Friday, August 12, 2022

Asap Cair Usir Kumbang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Asap cair sudah lama dimanfaatkan sebagai pestisida nabati di luar negeri.
Asap cair sudah lama dimanfaatkan sebagai pestisida nabati di luar negeri.

Asap cair terbukti manjur mengusir hama penggerek batang.

Sepintas cabang dan ranting pohon jambu bol jamaika tertutup dompolan bunga yang merah menyala. Pemilik pohon, Jaojah, lazimnya menuai 10 kg buah dari sebuah pohon. Perempuan yang bekerja sebagai petugas penyuluh lapangan (PPL) Dinas Kehutanan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu mengatakan pohon berumur 6 tahun itu berbuah 2 kali setahun.

Namun, betapa masygulnya Jaojah saat mendapati daun-daun di ujung ranting menguning dan sebagian berubah cokelat karena kering. Setelah mengamati saksama, ia menemukan tanda serangan hama berupa lubang di permukaan kulit batang. Dari lubang itu keluar cairan hitam disertai kotoran seperti serbuk gergaji. Ketika Jaojah menengadah, ternyata lubang-lubang juga banyak di batang bagian atas pohon setinggi 8 meter itu.

Suntik batang
Jaojah memperbaiki kondisi tanaman dengan memberi pupuk kandang. Harapannya tanaman dapat bertahan melawan serangan hama dengan sendirinya. Sepekan kemudian, jumlah daun menguning semakin banyak dan menyebar ke seluruh ujung cabang dan ranting. Bunga-bunga pun mulai rontok. Kondisi itu membuat Jaojah khawatir dan mulai memikirkan penanganan hama dengan intensif.

Ia mencoba memasukkan pinset untuk mengorek ke dalam lubang di batang dan menemukan ulat berwarna putih. Ulat itu ternyata larva kumbang tanduk Rhytidodera simulans. Menurut ahli hama dari Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Aunu Rauf, MSc, larva Rhytidodera simulans masuk ke batang atau cabang melalui lubang bekas gigitan semut atau menembus bagian lunak di sisi tunas.

Hama anggota suku Cerambycidae itu terus membuat terowongan ke bagian tengah batang, tempat ia menetap. “Pembuluh kayu dari cabang atau batang praktis rusak berat. Larva berukuran 7 cm itu menetap sampai berbentuk kepompong dan keluar sesudah berubah menjadi kumbang,” kata Aunu Rauf. Ia menjelaskan bahwa bentuknya memang mirip ulat tapi ia berahang kuat, sehingga mampu melubagi batang kayu keras.

Larva kumbang penggerek batang beda dengan ulat dari kupu-kupu lantaran tidak punya kaki pada perutnya. Jaojah mengatakan, pengendalian hama penggerek batang paling umum dengan memasukkan insektisida ke lubang bekas serangan kemudian menutup dengan kayu dengan cara dipantek. Tujuannya supaya larva mati di dalam dan tidak sempat berubah menjadi kumbang.

Masalahnya jumlah lubang larva yang banyak akan berimbas pada kebutuhan insektisida dalam jumlah besar pula. Selain itu posisi lubang gerek tersebar di atas pohon sehingga menyulitkan. Dengan kedua pertimbangkan itu, Jaojah memanfaatkan cuka kayu atau asap cair untuk mengatasi kumbang itu. “Selama ini menurut berbagai literatur dan secara empiris asap cair lazim digunakan sebagai bahan antihama bermacam tanaman mulai bibit hingga dewasa. Hasilnya bagus tanpa efek samping,” ujar Jaojah.

 Daun yang menguning indikasi terjadi serangan hama penggerek batang.
Daun yang menguning indikasi terjadi serangan hama penggerek batang.

Dosis asap cair
Untuk memasukkan asap cair ke lubang larva, Jaojah menggunakan injeksi yang mudah didapatkan di apotek. Penyuntikan asap cair ke dalam lubang larva pada Mei 2015. Jumlah asap cair disesuaikan dengan kedalaman lubang gerekan. “Tidak ada takaran khusus cuka kayu yang diinjeksikan ke batang, kadang 20—50 ml cuka kayu di setiap lubang. Yang penting sampai lubang terisi penuh dan segera ditutup dengan kapas,” ujar Jaojah.

Efek pemberian cuka kayu sekitar dua pekan kemudian. Selama itu proses kerontokan bunga dan daun terus terjadi. Jika dihitung dari mulai berkurangnya serangan hama hingga benar-benar berhenti, butuh waktu rata-rata empat pekan. Cirinya adalah tidak ada lagi cairan hitam beserta kotoran kayu keluar dari lubang larva yang menunjukkan hama itu mati. Dengan berhentinya serangan larva dalam batang, maka tanaman kembali sehat.

Selain itu proses perbungaan sampai menjadi buah kembali normal. Daun-daun mulai muncul lagi setelah rontok. Bunga tumbuh dengan subur dan proses pembentukan buah lebih cepat karena nutrisi lebih terfokus pada pembuahan akibat daun yang masih jarang.

Jaojah membuktikan keandalan asap cair sebagai insektisda alami. Menurut peneliti kimia kayu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Kementerian Kehutanan di Bogor, Prof Dr Gustan Pari, MSi, pemilihan asap cair untuk mengendalikan dan hama dan cendawan merupakan pilihan tepat. Asap cair mengandung zat aktif dominan berupa asam asetat dan fenol yang memiliki manfaat secara individual maupun kombinasi.

“Asam asetat bersifat fungisidal atau anticendawan dan antibakteri, sedangkan fenol bersifat repelen atau menolak kehadiran hama dengan aroma yang tidak disukai organisme pengganggu tanaman. Kombinasi keduanya membentuk senyawa insektisida alami yang dapat bekerja efektif mengatasi hama,” kata Gustan. Penggunaan asap cair untuk mengatasi hama penggerek batang efektif karena larva memiliki kulit yang lemah untuk dirusak oleh asam asetat.

N. Jaojah memanfaatkan cuka kayu untuk antihama dan penambah nutrisi tanaman buah.
N. Jaojah memanfaatkan cuka kayu untuk antihama dan penambah nutrisi tanaman buah.

Riset lama
Sejatinya penelitian untuk memanfaatkan asap cair untuk mengatasi hama penyakit tanaman bukan hal baru. Riset ilmiah sudah dilakukan sejak 1950-an di Jepang. Peneliti kimia kayu dari Malaysia, Steven Leong, mengatakan saat itu penelitian untuk mengatasi penyakit mosaik pada gandum, tembakau, embun tepung pada sayuran berdaun dan nematoda pada ubi jalar. Hasilnya menunjukkan tingkat keefektifan yang tinggi.

Namun, seiring dengan pesatnya industri pengendali hama penyakit berbahan kimia, penelitian dan pengembangan asap cair bukan menjadi prioritas. Insektisida kimia memang lebih cepat terlihat pengaruhnya saat diaplikasikan, tapi penggunaan dalam jangka panjang memiliki efek merusak lingkungan. Pada 2000 muncul kembali minat peneliti meriset asap cair karena kesadaran pengembangan pertanian yang ramah lingkungan.

Meskipun demikian, penggunaan asap cair untuk mengatasi hama penggerek batang masih jarang diaplikasikan oleh pekebun buah berskala besar. Mubin Usman, pekebun buah di Karawang dan Runah Herianto dari Majalengka menggunakan pestisida kimia pabrikan untuk mengatasi hama yang dapat mengganggu proses distribusi makanan pada tanaman itu. Alasan penggunaan insektisida kimia adalah efeknya yang cepat terlihat.

“Untuk perkebunan yang berskala bisnis, kita harus mengantisipasi segala serangan secara dini dan memerlukan pembasmi hama yang cepat bereaksi supaya hama tidak menyebar ke pohon lain. Penggerek batang tidak hanya menyerang tanaman jambu jamaika, tapi juga tanaman buah lain misalnya mangga. Kalau terlambat penanganannya, cabang dan ranting akan keropos dan patah, bunga dan buah juga terganggu pertumbuhannya. Akibat terparah adalah gagal panen,” ujar Mubin Usman. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Injeksi Asap Cair ke BatangCOVER 1234.pdf

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img