Monday, August 15, 2022

Bangga Menjadi Petani

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Anggota-anggota Komunitas Petani dari berbagai daerah.

TRUBUS — Komunitas Petani mengajak anak-anak muda menjadi petani tangguh.

Fuja Maulana sudah mapan bekerja di perusahaan jasa pertambangan, PT Multi Nitrotama Kimia. Namun, pria 33 tahun itu berhenti bekerja dan memutuskan menjadi petani pada 2018. Fuja mengelola lahan 60 ha untuk budidaya serai wangi Cymbopogon nardus di Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Anak kedelapan dari sembilan bersaudara itu juga menyuling serai wangi menjadi minyak asiri.

Setelah beralih profesi, ia menyadari menjadi petani sangat berisiko seperti gagal panen atau harga jual rendah. Artinya risiko itu terbentang dari hulu hingga hilir. Selain itu ia juga berbincang dengan para petani berpengalaman di daerahnya. Kesimpulannya sama, menjadi petani sangat berisiko. Oleh karena itu, ia menyimpulkan menjadi petani harus tangguh. Fuja mengonstruk bahwa petani itu sejatinya pemuda tangguh masa kini. Itu sekaligus mendorong pemuda menjadi petani tangguh.

Menjadi komunitas

Fuja Maulana pendiri Komunitas Petani, Pemuda Tangguh Masa Kini.

Survei Badan Pusat Statistik menunjukkan, 65% petani berusia tua. Sementara petani muda hanya 12%. Gerakan Petani—pemuda tangguh masa kini—menjadi relevan dengan survei itu. Fuja mengatakan, sektor pertanian sering dicitrakan kotor dan runyam. “Mereka lebih memilih bekerja di pabrik, perkantoran, atau perusahaan sehingga tidak ada lagi regenerasi petani,” kata Sarjana Ekonomi alumnus Universitas Singaperbangsa itu.

Padahal, menurut Fuja tidak selalu pertanian harus berkotor-kotor dan runyam. Banyak juga petani yang sukses. Fuja misalnya mampu mempekerjakan 70 petani. Meski demikian citra buruk pertanian menjadi kegelisahan pria kelahiran Karawang 6 November 1988 itu. Ia mewujudkan kegelisahan itu dengan membuat dan mengenakan kaos hitam. Di bagian depan atas bertuliskan “Saya Petani” dan “Pemuda Tangguh Masa Kini” di bagian bawah.

Itulah cikal-bakal terbentuknya komunitas Petani pada 2018. “Responnya bagus. Akhirnya banyak orang yang mau membeli kaos dan bergabung,” ujar Fuja. Menurut Fuja komunitas Petani mulai dikenal pada pertengahan 2018. Kini anggota komunitas Petani 150 orang tersebar di berbagai daerah seperti Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat, Madiun, Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pada umumnya anggota komunitas anak-anak muda yang bergiat di bidang pertanian beragam komoditas. Meski ada juga anggota berusia 40-an tahun. Menurut Fuja banyaknya anggota masyarakat dari beragam latar belakang profesi menjadi anggota komunitas menunjukkan tingginya animo menjadi petani. Para anggota mengunggah pengalaman, cerita, dan informasi pertanian di media sosial yang dibangun Fuja.

Mereka membudidayakan beragam tanaman seperti jahe, porang, serai wangi, tanaman palawija, dan tanaman hortikultura. Informasi itu berguna bagi masyarakat yang akan terjun ke pertanian. Lihat saja Oktavianus di Mempawah yang mencari informasi budidaya serai wangi. Ia mendapatakan banyak informasi dari komunitas itu. Bahkan, pada akhirnya ia berkunjung ke lahan serai wangi milik Fuja selama 3 hari 2 malam.

Jejaring komunitas

Oktavianus di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, menjadi anggota Petani.

Dua tahun lalu, pada 2019 Oktavianus mulai menanam serai wangi di daerahnya. Namun, produksi tanaman rendah karena penanaman di lahan gambut dengan tingkat keasaman tinggi. Itulah sebabnya Oktavianus beralih pada komoditas lain, yakni jahe. Sarjana Pertanian alumus Universitas Tanjungpura itu pernah mendapatkan tawaran bekerja sama dengan sebuah perusahaan untuk memasok porang dan beneng.

Menurut Fuja kerja sama itu berkat jejaring sebagai anggota komunitas Petani. Harap mafhum, selain menjadi ajang silaturahmi, komunitas Petani juga berfungsi mempertemukan perusahaan yang membutuhkan beragam produk dan para petani sebagai pemasok. Bahkan, kadang-kadang sebuah perusahaan langsung datang ke petani melalui koneksi komunitas Petani dan menjalin kerja sama seperti kasus Oktavianus.

Fuja kerap membagikan informasi kerja sama dengan perusahaan-perusahaan. Ia mengajak anggota lain untuk memasok karena tingginya permintaan. Artinya para anggota memungkinkan untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan. Menurut Fuja anggota komunitas tersebar di berbagai provinsi sebagai agen penggerak agar makin banyak orang yang tertarik menjadi petani. (Andriyansyah Perdana Murtyantoro)

Previous articleArif Menangkap Kepiting
Next articleGaji Gema Asal Gupi
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img