Friday, August 12, 2022

Bambu tercinta

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Berapa konsumsi bambu per kapita bangsa Indonesia? Mungkin sukar dipukul rata. Setiap pribadi dan setiap suku bangsa mempunyai kebutuhan bambu berbeda-beda. Masyarakat Bali, memerlukan bambu untuk penjor ketika merayakan Hari Galungan dan upacara odalan. Itulah sebabnya Provinsi Bali paling banyak mendatangkan bambu dari Jawa Timur dan Lombok. Apakah kita perlu mencintai bambu karena bagus dipakai untuk kerajinan tangan?

Belakangan ada tube lipstik baru yang terbuat dari bambu untuk para pencinta lingkungan. Ada juga frame kacamata dari bambu, gelas bambu, palang sepeda motor, dan berbagai peralatan selain yang sudah umum terbuat dari bambu seperti kerai dan tiang bendera. Semua bisa dilihat dan dibeli melalui katalog manufaktur bamboo tube di komputer. Yang lebih penting dari itu semua, adalah jasa bambu lainnya.

Bagaimana bambu bisa menghasilkan padi dan sapi? Seorang pria dari Lumajang, Jawa Timur, menyelamatkan desanya dengan menanam bambu. Dengan melestarikan hutan bambu, mengajak tetangga menanam bambu, ia mendapatkan hadiah Kalpataru. Gara-gara bambu yang subur, mata air kembali memancar. Sawah seluas 1.400 hektar mendapat air, dan sapi-sapi menjadi gemuk karena cukup minum dan bersih, karena bisa mandi.

Itulah jasa bambu untuk lingkungan. Sebetulnya, sejak zaman Jepang, hutan bambu sudah dipromosikan di Jawa. Sebab bambu cepat tumbuh. Perkembangannya dapat diamati setiap hari. Dalam seminggu bisa mencapai 4 meter. Bayangkan, sehari semalam tumbuh 60 cm. Saya paling senang melihat rebung bertumbuhan di depan mata. Begitu cepat. Berpacu menyelamatkan dunia. Memberikan yang terbaik, terindah, dan terkuat. Rupanya bambu mengerti bahwa sebaik-baik makhluk hidup, adalah yang paling banyak manfaatnya.

Sumber kehidupan

Pantas kalau ia menjadi inspirasi dan sekaligus berkah bagi para pencintanya. Siswa SLTP yang mau lulus dengan angka bagus, boleh juga membuat makalah tentang bambu dan berbagai fungsinya. Jangan lupa, bambu bisa menggemukkan lembu, meningkatkan panen besar, serta membuat Herry Goenawan mendapat hadiah Kalpataru. Dialah yang membuat rindang hutan bambu di Dusun Krajan, Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, itu.

Setiap 2.000 batang bambu ternyata bisa meningkatkan debit sumber air sekian liter per detik. Dengan air itu, Herry dapat mengembangkan dan mempromosikan padi organik.

Jadi berapa rupiah nilai sebatang bambu? Kalau sudah mati, ditebang untuk tangga, paling hanya Rp60.000 tiap dua batang. Namun, pada waktu hidup, setiap bambu tidak ternilai harganya.

Itulah fungsi bambu, yang ternyata juga menjadi sumber kehidupan. Bambu memang bukan hanya sumber ekonomi, sumber pangan, sumber ilmu pengetahuan, dan sumber kebudayaan. Mereka sumber kehidupan! Bambu telah menemani manusia sejak dilahirkan. Pada masa lalu, tali pusar bayi yang baru lahir, dipotong dengan welat dari bambu.

Sepanjang hidup menikmati rebung (sayur anak bambu) dan berbaring di dipan bambu. Kelak kalau mati, dimakamkan dengan teratak bambu. Memang, ada juga yang minta kuburnya ditutup anyaman daun kelapa. Ia adalah Mohamad Kasim, orang Aceh yang belajar di Institut Pertanian Bogor, berbakti di Ternate, pemenang Kalpataru juga. Makamnya di Syah Kuala.

Jangan lupa, bambu juga menjadi sumber makanan bergizi. Anak batangnya yang masih muda, rebung, dapat dijadikan sayur dan isi lumpia. Yang paling lezat adalah rebung dari bambu betung Dendrocalamus asper. Demikian lezatnya rebung itu, sampai-sampai menjadi bahan dari sumpah terkenal, mahapatih Gajah Mada di abad ke-14. Ia berjanji tidak akan menikmati rebung, sebelum menyatukan seluruh Nusantara. Itulah sumpah Amukti Palapa.

Hebatnya, rebung, seperti nangka muda yang dijadikan gudeg, selalu ada saja sepanjang tahun. Kita juga dapat menikmati rebung (bamboo shoot) dalam kaleng yang dijual di warung-warung China baik di New York maupun di London. Bambu telah menjadi bagian dari menu yang paling terhormat di restoran-restoran dunia.

Presiden Bambu

Di muka bumi terdapat lebih dari 1.200 macam bambu, 750 di antaranya tumbuh di Asia. Pantaslah kalau Jepang didatangi Thomas Alva Edison ketika mencari serat bambu untuk menyalakan bola lampu listriknya. Juga China, berabad-abad terkenal sebagai negeri Tirai Bambu. Sedangkan di Indonesia? Ada ratusan rumah bambu, taman bambu, kebun bambu baik sebagai nama restoran, perusahaan, maupun nama jalan dan desa.

Ada Pondok Bambu, Bambu Apus, Gombong (jenis bambu besar), Kampung Haur. Pada awal 1980-an, usaha memasyarakatkan bambu dilakukan cukup gencar. Waktu itu, hampir setiap desa di Pulau Jawa masih menggunakan bambu sebagai batasnya. Sejak berabad-abad lalu, bambu membuat desa menjadi lebih luas dari tahun ke tahun. Akibatnya, memang banyak konflik pertanahan kalau anak-anak bambu tumbuh terus memperlebar kawasan. Bahkan sekarang, perumahan mewah memanfaatkan bambu untuk meredam gemuruh kereta api yang melintasinya.

Daun bambu memang bisa menyerap bunyi, debu, dan puting beliung. Pantas saja kalau masih ada kepercayaan, sebaiknya setiap rumah punya barong – rumpun bambu yang terawat. Perlu diingat, ada berbagai jenis bambu yang dapat ditanam di bermacam tempat, sempit maupun luas. Bahkan dalam pot. Ada bambu rejeki dracaena yang disukai sebagai bambu hias. Ada juga bambu genggam yang berjajar seperti rangkaian bola. Bambu kuning atau pring gading Bambusa vulgaris yang sangat umum.

Setiap anak Indonesia, sebaiknya mengenal 20 hingga 30 jenis bambu yang tumbuh di sekitarnya. Sebab bambu bukan hanya bisa membuat mereka jadi pakar seperti Elizabeth Widjaja, tetapi juga menolong ekonomi di waktu krisis. Daun bambu belum tergantikan sebagai pembungkus bacang, nasi daging yang lezat. Ruas bambu membuat lemang – ketan bersantan – lebih nikmat dan tahan lama. Anyaman bambu masih diperlukan baik untuk dinding rumah maupun keranjang.

Semua peralatan dari bambu termasuk kategori ramah lingkungan. Batang-batang bambu kecil dan besar telah membuat dunia terhibur dengan alunan angklung, seruling, dan kolintang. Ada banyak peralatan musik dari bambu yang membuat dunia menari dan menyanyi sejak zaman nenek moyang. Oleh karena itu, mustahil kalau perniagaan, industri, dan bisnis bambu bisa dipinggirkan. Kalau ada gelagat bambu bakal terlupakan, sebaiknya kita memilih presiden yang betul-betul mencintai bambu.

Sejarah membuktikan, hanya pemimpin yang pandai belajar dari bambu yang tidak patah diterpa topan. Bambu sangat luwes, tetapi juga keras dan kuat, indah dan yang paling penting serbaguna. Hanya pemimpin yang belajar dari bambu bisa meredam gejolak, mengayomi, dan tetap sensitif pada perubahan zaman. Setiap kali mengibarkan bendera dan berkampanye, jangan pandang rendah peranan bambu tercinta. ***

*) Eka Budianta, penyair, budayawan, direktur Jababeka Botanic Gardens, kolumnis majalah Trubus sejak 2001.

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img