Wednesday, August 17, 2022

Aquarama 2011: Tren Akuarium Nano

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Akuarium nano menjadi bagian interior mejaAkuarium pico, volume kurang dari 16 literAkuarium mikro, volume antara 35-60 literPenampilan keseluruhan akuarium menjadi minimalis karena menggunakan akuarium ukuran kecil. Namun, di situlah letak keunggulan akuarium nano. Meskipun minimalis, berkat tangan-tangan terampil dalam memadukan unsur ikan, tanaman atau terumbu karang, tampillah pemandangan akuarium persis seperti memakai wadah besar. ‘Kecil tapi tetap elegan  dengan banyak keunggulan: mudah dipindahkan atau menjadi bagian interior meja,’ papar Stefan Walter, direktur pengembangan Dennerle GmBH, produsen perlengkapan aquascaping dan akuarium di Jerman.

Bukan itu saja, Trubus mengamati sosok akuarium nano yang mini itu juga sarat teknologi. Sistem filter biologi dikombinasi dengan tata cahaya lampu menjadi satu paket di dalam desain akuarium nano itu. Produsen-produsen akuarium nano memang berkepentingan menciptakan akuarium mini dengan perawatan minim. ‘Lampunya bisa tahan 3 – 4 tahun. Filter cukup dibersihkan 3 – 4 bulan sekali,’ kata Andy Yap dari Qian Hu Fish Farm, eksportir terbesar ikan hias di Singapura yang secara khusus menampilkan keelokan akuarium-akuarium nano itu.

Pantas bila banyak pengunjung Aquarama 2011 terpikat. Dengan harga lumayan mahal untuk ukuran kantong hobiis di tanahair, sekitar U$Sin250 – U$Sin480 setara Rp1,75-juta – Rp3,3-juta (U$Sin1=RpRp7.000) untuk ukuran akuarium 24 cm x 24 cm x 28 cm bergantung isi dan aksesori, minat pengunjung untuk membeli cukup tinggi. ‘Kami mendapat pesanan sekitar 5 akuarium nano,’ ujar Andy setelah satu jam pameran Aquarama 2011 resmi dibuka untuk umum.

Ukuran dan volume

Sejatinya konsep akuarium nano bukan barang baru. Sejak Aquarama 2009 akuarium-akuarium nano sudah dipajang di beberapa stan di anjungan Singapura dan Jerman. Yang berbeda hanya kelengkapan aksesori yang dipasang. Pada Aquarama 2009 akuarium nano terbatas dipersenjatai lampu dan kipas penghalau panas, meski secara desain tampak lebih artistik ketimbang akuarium nano yang dipamerkan pada Aquarama 2011. Pada 2009 akuarium nano hadir dengan beraneka bentuk: bulat, lonjong, dan trapesium. Akuarium nano di Aquarama 2011 dominan berbentuk kubus dengan sisi-sisi kaca menyatu tanpa sambungan.

Menurut John Dawes, praktisi ikan hias dari Spanyol, penyebutan akuarium nano lebih berdasarkan pada ukuran akuarium. Panggilan nano berlaku untuk akuarium berukuran seperti  15 cm x 15 cm x 15 cm, 24 cm x 24 cm x 28  cm  sampai ukuran 31 cm x 31 cm x 36 cm. Di pihak lain, beberapa praktisi seperti Stefan Walter menyebutkan pemanggilan nano lebih mengacu pada jumlah volume air. Akuarium nano memiliki kisaran volume 16 – 35 liter. Lebih besar daripada batasan itu disebut akuarium mikro (36 – 60 liter), sedangkan lebih kecil (kurang dari 16 liter) dinamakan akuarium pico. ‘Produsen sampai sekarang lebih suka memakai nama nano meskipun yang dimaksud boleh jadi akuarium mikro atau pico. Itu lebih mengarah kepada pemasaran produk,’ kata Dawes.

Sejauh ini pembeli tidak terlalu mempersoalkan perbedaan antara ukuran dan volume dalam penyebutan akuarium nano. ‘Pembeli lebih melihat penampilan keseluruhan. Bila akuariumnya kecil, kompak, dan desain isinya menarik, serta perawatannya mudah, pasti mereka suka,’ ujar Ignatius Mulyadi, praktikus ikan hias dari Bandung, Jawa Barat, yang turut mengamati tren akuarium nano di Aquarama 2011 itu.

Peluang

Tren akuarium nano di Aquarama 2011 yang digadang-gadang menjadi pilihan hobiis akuarium air tawar dan laut di masa depan itu sebetulnya memberikan peluang besar bagi peternak, eksportir, serta pelaku bisnis ikan hias dan tanaman air di Indonesia. Akuarium nano berukuran mini sehingga ikan-ikan penghuninya pun pasti bertubuh mungil seperti siklid, platy, udang hias, cupang, neon tetra, dan rainbow. Dua yang disebut terakhir merupakan ikan hias yang sejak lama dapat dicetak massal oleh peternak lokal. ‘Jangan sampai peluang besar ini justru jatuh ke tangan peternak atau eksportir negara lain, sedangkan kita hanya menjadi penonton,’ ujar Mulyadi.

Demikian pula tanaman air. Meski masih selangkah tertinggal dibandingkan penangkar di Jerman, Belanda,  atau Singapura dalam jumlah jenis, mutu, dan kontinuitas pasokan, tetapi Indonesia sebenarnya salah satu gudang tanaman air eksotis. ‘Banyak tanaman air kita yang belum dieksplorasi,’ ujar Matali, penangkar tanaman air di Malang, Jawa Timur.

Mengacu kepada ukuran akuarium nano yang mini, beberapa tanaman air hasil silangan yang ditangkarkan secara alami di tanahair sudah dapat memenuhi kriteria itu. Sebut saja tanaman air Echinodorus hadi red pearl. Tanaman hasil silangan alami 3,5 tahun lalu oleh Matali di lahan penangkaran seluas 200 m2 di Malang itu sosoknya kecil dengan tinggi maksimal 15 cm, kompak, dan bercorak merah terang. ‘Sudah banyak yang meminta, tetapi produksinya masih sedikit,’ ujar Matali yang membawa 6 tanaman ke Aquarama 2011 dan menjualnya eceran dengan harga US$100 per tanaman itu.

Dalam pengamatan Trubus, Singapura lebih lihai memadukan tren akuarium nano dan industri ikan hiasnya. Qian Hu Fish Farm, misalnya, selalu merekomendasikan sejumlah ikan hias yang sukses mereka produksi sebagai pengisi akuarium nano. Setiap calon pembeli akuarium nano di Qian Hu selalu mendapat selembar brosur yang berisi sederet ikan hias calon penghuni akuarium nano itu. Beberapa ikan hias yang ditawarkan itu adalah freshwater molly Poecilia sphenops, long fin glass angel Gymnochanda filamentosa, golden archer fish Toxotes blythii, cory gold stripe Corydoras aeneus, dan beberapa jenis udang hias anggota keluarga neocaridina seperti red shrimp atau bumble bee.

Menurut Mulyadi sangat terbuka peluang bagi peternak lokal untuk membudidayakan ikan-ikan yang direkomendasikan oleh Qian Hu, misalnya. ‘Peternak kita terkenal jago menernakkan ikan hias. Apalagi banyak ikan hias ekspor Singapura berasal dari Indonesia,’ katanya. Peluang kini terbuka lebar seiring meroketnya pamor akuarium nano. Kini tinggal bagaimana peternak dan eksportir tanahair memetik kesempatan itu agar dapat lebih banyak mendulang rupiah. (Dian Adijaya S).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img