Sunday, November 27, 2022

Banyak Pilihan Mata Naga

Rekomendasi

 

‘Wow, pantas manis. Kadar gulanya 23o briks,’ kata Wishnu Dewahjana, staf riset dan pengembangan PT Momenta Agrikultura, pemasok buah di Surabaya. Kristal jelas lebih manis ketimbang pingpong yang hanya 15 – 16o briks. Padahal kadar gula setinggi itu diukur saat musim hujan. Menurut Wishnu saat kemarau bisa lebih manis lagi, mencapai 25 – 26o briks. Kristal makin istimewa karena berdaging tebal. Begitu digigit, separuh gigi terbenam dalam daging buah setebal 4 – 5 mm.

Daging tebal lantaran biji mungil seukuran kedelai. Dengan kualitas seperti itu, Wishnu yakin bila kristal bakal menjadi pesaing lengkeng impor yang membanjiri pasar buah tanahair. ‘Tinggal harganya yang kompetitif,’ katanya.

Sukses berbuah

Apalagi mata naga – sebutan lengkeng – introduksi itu adaptif di tanahair. Beberapa pekebun berhasil membuahkan kristal dan berproduksi tinggi meski baru belajar berbuah. Saat panen perdana pada Januari 2009, Prakoso memanen 48 kg kristal dari pohon berumur 4 tahun.

Tiga pekebun di Kalimantan Barat juga sukses membuahkan kristal. Baharuddin, di Pontianak memanen 40 kg kristal dari sepohon berumur 3 tahun. Pengalaman serupa dialami dr Buddy Sudjatmiko, kolektor buah di Pontianak. Saat mengunjungi kebun miliknya pada akhir Desember 2008, kristal berumur 3 tahun sarat buah muda yang siap dipanen sebulan lagi. Hampir di setiap ujung cabang bergelayut dompolan buah. Di Singkawang, Mulyono memanen 100 kg kristal dari 6 pohon berumur 3 tahun.

Sayang daging buah kristal kalah renyah ketimbang lengkeng impor asal Thailand. ‘Konsumen lebih suka yang berdaging kering,’ ujar Wishnu. Namun, dibanding jenis lain seperti diamond river dan pingpong, kristal tetap lebih kering. Menurut Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, ahli buah di Bogor, kerenyahan daging buah dipengaruhi kondisi lingkungan. ‘Kalau ingin renyah tanam di daerah panas dan tidak lembap,’ katanya.

Kelemahan lain kristal perlu perlakuan khusus agar berbuah. Prakoso menambahkan 200 ml larutan perangsang buah. Sedangkan Baharuddin menambah 100 g pupuk khusus asal Thailand untuk merangsang buah. Hanya Mulyono yang sukses membuahkan kristal tanpa perangsangan. Ia hanya melakukan pemupukan reguler berupa campuran 1 ton kotoran ayam, 50 kg dolomit, 10 kg KCl, 10 kg Urea, dan 50 liter larutan air mikro.

Air mikro yang dimaksud semacam campuran efektif mikroorganisme yang dicampur unsur hara mikro. Produk itu dibeli dari Jakarta yang diimpor dari China. Seluruh bahan diaduk hingga merata, lalu disimpan sambil ditutup terpal selama 2 pekan. Pupuk diberikan 3 – 4 kg/pohon dengan interval 3 – 4 bulan sekali.

Empat tahun

Kristal sejatinya bukan pendatang baru. Mulyono pertama kali mendatangkan 500 bibit kristal pada 2004 dari Sarawak, Malaysia. Ketika itu lebih populer dengan nama kristalin. ‘Nama kristal dengan kristalin sama saja,’ kata penggemar film drama Tiongkok itu.

Di Sarawak sendiri kristal populer di kalangan pekebun karena unggul. Itulah sebabnya dari 500 bibit yang diimpor, 450 bibit langsung ludes diborong para penangkar dan hobiis buah. Sisanya 50 pohon ditanam di kebunnya di Sijangkung, Singkawang. Kristal seolah menjadi lengkeng baru karena keunggulannya baru terbukti oleh beberapa pekebun yang berhasil membuahkan.

Empat tahun silam Mulyono juga mendatangkan satu jari. Disebut demikian karena ruas-ruas batang pendek, hanya satu jari. Keunggulannya sama dengan kristal: buah kering, daging tebal, dan biji mungil. Bedanya belum banyak pekebun yang mencicip buahnya. Hasil penelusuran Trubus baru di kebun Ir Anton Kamarudin MS, hobiis tanaman buah di Siantan, satu jari berbuah. Staf Dinas Pertanian Kalimantan Barat itu menanamnya dalam drum. Dari tanaman berumur 2 tahun, Anton memanen 4 kg buah.

Penampilan satu jari mirip lengkeng aroma durian yang populer pada 2006. Keduanya memiliki karakter sama: pucuk berwarna merah. Warna buah muda satu jari hijau muda dan berubah menjadi gading saat matang. Daging buah kering dan tebal karena berbiji kecil. Pada saat bersamaan 2 varietas lengkeng unggul asal Thailand juga masuk ke tanahair: si chompu dan bieo khieo. Keduanya tergolong lengkeng dataran tinggi.

Yang menarik baru-baru ini si chompu berbuah lebat di Semarang yang panas. Suko Budi Prayogo memanen 50 kg si chompu dari pohon berumur 3 tahun. Buahnya mirip itoh: berdaging kering dan biji mungil sebesar jagung. Daging buah sedikit merah muda. Batang dan tangkai lebih besar dan kokoh. Karakter daun mirip rambutan, panjangnya 19 cm, lebar 6,2 cm. Sayangnya bieo khieo hingga kini belum berbuah.

Lengkeng imigran asal Thailand yang juga sukses berbuah di tanahair puang rai. Ricky Hadimulya, penangkar buah di Bogor, menduga puang rai silangan alami diamond river dan pingpong. Itu terlihat dari bentuk daun muda yang mirip diamond river: lurus dan datar, lalu melengkung, seperti pingpong pada daun tua.

Sayang, daging buah puang rai berair mirip diamond river. Toh ia cocok buat tabulampot karena batang lebih liat ketimbang diamond sehingga tak mudah belah. (baca: Puang Rai, si Liat Pengganti Diamond, hal. 28).

Banyak varian

Yang unik lengkeng-lengkeng pendatang itu melahirkan varian-varian baru di tanahair. Itu akibat segregasi sifat, mutasi, dan persilangan alami. Musababnya, lengkeng memiliki tingkat heterozigot tinggi sehingga keragaman genetik semakin tinggi (baca: Lengkeng, Mudah Bersalin Rupa, hal. 24).

Salah satu contohnya verny. Ia lengkeng tanpa label yang didapat Prakoso 5 tahun silam. Ukuran buah sebesar pingpong, tetapi daging buah mirip itoh: kering dan tebal. Kemiripan verny dengan itoh juga dari bentuk daun yang sama-sama besar. Panjangnya 24 cm dan lebar 6,5 cm, lebih besar daripada daun pingpong yang panjangnya hanya 11 cm dan lebar 4 cm.

Deng an karakter seperti itu, diduga verny mutasi dari itoh atau silangan alami dari pingpong dan itoh. Yang istimewa verny berkulit tebal sehingga awet disimpan hingga sepekan dalam suhu ruang. Bandingkan dengan lengkeng jenis lain yang hanya tahan 4 – 5 hari. ‘Cocok untuk memenuhi permintaan jarak jauh,’ ujar ayah 2 anak itu. Sayang, verny – diambil dari nama anak Prakoso, Vera dan Danny – perlu perlakuan khusus agar berbuah. Lengkeng hasil seleksi pada 2003 itu perlu perangsang buah yang jenisnya serupa dengan perangsang itoh dan kristal.

Di Thailand juga terus-menerus muncul varian baru. Terkadang varian itu diperoleh tanpa sengaja seperti dialami Ir Syahril M Said, penangkar buah di Cipaku, Bogor. Ketika mengimpor 2.000 bibit itoh pada 2004, Syahril menyeleksi 200 bibit berkarakter ‘menyimpang’ dari itoh. Daunnya mirip diamond, tetapi lebih besar. Pada 2008 beberapa bibit ‘menyimpang’ itu berbuah lebat. Kiki Rizkika, wartawan Trubus, mencicip sebuah dan rasanya lebih manis ketimbang itoh. Cuma jenis itu belum ada nama.

Marsekal Muda TNI (Purn) Prayitno Ramelan, hobiis buah di Jakarta, juga tak sengaja memperoleh varian unggul saat mendatangkan bibit dari Thailand 4 tahun silam. Lengkeng yang daunnya mirip diamond river itu justru berkarakter mirip itoh. Kulit buah kasar dan daging kering.

Menurut Eddy Soesanto, penangkar buah di Kelapadua, Depok, bila lengkeng jenderal varian berasal dari diamond river, maka ia termasuk diamond terkering yang pernah dicicip. Kehadiran varian lengkeng itu kian memperkaya keragaman lengkeng di tanahair. Dengan begitu, makin banyak pilihan bagi para pekebun untuk membudidayakannya. (Imam Wiguna/Peliput: Destika Cahyana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img