Tuesday, August 9, 2022

Bakteri Keroyok Cendawan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tingkat kerusakan akibat serangan cendawan itu mencapai 34%. Pekebun Nicotiana tobacum kini berharap dari hasil temuan Dyah Roeswitawati dari Universitas Brawijaya.

Kandidat doktor dari program studi Ilmu Pertanian dengan kekhususan Perlindungan Tanaman program Pascasarjana Universitas Brawijaya itu meneliti pemanfaatan mikroba antagonis yang banyak terdapat di tanah suppresive. Ia memilih 3 jenis bakteri untuk melumpuhkan Phytophthora parasitica. Mereka adalah Pseudomonas sp, Clostridium sp, dan Pcorrugata sp. ***

Pemutus Siklus DBD

Epidemi demam berdarah masih membayang di benak kita. Salah satu vektor alias penyebar penyakit maut itu adalah nyamuk Aedes aegypti. Selain menjaga sanitasi lingkungan, nyamuk itu dapat dilawan dengan kayu manis. Begitulah hasil riset Prof Peter Shang-Tzen Chang dari Fakultas Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Alam National Taiwan University.

Minyak hasil sulingan kulit dan daun Cinnamomum zeylanicum ternyata tak cuma berfaedah untuk industri pangan. Ia ampuh mengatasi jentik-jentik nyamuk penyebab demam berdarah. Zat yang berperan melawan jabang bayi nyamuk adalah senyawa cinnamaldehyda, cinnamyl acetate, eugenol, dan anethole. “Ia aman bagi manusia sehingga dapat dijadikan alternatif penolak nyamuk masa depan,” kata Profesor Peter.***

Pakan Alternatif Nener Bandeng

Kebutuhan pakan tinggi menjadi masalah bagi para pembenih nener. Mereka tidak bisa mengandalkan pakan alami seperti brachionus yang jumlahnya sangat terbatas. Apalagi larva bandeng amat peka terhadap perubahan lingkungan. Hambatan itu bisa diatasi dengan pemanfaatan media green water—media buatan yang mengandung plankton berwarna hijau dan dapat berfotosintesis. Dengan bahan itu larva lebih mudah menangkap pakan dengan sensor di kepalanya. Penelitian itu mengantarkan Haryati meraih gelar doktor di program studi Perairan Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Pakan ditambahkan dalam media green water yang mengandung fitoplankton chlorella. Hasilnya, kualitas kandungan asam amino dan asam lemak esensial lebih baik daripada pakan alami. Kesimpulan itu berdasarkan hasil pengamatan terhadap penambahan pakan alami dan pakan mikro buatan yang mengandung tepung ikan, rebon, terigu, dan vitamin. Keduanya menggunakan media green water dengan salinitas 28—32 ppt. Ia menganjurkan agar pemberian pakan buatan dilakukan setelah larva berumur 15 hari—saat ukurannya lebih kecil dari jarum pentul untuk memudahkannya mencerna.***

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img