Friday, December 2, 2022

Bahan Bakar Kendaraan Masa Depan

Rekomendasi

Itulah impian Dr Ir Robert Manurung MEng. Doktor Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung itu tidak sedang berhalusinasi. Ia telah menguji coba minyak jarak Jatropha curcas sebagai bahan bakar dan minyak jarak Ricinus communis untuk pelumas. Kedua minyak buah jarak itu diujicoba oleh Manurung bekerja sama dengan Mitsubishi Research Institute pada Desember 2004.

“Kinerja mesin diesel tak berubah pada penggantian bahan bakar dari solar dengan 100% minyak jatropha alami,” ujar Manurung. Artinya, agar dapat diterapkan pada mesin diesel minyak jarak tak perlu diolah lebih lanjut. Begitu minyak jatropha dihasilkan, kita dapat langsung menuangkan ke dalam tangki mobil. Tanpa campuran metanol atau bahan apa pun, tanpa memodifi kasi mesin. Cara mengolahnya pun gampang (baca: Dua Jarak Satu Cara, halaman 30).

Ia memenuhi syarat ideal sebuah bahan bakar. Nilai kalori jatropha 35,58 MJ/kg, bilangan asam 3,08 mg KOH/g, titik nyala 290oC, viskositas 50,80 cSt, dan densitas 0,0181 g/cm3. Minyak jarak Jatropha curcas berwarna kuning bening memiliki bilangan iodin tinggi, 105,2 mg. Artinya kandungan minyak tak jenuhnya amat tinggi, terutama terdiri atas oleat dan linoleat mencapai 90%.

Terbaik

Pada minyak jatropha terdapat ikatan rangkap sehingga viskositas rendah atau minyaknya encer. Sedangkan minyak ricinus tanpa ikatan rangkap dan mempunyai gugus OH sehingga minyaknya lebih kental. Pada suhu 25oC viskositas palma christi—sebutan minyak ricinus—mencapai 600—800 cP; suhu 100oC, 15—20 cP. Oleh karena itu ia lebih pas sebagai pelumas.

Minyak tangan-tangan—julukan bagi minyak ricinus—mengandung ricinoleic amat tinggi, 89,5%. Anggota famili Euphorbiaceae itu juga mengandung 4,2% asam linoleic, 3,0% asam oleic, 1,0% asam stearic. Ricinoleic mempunyai karakteristik seperti nilai saponifi kasi 186, nilai wijs iodine (berkaitan dengan struktur kimia) 89, dan titik leleh 5,5oC.

“Tuhan menciptakan 2 jarak, satu untuk bahan bakar, satu lagi untuk pelumas,” ujar alumnus Rijksuniversiteit Groningen Belanda. Seperti kerabatnya, jarak ricinus memenuhi persyaratan ideal sebagai pelumas. Ia tahan oksidasi dan dapat melekat pada permukaan logam dalam bentuk lapisan fi lm yang tipis.

Itu karena aktivitas permukaan minyak cukup besar lantaran adanya asam lemak bebas. Asam itu bersifat polar dan cenderung terserap sebagai lapisan berskala molekul di perbatasan antara logam dan minyak. Dampaknya kerusakan logam pada gigi-gigi mesin dapat dicegah, terutama saat mesin beroperasi dengan tekanan tinggi. Mesin pun panjang umurnya.

Minyak ricinus sulit terlepas dari permukaan logam dengan perlakuan terhadap air. Itulah resep cespleng bagi pelumas yang dirancang untuk silinder dan kerangan pada mesin uap. Wajar jika ia amat cocok diberikan kepada mesin-mesin berat dan mesin pesawat terbang. Kelebihan lain, perubahan viskositas karena naiknya temperatur relatif kecil, tidak menetes di bensin sehingga tidak merusak mesin, dan titik leleh tinggi.

Minyak bumi habis

Dengan sederet keistimewaan itu Robert Manurung mengklaim minyak jarak sebagai yang terbaik. “Pelumas yang terbaik di dunia adalah pelumas castor oil atau minyak jarak,” ujarnya. Kedua jarak—Jatropha curcas dan Ricinus communis—terbukti sempurna sebagai bahan bakar dan pelumas. Kekurangannya? “Terus terang saya belum menemukan kekurangan. Saya tidak bisa melihat kekurangan bahan bakar alami (minyak jarak, red),” ujar ayah 3 anak itu.

Menurut pria kelahiran Tapanuli Utara 3 Desember 1954 itu pengembangan jarak berarti juga memerdekakan dan menyejahterakan petani. Maklum Indonesia mengimpor lebih dari 50% kebutuhan bahan bakar yang total mencapai Rp60-miliar. Jika separuhnya atau Rp30-miliar dibelanjakan untuk membeli minyak jarak petani, kehidupannya lebih baik. Untuk penggilingan padi— produksi rata-rata 52-juta ton–, misalnya, petani dapat menghemat triliunan rupiah.

Sayangnya, “Kita selalu bilang, minyak bumi kan banyak. Padahal tinggal 10 tahun. Katakan 100 tahun, itu kan ada limitnya,” kata Master Engineering alumnus Asean Institute of Technology Bangkok. Bandingkan dengan pemanfaatan minyak jarak yang selalu dapat diperbarui. Sudah begitu ramah lingkungan, tanaman adaptif bahkan di tanah marginal sekalipun, dan mudah diolah.

Kehadiran minyak jarak amat relevan dengan niat pemerintah Jakarta yang membuat program langit biru. Selama ini program itu ditunjang dengan penggunaan bahan bakar gas. Sayang, minimnya stasiun pengisian gas menyebabkan program itu tak berjalan mulus. Dengan minyak kastor pemilik mobil langsung dapat mengisi bahan bakar di rumah masing-masing. Dengan begitu Jakarta yang menduduki peringkat ketiga kota terpolusi di Planet Bumi setelah Kota Meksiko dan Bangkok dapat membenahi diri.

Riset minyak jarak sejatinya bukan barang baru. Namun, penelitian yang dilakukan Robert Manurung kini menjadi buah bibir. “Di negara maju riset seperti itu sangat dihargai karena mereka peduli dengan lingkungan. Di negeri ini kan ngga peduli. Buktinya yang laku sekarang malah batubara. Batubara untuk mengolah teh. Kalau orang asing tahu, ngga ada yang mau membeli teh kita,” ujar Manurung.

Ia tentu masih ingat: Manurung kecil dilarang keras menyalakan lampu (minyak), selain untuk membaca. “Tiga puluh tahun kemudian, saya berjalan ke berbagai daerah, di republik ini ada yang masih gelap gulita,” katanya. Itulah yang antara lain memicunya meneliti jarak sebagai bahan bakar. Produk turunannya dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik atau bahan bakar kompor. Dengan demikian tak perlu devisa kita mengalir deras ke negeri orang. Cukup dengan jarak. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img