Tuesday, December 16, 2025

Avobar, Camilan Sehat dari Biji Alpukat dan Daun Kelor

Rekomendasi
- Advertisement -

Surakarta — Sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan inovasi pangan berbahan limbah biji alpukat dan daun kelor. Produk bernama Avobar itu dirancang sebagai camilan sehat yang membantu memenuhi kebutuhan gizi perempuan dan meredakan gejala dysmenorrhea atau nyeri menstruasi.

Avobar merupakan hasil karya mahasiswa Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Fakultas Pertanian UNS, yaitu Yustitia Hasna’, Ajeng Kristina, Nafisah, dan Zafira Rahmasari yang berkolaborasi dengan Chodijah Najwa dari Prodi Manajemen Bisnis Sekolah Vokasi. Mereka tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kewirausahaan dengan bimbingan Rohula Utami, S.T.P., M.P.

Menurut Yustitia, ide itu muncul karena banyak perempuan mengalami nyeri menstruasi yang berkaitan dengan asupan gizi. Ia menuturkan bahwa tim ingin menghadirkan makanan sehat yang memenuhi nutrisi sekaligus membantu mengurangi keluhan menstruasi.

Biji alpukat dipilih karena mengandung gizi tinggi yang selama ini belum banyak dimanfaatkan. Dalam 1 kilogram biji alpukat terdapat 10,40% protein kasar, 5,81% lemak kasar, 6,11% serat kasar, serta energi metabolis 3.570 kkal, sehingga potensial menjadi sumber protein nabati alternatif.
Bahan tersebut juga mengandung lignoselulosa tinggi yang dapat diolah menjadi produk pangan seperti snack bar. Untuk meningkatkan kandungan zat besi, tim menambahkan tepung daun kelor yang mengandung hingga 25,29 mg zat besi per 100 gram, mencukupi AKG harian perempuan yang sebesar 15 mg per hari.

Pembuatan Avobar diawali dengan pengolahan biji alpukat menjadi tepung melalui proses pencucian, pemotongan, pengeringan, dan penghalusan. Tepung itu kemudian dicampurkan dengan tepung kelor, gula merah, mentega, kayu manis, dan garam sebelum dipanggang selama 25 menit pada suhu 180°C. Setelah matang dan dingin, permukaannya ditambahkan cokelat putih cair sebelum dikemas.

Setiap kemasan Avobar berisi lima potong snack bar dengan harga Rp20.000. Yustitia berharap produk tersebut dapat menjadi pilihan camilan sehat yang praktis bagi perempuan selama menstruasi. Ia menambahkan bahwa Avobar sekaligus memberikan nilai tambah karena memanfaatkan limbah yang sebelumnya tidak bernilai.

Pemanfaatan limbah alpukat juga dikembangkan oleh mahasiswa Teknik Kimia Universitas Brawijaya (UB). Lima mahasiswa UB, yaitu Bill Herberton Biyang, Chindy Wulandari, Shafira Azzahra, Silvia Febriani, dan Syamsul Lathif Syahli, menciptakan tabir surya berbahan biji dan kulit alpukat untuk melindungi kulit dari sinar UV-A dan UV-B.
Menurut ketua tim, Bill, inovasi itu dapat memberikan perlindungan kulit yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi limbah organik dari industri buah alpukat.

Kedua inovasi tersebut menunjukkan potensi besar limbah alpukat sebagai bahan bernilai ekonomi tinggi, baik pada industri pangan maupun kosmetik. Inovasi-inovasi ini juga menegaskan bahwa kreativitas mahasiswa dapat membuka peluang baru dalam pengembangan produk berbasis keberlanjutan.

Foto:Dok. Humas UNS

Artikel Terbaru

Cuaca Ekstrem Warnai Libur Nataru, Pakar Ingatkan Wisatawan Utamakan Keselamatan

Cuaca yang kian tidak menentu mewarnai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), periode yang lazim dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata....

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img