Puluhan juta rupiah ia kantongi saban bulan. “Bocah edan,” kata sang ibu sengit. Kedua orang tua dan 4 kakaknya menolak. Ketika rencana keluar kembali disampaikan kepada perusahaan, Aris Budiman malah ditantang, “Mau naik gaji berapa?”
Aris Budiman bergeming. Ia laksana anak panah yang telanjur lepas dari busur, sulit untuk ditahan. Bagi Adeng—demikian ia disapa—lebih baik menjadi kepala ayam ketimbang ekor naga. “Tujuan akhir saya bekerja di berbagai perusahaan adalah mengumpulkan modal untuk bekerja sendiri,” ujarnya. Bungsu 5 bersaudara itu mengawali karier pada September 1993 sebagai akuntan sebuah perusahaan elektronika. Sepuluh tahun berselang di perusahaan berbeda ia menjabat sebagai kepala cabang.
Saat di puncak karier itulah pria 35 tahun justru berhenti. Langkah Adeng kemudian dikuti istrinya, Jumiati, yang juga berhenti sebagai manajer akuntansi. Jadilah sepasang suami-istri mengelola Nurseri Watuputih yang didirikan pada 1998. Ketika aktif bekerja, Adeng memang kerap memborong adenium. Ia melancong Jakarta dan Sidoarjo untuk memburu tanaman hias asal Yaman.
Beragam koleksinya itu akhirnya diperdagangkan pada 1998. “Dari 100 pengunjung, paling yang beli hanya 10 orang. Selebihnya hanya mengagumi,” ujarnya melukiskan sulitnya memasarkan adenium saat itu. Adeng kemudian kerap mengikuti pameran di Yogyakarta dan sekitarnya untuk memperkenalkan adenium. Pada perkembangan selanjutnya, harga adenium lebih terjangkau akibat banyaknya importir. Perubahan itu membawa angin segar bagi Adeng lantaran permintaan terus mengalir. Itulah yang membulatkan tekadnya untuk berhenti bekerja sebagai kepala cabang dan menekuni bisnis adenium.
Kepiawaiannya membonsai menjadi modal kuat baginya. Sebelum menekuni tanaman hias famili Apocynaceae itu, Adeng memang terlebih dulu menggeluti bonsai. Ia belajar bonsai secara otodidak plus berguru kepada para pebonsai. Lalu pada 1998, intensitas pekerjaan membonsai mengendur, ia menerapkan ilmu bonsai pada adenium.
Tiga kelas
Adeng salah satu orang yang memperkenalkan adenium di Yogyakarta. Adenium dianggap memiliki kelebihan ketimbang bonsai, seperti bentuk bonggol unik dan berbunga. Itulah daya tarik bagi para konsumen. Seiring tren kerabat plumeria itu, omzet yang ditangguk kian meningkat. Sebagai gambaran, pendapatan rata-rata sekitar Rp60-juta—Rp100-juta per bulan.
Itu hasil penjualan 80% adenium kelas A yang tingginya 10—20 cm dengan diameter batang 4 cm. Harganya Rp30.000—Rp40.000 per pot untuk jenis lama dan Rp75.000—Rp100.000, jenis terbaru. Sekitar 20% lainnya hasil penjualan adenium kelas B dan C. Kelas B merupakan tanaman asal biji berdiameter batang 8—10 cm. Kemudian tanaman disambung dengan cabang-cabang baru hingga 10—15 titik sambungan. Harga adenium kelas B Rp200.000 per pot.
Mawar gurun kelas C dari bonggol gresik yang ukurannya bervariasi 30—40 cm hingga raksasa. Gresik, Jawa Timur, menjadi salah satu pemasok bonggol potensial. Harganya pun relatif tinggi, mencapai Rp10-juta per tanaman. “Di Yogyakarta orang fanatik dengan bentuk bonggol, bunga nomor dua,” kata alumnus STIE YKPN Yogyakarta itu.
Pada adenium, estetika ditentukan oleh bonggol. Jenis yang diminati saat ini turunan nobel seperti supernobel dan superstar, prominent 1, marvelous, serta black warrior. Hasil pemeringkatan Adeng, yang termasuk 5 besar adalah beauty cloud 2, big cubines, marvelous, black warrior karena bermotif baru.
Omzet di atas—Rp60-juta—Rp100-juta—belum memperhitungkan penjualan adenium kelas kontes yang harganya puluhan juta rupiah. Menjelang lomba bagus-bagusan, biasanya permintaan melonjak hingga belasan pot. Sebaliknya, bila tak ada lomba permintaan adenium kelas kontes amat rendah.
Busuk bonggol
Begitu mudahkah Adeng meraup laba dessert rose? Tidak juga. Beragam kendala terus menghadang hingga kini. Yang acap terjadi adalah busuk bonggol seperti dialami 9 pohon besar berdiameter 20 cm. Dengan harga beli Rp300.000 per tanaman, kerugiannya mencapai Rp2.700.000. Lalu di penghujung 2004, 100 tanaman busuk. Sebagian gagal diselamatkan hingga kantongnya terkuras Rp7-juta. Menurut pria berkaca mata itu penyebab busuk akibat media yang tak porous.
Setelah mengganti media dengan formula sekam mentah, sekam bakar, dan pasir saring serta menambahkan kotoran kambing di dasar dan atas pot, busuk bonggol teratasi. Toh, itu bukan akhir hambatan. Kendala lain? Pada medio 2004, 19 tanamannya yang bagus-bagus dicuri mengakibatkan kerugian Rp9,7-juta.
Toh, hambatan itu bukan untuk dihindari. Jika mampu mengatasi, laba adenium dapat teraih. Dalam bisnis adenium, jenis terbaru andil mendongkrak permintaan hingga puluhan persen. Oleh karena itu ia senantiasa memburu jenis terbaru melalui importir di Jakarta dan perwakilan importir lain di Yogyakarta. Cabang-cabang jenis baru itu kemudian disambung dengan batang bawah yang ditumbuhkan dari biji. Sebuah tanaman jenis terbaru, dapat menghasilkan 30—40 tanaman. Maklum, ukuran cabang yang akan disambung cuma 3—4 cm. Dua bulan kemudian, hasil sambungan itu sudah dapat dipasarkan, meski bunga belum muncul. “Konsumen biasanya lihat katalog. ‘Oh bungannya nanti begini ya’,” ujar Adeng menirukan ucapan konsumen.
Selain perbanyakan vegetatif, Adeng juga membenihkan biji yang dimanfaatkan sebagai batang bawah. Biji-biji itu didapat dari buah tanaman koleksinya. Sebagian membeli via importir yang mendatangkan biji dari Taiwan. Setelah diamater batang 3 cm, tanaman asal biji itu siap sambung.
Bisa diterima
Bagi produsen adenium seperti Adeng, musim kemarau membawa berkah. Sebab, “Menginjak musim kemarau pada Mei—Juni ini permintaan naik 200%,” katanya. Artinya rekening pria bertubuh gempal itu kian gemuk. Permintaan juga datang dari Solo, Ngawi, Ponorogo, Surabaya, Jakarta, Semarang, Lampung, Lombok, dan Pontianak. Pengiriman ke luar kota rutin sebulan sekali. Volumenya tak tentu, kadang 2—5 tanaman besar yang nilainya jutaan rupiah. Konsumen di luar Jawa cenderung minta jenis lama. “Mereka menyebut warna bunga, merah atau putih. Mereka tak menyebut jenis,” katanya.
Dengan demikian, keputusan untuk berhenti sebagai kepala cabang tak secuil pun melahirkan penyesalan. Sang ibunda yang dulu menentang, sekarang, “Ibu malah senang. Sebulan sekali ia datang ke Watuputih,” kata Adeng. Soal nama Watuputih, karena pada awal pembukaan usaha terdapat jalan setapak berupa batu putih Oleh orang di sekitar Kaliurang, Yogyakarta—lokasi nurseri milik Adeng—selalu dijelaskan, “Itu lo yang ada batu putihnya. Di sana pula Adeng menggantungkan laba. (Sardi Duryatmo)
