Wednesday, August 10, 2022

Aquaria, Calon Kiblat Aksesori Dunia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Siang itu, Hall 2 di Jinhan Exhibition Center seluas 9.000 m2 tampak meriah dihadiri para undangan mulai dari pejabat pemerintah, eksportir, dan pelaku bisnis ikan hias, dalam dan luar negeri. Selain secara simbolis membuka pameran, Prof Tan Qisheng juga menyerahkan piala pada masing-masing para grand champion lomba ikan yang berlangsung sehari sebelumnya.

Perhelatan perdana Aquaria Cina itu di Guangzhou, Provinsi Guangdong, Cina Selatan. Guangzhou dipilih lantaran saat ini menjadi sentra baru industri ikan hias terbesar di negeri Tirai Bambu setelah Beijing dan Shanghai. Merujuk data panitia, tak kurang 100.000 pekerja di sana menggantungkan asap dapur pada industri ikan hias.

Dominan aksesori

Menurut Linda Tan, senior project organizer Aquaria Cina dari CMP, even pertama ini lebih didominasi oleh aksesori. “Sebagai tuan rumah Cina memang terkenal sebagai produsen aksesori,” ujar Linda yang juga penanggungjawab even 2 tahunan ikan hias Aquarama di Singapura. Tercatat dari 80 perusahaan yang hadir, lebih dari setengahnya memamerkan aksesori seperti pompa, filter, dan akuarium.

“Peserta asing yang hadir tidak sebanyak seperti di Aquarama,”ujar Hendra Suria, representatif Ocean Free di Indonesia saat dihubungi per telepon. Selain Tetra, raksasa aksesori Eropa yang hadir hanya Jerrard Bros PLC asal Inggris. Mereka tampil dengan produk baru pompa head elektrik.

Tuan rumah hadir full team. Beberapa produsen aksesori seperti Ocean Free, Altman, Resun, dan Boyu, tampak membuka stan cukup luas. Saat kaki menjejak masuk pandangan mata akan terjerat pada paviliun Ocean Free seluas 400 m2. Selain memamerkan aneka produk, beberapa poster berukuran besar dipasang menjulang setinggi 5 m.

Hampir semua produk yang ditampilkan peserta tuan rumah yang berderet dalam 1 paviliun seragam. Umumnya setiap stan memajang perlengkapan seperti lampu akuarium, pompa head, filter, background, pakan ikan, dan obat-obatan. Beberapa tampak memajang akuarium air tawar dan laut sebagai display.

Turut serta

Pada perhelatan perdana ini, Indonesia menghadirkan 6 perusahaan seperti Sealife Internasional, PT Intinental Pri, PT Matahari Sakti, CV Samudra Jaya Abadi, dan CV Yasmin Abadi. Selain menjadi wakil tanah air, mereka juga gencar melakukan promosi untuk memperluas jaringan pasar. Beberapa eksportir dan kalangan birokrat dari Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) tampak hadir. “Kami sengaja ke sini untuk melihat potensi dari Cina,” ujar Iwan Dharmawan, eksportir di Cibubur Jakarta Timur. Hal senada terlontar dari Wisnu Winawan dari Jafpa Comfeed.

Meski demikian beberapa eksportir kakap tanah air mengaku tidak tertarik hadir. “Ini kan even pertama jadi belum tahu efeknya. Kita sendiri tidak ada pengiriman ke sana,” papar Jap Khiat Bun, pemilik CV Maju Aquarium di Cibinong, Bogor. Terbukti selama pameran yang diprakarsai oleh Asia Pasifik Ornamental Fish Union (AOFU) berlangsung, pengunjung dari luar negeri sedikit yang datang. “Selama pameran, suasana tampak sepi,” ujar Hendra Suria.

Selama pameran yang berlangsung dari 9—12 September 2004 itu, sejak 10 September digelar berbagai acara seminar tentang ikan hias. Beberapa pakar ikan hias seperti pakar diskus Dr Alex Ploeq dan Bern Degen mempresentasikan makalah di Hall 2. Untuk acara seminar setiap peserta ditarik bayaran US$4. Ahad, tepat pukul 20.00 waktu Guangzhou pameran Aquaria pun resmi ditutup. Sampai jumpa di Aquaria 2006. (Dian Adijaya S)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img