Monday, November 28, 2022

Arabicum & Obesum Adu Populer

Rekomendasi

Chandra-pelopor bisnis kamboja jepang tanahair-lebih kondang sebagai pemain adenium bunga. Namun, di depan arabicum thai socotranum pemenang kontes di Suan Luang, Bangkok, Thailand, mereka sama-sama terpaku.

 

Penampilan hibrida hasil silangan arabicum dan ra chine pandok itu memang menawan. Diameter umbi mencapai 60 cm dengan tinggi 1 m. Diduga umurnya 30 tahun. Akar menonjol membelit caudex dengan proporsi seimbang di semua sisi. Tajuk rimbun membentuk payung selebar 1 m.

Komposisi tanaman lengkap, dengan alur dari batang, cabang, ranting mengalir lancar. Di sekujur ujung ranting, bunga berwarna merah muda mekar menyembunyikan daun yang hijau. Pantas Adeng dan Chandra terkagum-kagum. ‘Ini thai socotranum terbesar yang pernah saya lihat. Sosoknya sempurna dari bawah sampai ke atas,’ kata Adeng. Si jawara hanya bisa berpindah tangan dengan harga 1,5-juta baht setara Rp390-juta.

Nyatanya bukan kali itu saja orang kepincut arabicum. Pada awal 2007 Halley WS, kolektor di Yogyakarta, jatuh cinta pada arabicum bersosok bongsor koleksi nurseri Godongijo, Sawangan, Depok. Penampilan anggota famili Apocynaceae itu memang berbeda dibanding arabicum lain. Lazimnya, caudex arabicum membukit. Dari caudex muncul banyak cabang.

Arabicum setinggi 2 m koleksi Godongijo, berbatang tunggal. Diameter batang bagian bawah 50 cm, lalu mengecil hingga tinggal setengahnya pada ketinggian 80 cm. Pada ketinggian itu, barulah keluar 3 cabang. Dengan penampilan sempurna, Halley rela merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah. Waktu dibawa ke kontes akbar di Tangerang pada awal April, arabicum itu menyabet gelar grand champion.

Berkarakter

Semua kolektor sepakat, mereka tergila-gila pada arabicum karena kepincut karakter pohon yang berbeda dengan obesum. ‘Semua komponen pohon bisa dinikmati,’ ujar Rusli Hadinata, kolektor di Gadingserpong, Tangerang. Pakar desain interior itu mengumpulkan jenis arabicum yaman. Ciri utamanya, ukuran caudex-alias pangkal batang-esktrabesar. Rusli punya 30 pot berdiameter caudex 60-80 cm.

Masih di Tangerang, Angguan mengoleksi 70 pot ra chine pandok, thai socotranum, black giant, dan diamond crown. Dua yang disebut pertama favorit. Ra chine pandok punya kelengkapan tanaman-batang, cabang, dan ranting-utuh meski masih muda. Thai socotranum batangnya kekar, bonggolnya menggembung. Sifat-sifat itu membuat arabicum jadi terkesan kokoh. Alasan serupa membuat Eddy Sebayang di Tangerang, Purwanto (Yogyakarta), Hariyanto (Jepara), Handoko Buntoro (Pati), Tjandra Ronywidjaja (Ponorogo), F Cu Liang (Situbondo), dan I Pen Yen (Surabaya) mengoleksi arabicum. (baca: Yang Tergila-gila Yak Saudi, halaman 18).

Pendek kata menurut Adeng, gara-gara hobiis semakin terdidik menghargai keindahan tanaman berkarakter, arabicum dilirik. Apalagi lahir varian-varian yang tidak kalah menawan. Sebut saja silangan ra chine pandok dengan obesum yang melahirkan obesum cabang 1.000 dan black arabicum-hasil perkawinan Adenium somalense dan arabicum.

Lagipula kata Madyana Heru Wicaksono di Semarang, ‘Keindahan bonggol dinikmati lebih lama. Kalau bunga, begitu rontok hilang keindahannya.’ Makanya begitu desert rose berbonggol indah berbunga, hasilnya pasti lebih cantik. Seperti thai socotranum juara kontes yang Adeng dan Chandra lihat di Suan Luang, Bangkok.

Bisnis

Buat sebagian orang, keindahan arabicum berarti rupiah. Pada Januari, Handhi memborong 10 ra chine pandok berukuran besar, 100 pohon jenis sama tapi lebih kecil (diameter 10-15 cm), 2 ra chine pandok golden, dan 2 ra chine pandok black dengan harga hingga puluhan juta rupiah. Begitu barang datang, langsung diambil pemesan. Di Yogyakarta, Rudi Hartono menangguk rupiah dari ra chine pandok berdiameter 8 cm dan 2 thai socotranum ukuran kecil. Sementara di Surabaya, Eddy Sutioso memasukkan 100 arabicum besar-diameter 80 cm-dan 10 arabicum kelas kontes.

Toh para pemain sepakat, pasar terbesar di kelas bibit. Pada 2007, minimal 2 kali Eddy Sutioso mendatangkan bibit arabicum dari Thailand. Sekali impor, 2.000 bibit berumur 3-6 bulan setinggi 15 cm. Hingga akhir April 2007, jumlah yang masuk mencapai 4.000 tanaman. Bibit untuk memenuhi permintaan pedagang pengecer, 50- 100 pot per hari pada kemarau. Anggap kemarau dimulai pada Apri,l maka total permintaan 1.500-3.000 pot per bulan. Dengan harga jual Rp25.000- Rp75.000, minimal omzet didapat Rp37,5- juta- Rp225- juta.

Hartono memilih mengimpor biji. Setiap bulan pemilik nurseri Kristal itu memborong 5.000-10.000 biji. Seperlima bagian ditanam sebagai bibit. Sisanya dijual langsung. Dengan harga biji paling murah Rp4.000 berarti omzetnya minimal Rp16-juta-Rp32-juta per bulan. Tiga bulan berselang, itu ditambah pemasukan dari penjualan bibit. Tergiur rupiah yang didapat para pionir, banyak importir dan pekebun baru bermunculan. Pengamatan Eddy Sutioso, di Surabaya kini ada 20- 30 importir. Di Tangerang, sejak pertengahan 2006 ada 2 pemain baru. Pekebun skala rumahan di Meruya, Jakarta Barat, dan Tangerang pun mulai ikut menanam arabicum.

‘Kecenderungan pasar sekarang bergerak ke 2 arah: bunga dan bonggol,’ kata Rosidi.
Seperti kata Vitoon Techacharoen sukchera -pemain tanaman hias kawakan Thailand, ‘Tanpa diawali obesum, arabicum tak akan tren.’

Jenuh

Adeng menjelaskan duduk perkara arabicum kini jadi pilihan. ‘Ada kejenuhan di pasar bunga, harga turun dengan cepat,’ kata pemilik nurseri Watuputih itu. Pada awal 2000-an harga adenium bunga jenis baru ratusan ribu rupiah per pot. Kini dengan ukuran sama Rp80.000. ‘Jadi orang pilih yang harganya stabil, ya arabicum,’ lanjut Adeng. Iming-iming harga jual minimal 5 kali jenis obesum-ukuran seedling-cukup menggiurkan.

Waktu disambangi pada akhir April 2007, Rosidi di Pati baru saja melepas 300 bibit arabicum berumur 4 bulan. Itu hasil pembesaran dari 100.000 biji yang disemai pada awal 2007. Harga jual pada umur 4 bulan Rp30.000 per bibit. Dengan harga biji Rp5.000 dan biaya perawatan Rp1.000 per bulan, Rosidi masih mengantongi laba Rp21.000 per seedling.

Pantas pria yang terjun ke bisnis pembibitan adenium sejak 1995 itu kini lebih banyak menyemai arabicum-75% dari total populasi. Dengan perimbangan itu, omzetnya Rp150-juta per bulan. Dari pengalaman para pemain, permintaan arabicum meroket sejak pertengahan 2006. Minimal 1.000 bibit arabicum yak saudi dan yaman di kebun Heru ludes selama 6 bulan terakhir. Padahal, pemiliki nurseri Pendawa itu mulai menyetok sejak awal 2006.

Gara-gara permintaan datang terus-menerus, Handhi bolak-balik ke Thailand. Proporsi penjualan arabicum di nurseri milik Freddy Darmawan di Yogyakarta berubah menjadi 2:1 dibanding obesum. Sebelumnya, penjualan arabicum paling 1/10 obesum. Sejak 2007, permintaan arabicum ke nurseri Samsara milik Fendi Salim di Sunter, Jakarta Utara, naik 100%.

Maraknya kontes, pameran, dan publikasi media diduga mendongkrak pamor arabicum. Bahkan sejak setahun terakhir, arabicum masuk kelas terpisah dari obesum. ‘Kategori arabicum dibagi-bagi lagi menjadi ra chine pandok (rcn), nonrcn, dan thai socotranum,’ tutur Nizam Zuhri Khafi d, ketua PPADI (Perhimpunan Penggemar Adenium Indonesia). Dari puluhan varian arabicum, jenis ra chine pandok, thai socotranum, dan yaman paling diincar.

Imbas ke Thailand

Kondisi di tanahair langsung berimbas ke Thailand. Maklum negeri Gajah Putih itu sumber utama masuknya arabicum ke Indonesia. Simak saja data penjualan di Siam Adenium milik Choochart Suntrapornchai di Pathumthani. Total produksi biji di kebun spesialis arabicum itu pada 2006 sebanyak 100.000 biji.

Dari jumlah itu, 50% untuk memenuhi permintaan Indonesia. Pada 2007, Choochart menargetkan produksi 200.000 biji. ‘Permintaan naik 2 kali lipat sejak setahun terakhir,’ tutur Choochart.

Itu setali 3 uang dengan yang ditemui di C&O Nursery milik Oratai Suksumit di Ayuthaya. Pada 2005, produksi 2.000.000 biji obesum. Pada 2006, datang permintaan biji arabicum dari Indonesia. Dengan cara berburu dari kebun ke kebun, terkumpul 800.000-1.000.000 biji. Pada 2007, permintaan masuk mencapai 1.500.000 biji arabicum. Lonjakan permintaan juga dialami Suttikarn Jiamrattanaprasit di Pathumthani, Ramkhaeng di Nakhonpathom, dan Preecha Thamchuchaowarat di Nonthaburi.

Batu sandungan

Namun, janji untung arabicum tak selalu manis. Jumlah biji sangat terbatas. Menurut hitungan Hartono, produksi biji arabicum 1:10 dibanding obesum. Selama ini pasokan biji mengandalkan Thailand. Padahal kualitas biji asal negeri Siam tidak selalu nomor wahid. Pengalaman Rudi Hartono, dari 10.000 biji arabicum yang diminta hanya 80% asli. Sisanya campuran obesum dan jenis lain. Sudah begitu, biji arabicum belum tentu jadi semua.

Sumber lain bukan tak ada. Eddy Suharry di Jakarta dan Angguan mendapatkan arabicum dari Taiwan. Rosidi membeli dari India. Menurut pengalaman ayah 2 anak itu, tingkat keberhasilan tumbuh biji asal India lebih bagus. Kendalanya, akses ke Taiwan dan India lebih sulit.

Batu sandungan lain, keaslian jenis. Akibat persilangan berkali-kali, biji dari induk tertentu belum tentu menghasilkan tanaman sama. Upaya memproduksi biji sendiri bukan tak ada. Sayang, tingkat kegagalan tinggi. Penamaan terlalu banyak juga membingungkan. ‘Hanya karena beda sedikit, diberi nama lain. Padahal mungkin itu hanya varian,’ ujar Adeng dan Heru berbarengan.

Bertambahnya jumlah importir dan pedagang menjadikan persaingan ketat. Pasar memang jadi semakin ramai, tapi di sisi lain omzet turun. Kendala lain, seperti halnya obesum, arabicum rentan serangan busuk batang dan hama spider mites. Gara-gara salah pengemasan, ra chine pandok berdiameter bonggol 50 cm yang diimpor Handi pada Desember 2006 busuk. Duit Rp50-juta amblas.

Prediksi

Toh, para pekebun pantang menyerah. Meski sulit, beberapa sukses membuahkan. Sebut saja Handhi, Rusli, Adeng, dan Sukris Dwi Ruwanto. Dengan biji produksi sendiri tingkat keberhasilan semai mencapai 95%. Untuk mengatasi busuk, para pemain membangun rumah plastik, terutama selama musim hujan.

Begitu kendala diatasi, peluang membentang. Menurut hitungan Heru, pasar arabicum baru 5% dari total pasar adenium-obesum masih dominan. Pasar-pasar baru ke daerah potensial untuk digarap. Para pemain memprediksi, tren arabicum bertahan hingga minimal 2-3 tahun ke depan. Itu berkaca pada pengalaman mempopulerkan obesum. Alasan lain, masih banyak hobiis yang suka bunga. ‘Biasanya begitu mereka bosan dengan bunga, larinya ke bonggol,’ kata Heru, Freddy Darmawan, dan Eddy Sutioso sepakat.

Jenis arabicum kohinzo diduga bakal naik daun. Bentuknya mirip golden crown, tapi melebar ke samping dengan batang kemerahan. Jenis lain, arabicum berbunga putih dan berdaun variegata. ‘Tanaman baru’ hasil teknik graft ing pun menarik. Seperti obesum berbunga ra chine pandok juara kontes Blitar. Di masa depan, spesies berkarakter mirip arabicum-Adenium somalense, A. socotranum, dan A. bohemianum-bakal mengekor.

Versus bunga

Jika arabicum tengah naik daun, bagaimana nasib obesum? ‘Adenium bunga tetap laku,’ ujar Drs Ambri Kasum, pelopor adenium di sentra Karangtengah dan Gondrong, Tangerang. Setiap bulan 50.000 bibit obesum berumur 4-6 bulan keluar dari nurseri Ahimsa milik Martono Imam Santoso di Yogyakarta. Volume penjualan arabicum paling 1/4-1/3-nya. Sebanyak 80% pembeli ke nurseri Kondang milik Sukris Dwi juga masih menanyakan bunga.

Musababnya, ‘Obesum sudah punya pasar sendiri,’ ujar Iman. Ia menyebut pedagang kakilima sebagai pasar adenium bunga. ‘Soalnya dilihat dari harga eceran lumayan jauh. Harga bibit obesum paling Rp20.000- Rp25.000, arabicum Rp75.000- Rp100.000,’ katanya. Pedagang di daerah juga pembeli potensial. Konsumen lain, hobiis baru dan kaum ibu. Jenis bunga baru yang terus bermunculan membuat pasar obesum ajek.

Toh permintaan arabicum yang bertubi-tubi membuat pekebun bersikap realistis. Sukris Dwi mendatangkan induk arabicum. Iman mulai menyemai biji. Jumlahnya memang lebih sedikit ketimbang obesum. Namun, mereka tak ingin ketinggalan. ‘Kecenderungan pasar sekarang bergerak ke 2 arah: bunga dan bonggol,’ kata Rosidi. Seperti kata Vitoon Techacharoensukchera-pemain tanaman hias kawakan Thailand, ‘Tanpa diawali obesum, arabicum tak akan tren.’ (Evy Syariefa/Peliput: A. Arie Raharjo, Destika Cahyana, Dyah PK, Hermansyah, Nesia Artdiyasa, dan Rosy N Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Bisa Jadi Pilihan Petani, Ini Kelebihan Varietas Cabai Jacko 99

Trubus.id — Pilihan varietas cabai menjadi salah satu penentu hasil panen yang akan didapatkan. Oleh karena itu, petani harus...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img