Monday, August 8, 2022

Bakti Cerpelai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

TRUBUS — Cerpelai satwa yang paling menderita saat wabah Corona virus disease (Covid-19) berkobar. Peternakan cerpelai di Denmark memusnahkan lebih dari tujuh belas juta ekor. Beritanya meledak, lantaran bangkai-bangkai cerpelai itu muncul dari kuburnya. Maklum, mereka dimusnahkan dengan gas.

Tidak disebutkan berapa juta dolar kerugian akibat pemusnahan ternak yang imut-imut itu. Upaya pencegahannya memang jauh lebih penting. Penulis Bernadette Aderi Puspaningrum mengutip laporan bahwa delapan petugas peternakan cerpelai di Provinsi British Columbia, Kanada dinyatakan positif mengidap virus korona. Delapan peternak cerpelai itu harus segera diamankan agar tidak terjadi bencana seperti di Denmark.

Hubungan unik

Jutaan cerpelai Eropa yang terpaksa dimusnahkan lantaran tertular oleh belasan pekerja ternak yang mulai sesak napas. “Para ilmuwan telah menemukan bahwa cerpelai rentan terhadap virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan Covid-19. Hewan itu bisa menderita berbagai gejala, termasuk pneumonia parah,” tulis Bernadette di sebuah media daring yang sangat terpercaya. Dia menulis laporannya dari Ottawa, lengkap dengan pernyataan pejabat Kementerian Pertanian Kanada.

Kelanjutan dari berita itu adalah perlunya lisensi bebas Covid-19 untuk para peternak cerpelai di Kanada, Amerika Serikat, dan negara-negara Skandinavia, bahkan Spanyol dan Belanda. Apakah pemusnahan cerpelai itu berpengaruh pada produk pakaian berbahan bulu cerpelai? Di Bandung mantel cerpelai sederhana cukup dihargai Rp700.000 plus ongkos kirim. Cerpelai memang menjadi bulan-bulanan berita dunia pada akhir Desember 2020.

Dalam tempo kurang dari setahun, pasaran baju hangat nan mewah– produk dari cerpelai itu sudah kembali menjadi bintang. Hubungan manusia dengan cerpelai memang unik. Novelis kondang Rudyard Kipling terkenal dengan kisah Rikki-Tikki-Tavi, cerpelai kesayangan bangsawan India. Hanya cerpelai yang bisa menyelamatkan manusia dari gigitan ular kobra. Adegan perkelahian garangan melawan ular sendok sudah menjadi pertempuran klasik sejak dahulu.

Eka Budianta

Maklum, cerpelai adalah predator, yang menjadikan kobra bagian kecil dari mangsa favoritnya. Di Jawa, ada berbagai hewan yang termasuk keluarga cerpelai. Pada masa kecil saya mengenal berang-berang yang suka makan ketam, lokan dan kerang sungai. Warga di sekitar Malang menyebut mereka lingsang atau wregul. Kotorannya sering dibongkar-bongkar, dengan harapan menemukan mustika lingsang. Ajimat alami yang langka itu diyakini membawa rezeki.

Berang-berang dikenal sebagai satwa yang menggemaskan dan melahirkan Komunitas Otter Indonesia. Yang masih liar harganya berkisar Rp500.000—Rp 900.000. Sementara harga berang-berang yang terlatih mencapai Rp1,5 juta—Rp2 juta. Salah satu penjualnya adalah Khalifa Pet Shop di Tangerang Selatan, Provinsi Banten. “Garangan jawa tidak memiliki musim kawin yang khusus. Hewan betina melahirkan 2–4 anak, setelah mengandung selama sekitar 6 minggu.”

Meskipun ada keterangan begitu di ensiklopedia satwa, kita tidak melihat peternakan cerpelai di Indonesia. Namun, jangan lupa, cerpelai jawa pernah diekspor ke perkebunan di luar negeri. Mereka disebut javan mongoose bisa ditugaskan untuk menjaga perkebunan di Australia dari serbuan kelinci. Bukan hanya hama kelinci yang bisa diberantas oleh cerpelai jawa, tapi juga tikus, kalajengking, dan terutama ular di kebun-kebun tebu.

Garangan perlu dikirim ke sana, karena ternyata spesies herpentes javanicus atau Javan mongoose itu tidak ditemukan di sebelah timur garis Wallacea. Sekarang garangan jawa bisa ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia, kecuali di kutub utara dan di Benua Antartika. Pada sore hari, kalau saya berjalan-jalan di Bintaro, Jakarta Selatan, ada kalanya berpapasan dengan anak-anak pencinta garangan.

Makin langka

Cerpelai jawa peliharaan mereka tampak jinak, ada yang tidak perlu diikat. Sayangnya di perkampungan manusia Jawa, garangan justru menjadi musuh, lantaran suka mencuri ayam. Jadi harus disiplin dalam kandang. Kepahlawanan mereka baru muncul setelah beberapa perumahan di Surakarta diserang oleh anakan ular kobra.

Sebelum pandemi, Radio Voice of America (VOA) melaporkan, “Penyebab maraknya temuan puluhan anak ular kobra di Jawa Tengah disinyalir karena berkurangnya predator alami. Lahan yang menjadi habitat kobra juga makin menyempit karena digunakan untuk pembangunan permukiman dan infrastruktur. Akibatnya, ular kobra bergeser dan bertahan di lingkungan urban.

Salah satu predator kobra, yaitu garangan jawa, kini banyak diburu untuk dijual secara daring.”  Berapa harga seekor cerpelai jawa? Surat kabar setempat menulis, “Yayan menawarkan satu-satunya garangan jawa miliknya seharga Rp400.000 dalam sebuah pameran. Warga Surakarta, Jawa Tengah, itu sudah tiga tahun memelihara satwa sejenis musang bernama Latin Herpestes javanicus itu. Menurut Yayan meskipun mudah dipelihara, garangan jawa yang dikenal gemar makan ular itu saat ini susah dicari.”

Pakar Ekologi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Prabang Setyono, dalam wawancara VOA menjelaskan, “Predator alami ular kobra seperti elang dan garangan jawa makin langka. Kalau ada yang menjual satwa garangan jawa di pasar hewan, itu butuh waktu sebulan sekali untuk bisa menangkap satwa itu. Yang jelas, secara kuantitas ular kobra dan predatornya itu tidak imbang. Ini harus menjadi perhatian.”

Tentu! Harganya juga perlu diperhatikan. Bagaimana bisa garangan jawa yang lebih langka dijual lebih murah daripada berang-berang? Keduanya termasuk cerpelai yang imut dan menggemaskan. Semoga peternakan dan perawatan bermanfaat untuk pelestarian. ***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img