Wednesday, August 10, 2022

Bangsa Berpohon

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Provinsi Jambi akan punya Kebun Raya (KR) Bukit Sari; Jawa Tengah, KR Baturaden; Kalimantan Timur, KR Balikpapan; Lampung, KR Liwa; Jawa Barat, KR Kuningan; Kalimantan Tengah, KR Katingan; Sulawesi Selatan, KR Enrekang dan KR Puca.

 

Untuk apa menanam bermiliar pohon? Pertama, tidak mau kalah dengan bangsa lain. Inggris yang hanya seluas Sumatera punya 100 kebun raya. Amerika punya lebih dari 300. Bahkan kota Kualalumpur, ibukota Malaysia, merancang empat kebun raya.

Sedangkan di Indonesia baru ada 4: Bogor dan Cibodas di Jawa Barat, Purwodadi di Jawa Timur, dan Bedugul di Bali. Jadi, kalau ditambah delapan lagi, jumlahnya jadi 12. Artinya, masih jauh dari mencukupi. Bayangkan seandainya setiap kabupaten punya satu. Paling sedikit ada 200 kebun raya di negeri ini, artinya satu kebun untuk satu juta manusia.

Apa itu KR?

Jawaban paling awam barangkali, KR adalah kumpulan pohon besar dan tua seperti di Bogor dan Cibodas. Kebun Raya Bogor yang dibuka pada Mei 1817, genap berumur 190 tahun, memang penuh pohon besar. Banyak pohon tua di sana. Jajaran kenari yang disebut canarium avenue, sudah rapi berbaris sejak 1835. Pohon kelapa sawit pertama di Indonesia pun ada di sana. Namun, betulkah kebun raya adalah koleksi pohon raksasa, semisal damar Agatis alba di Cibodas? Tingginya sekitar 70 meter, lingkar batang 5 meter-tiga pelukan orang dewasa? Tentu saja boleh dijawab begitu. Namun, sebenarnya KR bukanlah fasilitas. KR adalah aktivitas. Kebun Raya atau taman botani adalah tanda ada kegiatan manusia mencintai tumbuh-tumbuhan.

Tujuan didirikannya kebun raya berevolusi dari zaman ke zaman. Tiga ribu tahun lalu di India, taman botani adalah tempat mencari kebahagiaan. Raja, permaisuri, pangeran, dayang-dayang sehari-hari ada di taman. Itu dapat kita baca bagaimana koleksi tanaman dalam kisah Ramayana. Misalnya, Dewi Sinta diharapkan menghibur diri di dalam pengasingan. Hanuman pun melompat ke pohon nagasari Mesua ferea, untuk memata-matainya. Kera yang sama juga makan 18 macam buah-buahan dari sebuah pertapaan. Jadi, selain raja, koleksi pohon-pohonan juga menjadi milik para cendekiawan.

Itu bersambung hingga sekarang. Kebun raya banyak terkait dengan universitas. Misalnya, sekali lagi di Malaysia, ada Rimba Ilmu Botanical Garden yang dikelola oleh Universiti Malaya, letaknya juga di lingkungan kampus itu. Jadi fungsi utama KR adalah untuk pendidikan. Tentu saja pendidikan bermasyarakat, pelajaran untuk hidup.

Dari pohon, manusia mendapat inspirasi untuk hidup. Tumbuh rapi, menjulang ke langit, tidak diskriminatif. Semua orang boleh menikmati kerindangan, menghirup oksigen dan berlindung padanya. Kalau pohon itu berbunga atau berbuah, juga tidak memilih siapa boleh mencium aromanya, siapa yang tidak.

Kalau ada pertengkaran, persaingan, atau perebutan rezeki, pohon tidak melakukannya secara terbuka. Di dalam tanah, mungkin akar-akar mereka saling berhadapan, berkelahi. Namun, di permukaan sama-sama gembira. Sama-sama menyambut angin dan matahari. Pada masa lalu, di sejumlah keraton Jawa, selalu dilengkapi taman sari. Itu juga tempat mendapat inspirasi, menimba kebijaksanaan. Bung Karno suka menyusun pidato sambil menyepi di taman.

Perlu mitra

Sekalipun ada kecenderungan penikmat KR meningkat, harus tetap diperhatikan bahwa pohon-pohon belum seramai dunia fantasi. Jumlah pengunjung kebun raya di seluruh muka bumi berkisar 300-juta-400-juta orang setahun. Padahal, jumlah penikmat kebun binatang bisa 600-juta lebih. Artinya, 10 persen dari penghuni planet kelahiran kita ini, sekurang-kurangnya satu kali datang ke kebun binatang, taman safari, taman burung, atau akuarium raksasa atau Sea World.

Di Indonesia, para pencinta kebun raya masih sedikit. Ini berbeda dengan KR di Amerika Serikat yang bisa menyerap ribuan anggota tetap. Misalnya, Chicago Botanical Garden punya lebih dari 48.000 mitra. Kalau bukan anggota, karcis masuk ke sana sekitar US$15 setara Rp135.000 per hari. Sedangkan kalau anggota dapat potongan. Selain itu, kartu anggota juga diperlukan untuk mendapat diskon kalau hendak mengikuti berbagai acara.

Acara memang merupakan komponen penting untuk setiap Kebun Raya. Tanpa adanya acara, koleksi aneka tanaman belum cukup menebar pesona. Kebun raya di berbagai kota besar dunia ramai dikunjungi karena menyediakan bermacam-macam kursus. Ada pelajaran merangkai bunga, fotografi dan cinematografi tanaman, latihan mencukur, memindahkan, serta memperbanyak tanaman. Merawat anggrek, menghitung burung, bahkan melindungi kodok dan reptil pun bisa menjadi acara menarik di kebun raya. Karena itu, pertimbangan pertama yang harus dipikirkan bila hendak membuka kebun raya adalah ketersediaan pasar. Beberapa tahun belakangan pemerintah Yordania mengucurkan dana besar untuk membangun Jordan Botanical Garden. Tempat yang luas pun tersedia. Namun, sayang, tenyata KR itu tidak berkembang karena terlalu jauh dari ibukota, Amman, dan terlalu sedikit pengunjungnya.

Sebaliknya, KR Bogor terletak di pemukiman padat, bahkan di tengah kota yang terkenal macet karena beribu-ribu angkutan kota dan terbatasnya jalanan. Lebih dari 1,2 juta pengunjung KR Bogor setiap tahun. Namun, jangan mengira mereka semua penggemar tanaman, apalagi peneliti. Sebagian besar datang untuk berlibur Lebaran, piknik bersama keluarga, bergembira di tempat terbuka. Kebun raya dan kebun binatang kita diserbu warga setiap tahun, karena berfungsi sebagai ruang publik.

Perawatan KR

Faktor keempat, selain sarana, aktivitas dan warga pendukung perlu adanya produk yang bersinambungan. Produk terpenting dari kebun raya adalah munculnya peneliti, tenaga-tenaga ahli, dan masyarakat yang sehat. Jangan heran kalau taman botani menjadi tempat olahraga pagi, latihan yoga, dan teristimewa tempat semua orang bisa belajar menjadi pakar, pengamat evolusi tumbuhan, penemu obat-obatan, dan inovator industri.

Karena itu, setiap kebun raya yang didirikan, sekaligus perlu mengembangkan diri menjadi pusat informasi. Masalah fundamental yang membedakan kebun raya dan hutan kota, hutan lindung, atau taman penghijauan, adalah peranannya sebagai pusat informasi. Kebun raya memiliki sistem dan kebijakan koleksi. Kebun raya selalu didukung oleh tenaga-tenaga andal di bidang taksonomi, biologi, dendrologi (ilmu tentang pohon), bahkan dendro kronologi, ilmu menghitung umur pohon.

Setiap pohon di taman botani atau kebun raya berhak mempunyai nomor induk, label tanaman, dan catatan kehidupannya. KR Singapura bahkan memasang cip pada poho-npohon dan tanaman yang penting. Malaysia memasang penangkal petir di setiap pohon yang diperhitungkan dan harus dilindungi.

Pohon-pohon itu dipetakan, diasuransikan, dipromosikan, benar-benar dipelihara. Bila dianggap perlu, pohon juga dipindahkan. Tahukah Anda untuk memindahkan sebatang pohon sempur Dilenia sp menelan biaya lebih dari Rp210-juta?

Artinya, perawatan KR perlu biaya besar. Di Indonesia biaya pembangunan sebuah KR Rp200-miliar. Siapakah yang akan membayarnya? Belum lagi biaya operasional. Sekadar ilustrasi, biaya operasional KR Bogor setiap tahun mencapai Rp5-miliar. Dari jumlah itu hanya Rp1-miliar yang ditanggung pemerintah. Penjualan tiket menghasilkan Rp2-miliar, dan selebihnya harus dicari sendiri.

Bagaimanakah mencukupi kebutuhan yang Rp2-miliar lagi? Ada jasa pembuatan taman, penjualan bibit, program asuh pohon, penjualan publikasi, penarikan biaya penelitian, retribusi restoran, termasuk penjualan cenderamata, dan biji-biji pohon untuk benih. Berbagai pohon tua menghasilkan biji-bijian untuk ditanam lagi.

Salah satu contoh paling laris, banyak, dan paling murah adalah biji kenari Canarium indicum dan sekitar 10 varietasnya, dari yang paling kecil sampai kenari babi. Harga satu kilogram biji kenari Rp10.000. Kalau dirawat dan dipanen dengan benar, satu pohon besar menghasilkan sedikitnya 30 kg setahun. Total penghasilan sebatang kenari selama 170 tahun sekitar Rp48-juta.

Benih kenari termasuk paling murah, dibandingkan keluwak Pangium edule, kolang-kaling Arenga pi?ata, keruing, meranti, dan macam-macam shorea. Untuk pasar dalam negeri saja, harga benih mencapai Rp25.000-Rp40.000 per kilogram. Apalagi kalau bisa jadi tanaman hias dan bonsai, harganya bisa berjuta-juta rupiah. Itu menyadarkan kita, nilai paling tinggi sebuah tanaman bukanlah bisa dimakan buahnya atau tidak. Nilai yang lebih tinggi datang dari fungsi pohon sebagai tanaman hias.

Begitu juga sebatang beringin, kurma, bodhi, dan pohon-pohon lain yang menyandang nilai-nilai kultural, spiritual, keagamaan, dan tradisi, harganya sering kali tidak terbeli. Terakhir, setiap taman botani perlu dikelola sesuai tahap-tahapan dan proses yang dijadikan standar dunia. Setiap pengelola kebun raya harus membangun dan memelihara jejaringnya. Untuk itulah diperlukan kerja sama, pertukaran bibit, maupun pengelolaan eksplorasi bersama. ***

*) Eka Budianta, kolumnis Trubus, sastrawan, direktur proyek Jababeka Botanical Garden di Cikarang, Jawa Barat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img