Monday, November 28, 2022

Ara Pendek Negeri Sakura

Rekomendasi

Pemandangan itu ada di salah satu sudut Wakayama, Honshu Selatan, Jepang. Di sana pohon anggota famili Moraceae itu sengaja dipertahankan pendek. Setiap tanaman punya 2 cabang primer yang direbahkan 60 cm dari permukaan tanah. Panjang masing-masing 2 m. Dari setiap cabang horizontal, 20 cabang sekunder dibiarkan tumbuh vertikal. Di sanalah dihasilkan 440 buah seukuran bola pingpong setara 30,8 kg per tanaman.

Setiap kali buah habis dipanen, cabang-cabang vertikal dipangkas. Dalam 2 minggu tumbuh tunas-tunas baru. Delapan bulan kemudian dari sana buah tin kembali dipanen. Begitu seterusnya. Total jenderal pekebun di negeri Sakura itu memanen 22,2 ton buah ara per tahun.

Rp2-juta per pot

Kondisi itu berkebalikan dengan di Indonesia. Di tanahair, ara masih dianggap sebagai tanaman koleksi. Kerabat beringin itu ditumbuhkan di dalam pot. Ia ditaruh di halaman rumah para kolektor atau jadi pohon simbol di halaman mesjid atau gereja. Maklum di tanahair tin populer sebagai buah religi yang disebut di dalam 2 kitab suci.

Pantas harganya pun mahal. Eddy Soesanto, pemilik nurseri Tebuwulung di Jakarta pernah menjual tabulampot tin jenis yordan hijau setinggi 2 m seharga Rp2-juta. Jika masih bibit Rp75.000 cangkok setinggi 60 cm. Perkara harga tinggi jadi salah satu kendala mengebunkan ara di tanahair. ‘Padahal jika bisa dikebunkan lebih banyak keuntungan. Di negara tropis buah dapat dipanen sepanjang tahun,’ ujar Narongchai Pipattanawong, PhD, direktur Agro-Ecological System Research and Development Institute (AERDI), Kasetsart University, Bangkok.

Di Jepang yang mengalami 4 musim, tin hanya bisa dibuahkan pada musim panas dan gugur, yaitu Juli, September, dan Oktober. ‘Namun, pekebun di sana mayoritas hanya membuahkan pada musim gugur agar ukuran buah maksimal,’ kata Oda, pencinta buah asal Jepang. Jenis yang paling banyak ditanam dolphine karena produktivitasnya paling tinggi.

Karena topan

Di negeri Sakura budidaya tin dengan mempertahankan tanaman pendek dimulai 40 tahun silam. Sebelumnya kerabat nangka itu dikebunkan dengan model konvensional: pohon dibiarkan meninggi hingga 2-3 m. Cara yang sama banyak dilakukan pekebun di Kalifornia, Amerika Serikat.

Kelemahan teknik konvensional, pohon yang tumbuh tinggi gampang tumbang diterjang angin besar. Itu yang terjadi waktu topan meratakan sentra produksi tin di wilayah Aichi-ken, Jepang, pada awal 1960. Berawal dari bencana itu model penanaman beralih ke sistem baru: pohon dipertahankan pendek dan jarak tanam lebih rapat.

Cara seperti itu menuai sukses. Produk-tivitas meningkat. Dengan cara konvensional jarak tanam 6 m x 6 m. Pada hight density planting (HDP) menjadi 2 m x 5 m. Artinya dengan sistem konvensional populasi per ha sebanyak 277 pohon. Dengan HDP 1.000 pohon.

Dengan perawatan optimal produktivitas per tanaman bisa melonjak. ‘Produksi buah meningkat karena tunas vertikal tempat munculnya buah lebih banyak pada posisi cabang yang dibuat horizontal,’ kata Ir AF Margianasari, kepala Bagian Kebun, Produksi, dan Penelitian Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor.

Lebih repot

Sejak 2-3 tahun silam pekebun di negeri Siam mengadopsi cara tanam ala Jepang. Ujicoba dilakukan di Royal Research Station, Chiangmai, yang berketinggian 700 m dpl. Sebanyak 1.000 fig tree ditanam dengan jarak rapat 2 m x 4 m di lahan seluas 5 rai setara 8.000 m2. Cabang-cabang primernya juga direbahkan supaya dihasilkan lebih banyak cabang sekunder yang produktif menghasilkan buah.

Kondisi lingkungan mikro dibuat supaya mendukung pertumbuhan tanaman. Pada ketinggian 3,5 m dibentangkan plastik ultraviolet. ‘Tujuannya melindungi dan menjaga kualitas buah dari guyuran hujan,’ ujar Narongchai. Dengan perlakuan intensif pada tahun ke-2 produktivitas per pohon mencapai 400-600 buah. Cara konven-sional kurang dari 100-200 buah/pohon.

Toh model HDP bukan tanpa kendala. ‘Teknik perundukan memerlukan tenaga kerja lebih intensif untuk pemangkasan dan pengikatan cabang,’ kata Margianasari. Sanitasi kebun pun mesti terjaga karena risiko serangan penggerek batang lebih besar. Butuh penanganan ekstra supaya didapat buah ekstra. (Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img