Monday, August 8, 2022

Antisipasi Zoonosis

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

  1. Benarkah burung membawa penyakit? Selain anak kecil, apakah juga terhadap orang tua?
  2. Jenis-jenis penyakit apakah yang dapat ditimbulkan?
  3. Bagaimana cara untuk mencegah timbulnya penyakit itu? Apakah dengan membersihkan sangkar saja tidak cukup?
Basuki A.
Jl. H. Kamang No. 12 B RT 05 RW
010, Pondoklabu, Jakarta Selatan.

Soemarjoto

  1. Pada dasarnya semua hewan peliharaan bisa membawa penyakit. Namun, semua itu tergantung dari pemilik menjaga kebersihannya. Burung yang dipelihara tidak akan menjadi pembawa penyakit bila kebersihan tubuh dan sangkar terus dijaga. Burung yang sering membawa penyakit adalah burungburung berparuh bengkok, seperti kakaktua dan macaw. Anak kecil kemungkinan lebih besar terserang penyakit daripada orang tua karena daya tahan tubuh masih lemah.
  2. Burung bisa membawa virus, lalu ditularkan kepada manusia yang disebut zoonosis, seperti anthraks, atau penyakit kuku dan mulut pada ternak besar. Namun hal itu sangat jarang terjadi, sehingga Anda tidak perlu khawatir.
  3. Mencegah timbulnya penyakit yang dibawa burung dengan menjaga kebersihan sangkar atau kandang, maupun kebersihan burung itu sendiri. Sangkar harus dibersihkan setiap pagi  untuk mencegah kotoran termakan oleh burung. Bagian yang kotor disikat dan disiram air, disemprot desinfektan, kemudian dijemur dengan cara digantung atau diletakkan pada tempat panas. Untuk menjaga kebersihan tubuh, burung dimandikan setiap hari. Waktu yang tepat untuk memandikan pukul 06.00 dan dijemur sampai pukul 10.00. Sinar matahari pagi sangat baik untuk membunuh kuman dan menghangatkan tubuh agar selalu fi t.***

Kolam untuk Mas dan Nila

Saya berencana memulai budidaya ikan mas dan nila. Sumber air berasal dari sungai kecil. Dengan pipa PVC, air langsung dialirkan ke kolam. Sumber air juga berasal dari mata air di kolam itu sehingga pada musim kemarau panjang pun tidak kekeringan. Kedalaman kolam 1,5 m. Setiap kolam dipagar anyaman bambu untuk menghindari air meluap pada musim hujan dan menjaga air tetap jernih.

  1. Langkah apa yang harus dilakukan hingga kolam siap semai?
  2. Menurut pengalaman teman, jika benih langsung disemai usai penggalian kolam dan dijernihkan akan mati. Apa penyebabnya?
  3. Berapa populasi ideal per m2?
  4. Kapan ikan siap panen dan berapa bobot standar umur 6 bulan?
  5. Bagaimana cara perawatan mulai dari penebaran benih sampai siap panen?
  6. Adakah pengaruh jika mas dan nila dipelihara dalam kolam yang sama?
  7. Apakah pakan yang paling baik untuk mas dan nila?
  8. Penyakit apa saja yang sering menyerang? Bagaimana cara penanganannya?
Muhammad Ersi
BTN Keban Agung Blok J No. 39
RT 17, Tanjungenim, Palembang,
Sumatera Selatan

Pepen Effendy

Sebaiknya di sungai dibuat tanggul, agar air dapat dialirkan melalui saluran yang mengelilingi areal kolam. Lebar saluran 40 cm dan dalam 30 cm. Dengan begitu air yang masuk ke setiap kolam, keluar kembali ke sungai melalui saluran di bawah tanggul. Dasar kolam diusahakan lebih tinggi dari dasar sungai untuk memudahkan pengeringan. Setiap kolam dilengkapi pipa untuk pemasukan air, pembuangan kelebihan air, dan untuk pengeringan di dasar kolam.

  1. Lakukan pengeringan kolam selama 4—5 hari. Kemudian diairi sampai penuh. Biarkan selama 3 hari, lalu keringkan kembali. Berikan 300 g pupuk kandang dan 20 g kapur per m2 luas kolam. Isi air sampai penuh selama 3 hari, barulah benih ikan ditebar.
  2. Kematian benih kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya tidak ada penggantian air sehingga kekurangan oksigen, pencemaran air, atau benih tidak sehat.
  3. Populasi ideal tergantung sistem pemeliharaan: tradisional, 1—2 ekor/m2; semi intensif 5—10 ekor/m2; dan intensif 10—30 ekor/m2.
  4. Panen tergantung pada permintaan pasar, misalnya 100 g, 200 g, dan 300 g per ekor. Bobot standar, umur 6 bulan 300—500 g/ekor.
  5. Berikan pakan berkualitas 3 kali sehari dengan dosis 3% dari bobot ikan yang ditanam. Jaga debit air yang masuk agar stabil.
  6. Tidak ada pengaruh bila perbandingan 70% mas dan 30% nila.
  7. Selain pakan alami, pakan buatan berupa pelet dengan kandungan protein 25—30% sangat cocok.
  8. Penyakit yang sering menyerang mas dan nila: – Aeromonas sp. atasi dengan larutan kalium permanganat (PK). – KHV (Koi Herves Virus) dan Mycobolus spp. Belum ditemukan obat yang efektif. – Lerneae, atasi dengan larutan Dipterex 95 sp atau Agrothion 50 ec 1 ppm atau abate 1,5 ppm. – Argulus, atasi dengan larutan garam dapur 1,25%. – Bintik putih dan cendawan, atasi dengan larutan formalin.***
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img