Saturday, June 22, 2024

Arry Supriyanto: Nyanyian Merdu sang Pengarang Lagu

Rekomendasi
- Advertisement -

Sesekali 1—2 telunjuk terangkat ke atas. Sang empunya masih penasaran dengan penjelasan Arry. Raut wajah yang menyiratkan kebimbangan berubah puas begitu mendengar jawaban-jawaban gamblang dari peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur itu.

Tak terbersit kelelahan di wajah Arry meski sebelumnya mesti memacu kendaraan selama 3—4 jam dari kediaman menuju tempat pertemuan. Kelahiran 23 Maret 1954 itu manut dengan keinginan para pekebun untuk mengadakan pertemuan selepas Isya lantaran mereka bekerja di kebun pada siang hari.

Tak heran kerap terjadi Arry mesti menginap di kediaman salah seorang pekebun lantaran pertemuan usai terlalu malam. Jalan berlubang di kawasan sentra penanaman Kecamatan Bendo, Takeran, Sukomoro, dan Kawedanan—dikenal dengan nama Betasuka—terlalu riskan untuk dilalui di malam hari menuju kediaman di Tlekung, Malang.

Jadi penyanyi

Toh itu tak menyurutkan langkah Arry dan rekan-rekan satu tim di BPPT melakukan penyuluhan 1—3 kali dalam seminggu. Ayah 2 anak itu pantang surut mesti untuk itu ia kerap meninggalkan keluarga. “Saya rela kerja di luar jam kantor. Yang penting ilmu dan pengetahuan dari kami sampai kepada pekebun,” tuturnya saat ditemui Trubus di penghujung Mei silam.

Tak melulu bertatap muka, ia juga rajin “menjumpai” para pekebun melalui siaran Radio Keliling FM. Pada malam-malam tertentu mulai pukul 19.00—22.00 ia mengudara dengan tema berbeda-beda tentang budidaya pamelo.

Paparan pria yang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Institut Pertanian Bogor itu beberapa kali diselingi tanyajawab dengan para pekebun. Maklum acara itu memang untuk mewadahi kepentingan mereka yang tak sempat menghadiri pertemuan. “Kalau penyuluhan ingin berhasil harus terjun sendiri karena pekebun baru mau mengikuti bila dibarengi contoh nyata. Pengarang lagu mesti menjadi penyanyi sekaligus,” ujar Arry mengandaikan.

Bukan dewa

Kegigihan pria berkacamata itu meluluhkan hati para pekebun. Penyuluhan demi penyuluhan membuka wawasan mereka. Mereka akhirnya rela memusnahkan jeruk-jeruk besar yang keluar di musim sela pada Agustus—Oktober 1998. Buah-buah Citrus grandis yang semestinya masih bisa dijual itu dibenamkan untuk memutus siklus lalat buah yang menjadi momok.

Tanaman sakit akibat serangan blendok diobati dengan mengoleskan bubur kalifornia buatan sendiri. Lalat buah dan blendok menyebabkan 60—70% buah gagal panen. Serangan kedua pengganggu itu pula yang mendorong pemda Magetan meminta bantuan pada BPTP Jawa Timur.

Kiat-kiat itu terbukti sukses. Pada musim buah April 1999 para pekebun mulai kembali memetik pamelo. Kalau semula Arry dan rekan-rekan mesti “mengejar-ngejar” pekebun untuk melakukan penyuluhan, justru mereka kini yang dicari-cari. Hampir semua hal ditanyakan pada tim peneliti itu. “Saya sampai takut salah omong karena semua perkataan dianggap benar. Padahal kan kami bukan dewa,” kata Arry.

Bersalin rupa

Jerih-payah master Fisiologi dari Institut Pertanian Bogor dan rekan-rekan itu terlihat sekarang. Waktu Trubus berkunjung ke Magetan pada penghujung Mei silam, musim panen baru dimulai. Di kebun-kebun milik pribadiyang rata-rata berluasan 1/4 ha berisi 75 batang, buah sebesar bola takraw masih bergelayutan.

Aspal nan mulus membentang sepanjang Betasuka menggantikan jalan berlubang. Itu hasil urunan para pekebun pamelo yang koceknya menggelembung berkat jeruk besar (baca : Laba Besar dari Jeruk Besar hal 68—69). Laba sebagian bersalin menjadi rumah permanen berdinding tembok, motor bahkan mobil menggantikan sepeda yang biasa berseliweran.

Tak melulu buah segar, industri rumah tangga pengolah kulit jeruk menjadi manisan pun ikut berkembang. Perubahan itu ikut mengharumkan nama Arry meski ia sendiri enggan disebut pahlawan. “Saya tidak melakukan apa-apa,” katanyamerendah. Buat kepala Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik (Lolittan Jehortis) Tlekung, Malang, itu keterlibatan mengembangkan jeruk besar lebih merupakan perwujudan sebuah obsesi.

Ia ingin menjadikan jeruk besar sebagai produk unggulan nasional. “Kita tidak bisa mengembangkan mandarin yang sudah menjadi trade mark Cina karena kendala iklim. Sementara jeruk manis sudah dikuasai Amerika, Afrika Selatan, Spanyol, Brasil, dan Australia. Untuk pamelo kita hanya bersaing dengan Malaysia dan Thailand,” papar Arry. Indonesia punya keunggulan keberagaman jenis.

Peneliti terbaik

Tak sekadar berkutat di teknik budidaya, Arry pun giat mempopulerkan nama pamelo. Selama ini Citrus grandis dikenal dengan beberapa nama, misal jeruk bali, atau jeruk besar. Pamelo diambil dari kata pummelo—sebutan dalam bahasa Inggris. Pilihan itu lantaran nama pamelo tak sulit dilafazkan lidah pekebun dan pedagang tapi bersifat universal.

Kiprah arek Suroboyo itu berujung pada penghargaan sebagai Ahli Peneliti Madya Berprestasi pada 2003. Anugerah yang diberikan langsung oleh Presiden Megawati itu bagai obat penawar atas pengorbanan Arry demi jeruk besar. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berbisnis Olahan Bayam, Anak Muda Asal Tasikmalaya Raup Omzet Puluhan Juta

Trubus.id—Bayam tidak hanya menjadi sumber zat besi, tetapi juga bisa menjadi sumber cuan bagi  Filsya Khoirina Fildzah, S.Kep., Ners...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img