Thursday, August 11, 2022

Asam Bersisik dari Pulau Timah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Di kediaman Huschen Ahmad di Palmerah, Jakarta Selatan, manisan kelubi disimpan di lemari pendingin. Dalam waktu 3 hari, 800 g manisan ludes dikonsumsi Maria. Maklum, jika ada manisan kelubi mahasiswa Universitas Bina Nusantara itu bolak-balik membuka lemari pendingin dan mencomot satu demi satu buah yang rasanya asam itu. ‘Rasanya asam, tapi menyegarkan,’ kata gadis berusia 19 tahun itu.

Pantas Maria selalu memesan kelubi bila Huschen ke Bangka. Kelubi Eleiodoxa conferta banyak tumbuh liar di hutan di sekitar mata air dan rawa di Pulau Timah. Kerabat salak itu adaptif di lahan berkadar air tinggi. Trubus melihat kelubi di hutan di pinggiran Desa Kace, Kecamatan Mendobarat, Kota Pangkalpinang, Bangka-Belitung. Anggota keluarga Arecaceae itu hidup berdampingan dengan nipah, pandan, dan sagu.

Sebetulnya kelubi juga tersebar di Sumatera (Lampung, Sumatera Selatan, dan Riau) serta Kalimantan (Kalimantan Timur). Di Riau ia biasa disebut asam paya. Di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, kelubi dipakai untuk campuran sambal terasi. Di Kalimantan Timur kelubi diolah sebagai manisan seperti di Bangka. Sedangkan di Jawa, buah itu tak populer. ‘Saya belum pernah menemui kelubi di Jawa. Kemungkinan ia tak menyebar sampai ke Jawa,’ kata Tri Sudarsono, ahli salak dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu.

Kembaran salak

Sekilas, pohon dan buahnya mirip salak Salacca zalacca. ‘Saking miripnya, kelubi sempat masuk genus Salacca, kemudian direvisi ke genus Eleiodoxa karena bunga berbeda dengan salak,’ kata Gregori Garnadi Hambali, ahli salak dari Bogor. Bunga salak merupakan bunga aksiler atau muncul dari ketiak daun. Sedangkan bunga kelubi tergolong bunga terminal yang muncul dari ujung batang.

Buah muncul di bagian bawah tanaman dari ujung batang yang sangat pendek, bukan dari ketiak daun seperti salak. Maklum, batang kelubi memang pendek. Makanya ia digolongkan palem-paleman tak berbatang. Berbeda dengan salak dan sagu yang berbatang panjang.

Duri kelubi juga berbeda dengan salak. Duri salak berwarna hitam dan tersebar merata di seluruh batang, sedangkan duri kelubi putih gading dan muncul berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 8-10 duri dengan panjang 3-4 cm yang berbaris horizontal di salah satu sisi batang. Susunan duri itu mirip dengan duri sagu. Daunnya pun saru dengan daun sagu.

Buah kelubi lebih kecil daripada salak, berdiameter 3-5 cm. Buah muncul berkelompok dalam tandan. Satu tandan besar berisi 300-400 buah. Tandan besar tersusun dari tandan-tandan kecil yang berisi sekitar 25-40 buah.

Kulitnya bersisik berwarna kuning gading saat masih muda dan berubah cokelat saat matang. Tekstur kulit keras dan lebih tebal daripada kulit salak. Jika tak ingin luka, jangan mengupas dengan tangan. Ia biasa dikupas menggunakan pisau.

Sayang, kembaran salak ini menyimpan rasa asam dan sepat. ‘Tak cocok buat buah segar, hanya wanita hamil yang menyukainya. Mereka mencampurnya dengan garam,’ kata Hendra Kusnadi SP, kepala seksi pelayanan teknis Balai Proteksi Tanaman Bangka Belitung yang menemani Trubus ke lokasi kelubi.

Direndam 3 minggu

Oleh masyarakat Bangka, kelubi asam itu diolah menjadi manisan. Di saat musim-Januari hingga Juni-kelubi matang dan setengah matang dikupas dengan pisau lalu dicuci. Kelubi lalu direndam dalam larutan gula dan garam. Untuk 15 kg buah, dibutuhkan 3 kg gula pasir dan 200 g garam yang dilarutkan dalam 6,5 liter air. Lama perendaman 2-3 minggu.

Setelah direndam buah dipisahkan dari larutan awal lalu dimasukkan dalam kemasan toples plastik. Larutan gula dan garam yang baru ditambahkan ke dalam toples. Rasa buah memang masih masam, tapi tak terlalu kuat.

Manisan itu tak pernah absen dipajang di toko oleh-oleh khas Bangka, bersanding dengan kerupuk udang, terasi, pilus, dan lempok durian. Di sana manisan dalam toples dengan bobot 800 g dibandrol Rp25.000. Menurut Abong, pemilik toko Aneka Citra Snack di Pangkalpinang, permintaan kelubi meningkat pada musim liburan. Saat itu setiap bulan 50-100 kg manisan kelubi terserap pelanggan yang membawanya ke Pulau Jawa dan Sumatera.

Manisan Bangka itu dapat disimpan selama 6 bulan. ‘Karena itu tahan meski diperdagangkan antarpulau,’ kata Suij Tyin, pengolah kelubi di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Itulah pula yang menjelaskan kelubi selalu tersedia di toko oleh-oleh sepanjang tahun meski produksi buah dari hutan musiman. (Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img