM xantorizol.

Menurut Prof Dr Sidik Apt, guru besar emiritus Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, xantorizol salah satu minyak asiri golongan sesquiterpenoid. Senyawa itu antara lain berkhasiat sebagai antikanker. Secara tradisional, masyarakat mendapatkan khasiat rimpang itu dengan memarut 1 rimpang temulawak segar. Lalu mengambil 1 sendok makan hasil parutan dan mencampur dengan gula jawa atau kayu manis agar lebih enak. Kemudian tuangkan air mendidih pada parutan temulawak lalu tutup beberapa saat agar xantorizol tidak menguap. Selanjutnya temulawak hangat siap minum.

Kanker paru

Selain ampuh atasi kanker kolon, tanaman anggota famili Zingiberaceae itu juga manjur mengatasi kanker paru-paru. Dalam uji praklinis Min Ah Choi dan rekan dari Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, membuktikan xantorizol memiliki aktivitas antimetastasis terhadap tumor paru-paru. Menurut Gaoraf P Gupta dan Joan Massague dari Memorial Sloan-Ketetering Cancer Center, Amerika Serikat, metastasis terjadi saat sel kanker beradaptasi dengan jaringan lain yang jauh dari asalnya.

Penelitian Choi dan rekan memastikan efek antimetastasis xantorizol, pembentukan massa tumor, dan mengetahui mekanisme penghambatan metastasis. Untuk mengetahui adanya efek metastasis pembentukan massa tumor peneliti menguji tikus yang terkena tumor paru bermetastasis. Hasilnya tikus dengan sel melanoma B16BL6 yang diberi 0,2 mg dan 0,5 mg xantorizol per kg bobot tubuh dapat menghentikan pembentukan tumor masing-masing 71% dan 97%. Sel melanoma pada tikus yang tak mengonsumsi xantorizol  tumbuh membesar.

Tikus yang hanya diberi sel CT26 memiliki 500 nodul tumor di paru-paru. Sementara pada tikus yang mendapat 0,1 mg; 0,2 mg; 0,5 mg; dan 1,0 mg xantorizol per kg bobot tubuh dapat menekan tumor masing-masing hingga 36%, 63%, 61%, dan 52%. Menurut Choi dan rekan mekanisme antimetastasis xantorizol berkaitan dengan apoptosis atau program bunuh diri sel kanker.

Prof Sidik menuturkan xantorizol merupakan minyak asiri terbanyak di temulawak. Ia memiliki peran lain seperti antibakteri, antiradang, dan stimulan. Segudang khasiat xantorizol menarik perhatian PT Tri Rahardja di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, untuk mengekstraknya dari temulawak. “Kami ingin memperkenalkan xantorizol ke dunia internasional,” kata Direktur Operasional PT Tri Rahardja, Junius Rahardjo. Dalam setahun perusahaan itu mengekstrak 13 ton xantorizol dan menjualnya ke beberapa negara seperti Jepang dan Korea.

PT Tri Rahardja yang mengelola merek Javaplant itu memperoleh temulawak segar dari pekebun di Wonogiri dan Purworejo. Untuk menghasilkan 1 kg xantorizol diperlukan 240 kg temulawak segar. Javaplant amat selektif menerima bahan baku. Pabrik ekstraksi yang berdiri pada 2000 itu hanya menerima temulawak berkualitas. Menurut Maria Ulfah, manajer Kontrol Kualitas, syarat temulawak yang diterima meliputi kadar air maksimal 10% dan kandungan mikrob maksimal 1.000.000 cfu/g. Khasiat manjur xantorizol itu diperoleh dari rimpang temulawak berkualitas. (Riefza Vebriansyah)

 

[box type=”shadow” ]

Serba Temulawak

Cara alami dan sehat memiliki kulit bersih bersinar adalah dengan rutin mengonsumsi temulawak.  Riset Resmi Mustarichie dan rekan dari Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, mengungkap khasiat temulawak sebagai pemutih kulit.  Resmi menguji kurkumin, demetoksikurkumin, dan xantorizol dalam Curcuma xanthorriza secara in vitro terhadap enzim tirosinase dan alfa -melanocyte stimulating hormone (α-MSH). Enzim tirosinase berperan dalam pembentukan pigmen melanin.

Pancaran sinar matahari berlebih membentuk melanin yang membuat bintik gelap sehingga kulit terlihat lebih kusam. Sementara α-MSH berfungsi memicu produksi melanin. Para peneliti melakukan simulasi pengaitan antara ketiga zat aktif itu dengan enzim tirosinase dan α-MSH untuk menentukan dan memvisualisasikan hubungan antara keduanya.  Hasil penelitian itu menunjukkan 3 zat aktif dalam temulawak berkaitan secara spontan dengan enzim tirosinase dan α-MSH.

Xantorizol mudah bertaut pada enzim tirosinase melalui ikatan hidrogen dengan Asn205. Sementara demetoksikurkumin berpaut pada α-MSH melalui 2 ikatan hidrogen dengan His3 dan Arg5. Artinya ketiga zat aktif itu berefek mencegah pembentukan melanin sehingga berpotensi sebagai zat pemutih kulit.  Menurut Direktur Operasional PT Tri Rahardja—pabrik ekstraksi temulawak di Indonesia dengan nama dagang Javaplant—Junius Rahardjo, masyarakat Jepang menyukai xantorizol karena khasiat antibakterinya. Zat aktif itu hadir dalam produk perawatan diri seperti sampo, sabun, dan pasta gigi. (Riefza Vebriansyah)

[/box]

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img