Monday, August 8, 2022

Baru! Kaktus Rp12-juta

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di setiap puncak mahkota ada rambut-rambut halus berwarna putih. Harap mafhum, itulah mutasi paling fenomenal di dunia ariOcarpus-kaktus tak berduri yang sejak 20 tahun lalu selalu memegang rekor harga termahal.

Godzilla berkepala 2 itu datang dari Thailand dengan banderol Rp12-juta untuk diameter 10 cm. Bandingkan dengan mammillaria, notocactus, dan ferocactus. Itu kaktus-kaktus berduri berbentuk bulat dan belimbing yang banyak diproduksi di Lembang, Kabupanten Bandung, Jawa Barat. Harganya hanya Rp7.500-Rp10.000 per pot dengan diameter sama. Artinya nilai gozilla 1.200 kali kaktus ‘biasa’.

Toh, meski godzilla mahal, Santoso Hidayat sabar menunggu selama 3 bulan untuk mendapatkannya. Kolektor tanaman sukulen di Kelapagading, Jakarta Utara, itu bolak-balik menelepon importir supaya mendatangkan kaktus bergerinjul itu dari negeri Siam ke tanahair.

Kaktus=lukisan

Kaktus mahal juga disandang Ariocarpus furfuraceus ‘Cauliflower’. Bentuknya mirip godzilla, tapi gerinjul menyerupai brokoli digantikan tonjolan-tonjolan menggembung. Harga sesosok cauliflower berdiameter 10 cm adalah Rp12,5-juta. Mencari yang sedikit lebih ‘murah’? Sebut saja kaktus bulat tersusun dari ‘kelopak-kelopak’ yang menumpuk membentuk bola berwarna hijau-kuning-jingga dan kaktus bak mawar mekar sempurna berwarna jingga kekuningan.

Yang pertama adalah A. fissuratus var lloydii variegata berdiameter 10 cm seharga Rp7,5-juta. Kedua, A. fissuratus variegata Rp5-juta berdiameter setara. Mengapa mereka menjadi mahal? ‘Mereka langka karena turunan dari bentuk mutasi. Kemungkinan kemunculannya 1:1000 bahkan 1:5.000 semaian biji,’ kata Handry Chuhairy, pemilik Hans Garden di Tangerang Selatan. Ia berani bertaruh godzilla dan cauliflower berukuran di atas 10 cm jumlah masing-masing kurang dari 10 tanaman.

Apalagi pertumbuhan kaktus batu hidup-julukan ariocarpus-sangat lambat. Simak pengalaman Erminus Temmy. Di nurserinya di Lembang, Bandung, ada A. furfuraceus dan A. agavoides yang disemai dari biji 3 tahun silam. Sekarang diameternya baru 2 cm!

Ir Satrio Wiseno MPhil, periset pasar di Jakarta, menyetarakan fenomena melambungnya harga kaktus langka seperi lukisan antik karya seniman ternama. ‘Bila benar jumlahnya terbatas itu mirip lukisan karya Affandi yang langka. Namun, bila ternyata jumlahnya banyak, bisa jadi itu pop marketing seperti kasus anthurium,’ katanya. Toh, belasan artikel di Cactus and Succulent Journal yang diterbitkan komunitas kaktus dan sukulen Amerika, menyebut pertumbuhan ariocarpus memang paling lambat di antara kaktus lain. Itulah sebabnya harga ariocarpus selama 36 tahun terakhir selalu menjadi yang termahal.

Dorong permintaan

Meski mahal, nyatanya kaktus-kaktus tak berduri itu dengan cepat berpindah ke tangan kolektor. Handry baru tiba di tanahair pada Kamis, 2 April 2009 pukul 02.00 dinihari. Selang 3 hari kemudian 2/3 dari 300 pot kaktus yang baru didatangkan dari Thailand itu ludes. Pakar pemasaran di Jakarta, Kafi Kurnia, tidak terlalu heran melihat fenomena seperti itu.

‘Di Indonesia banyak orang kaya ingin memperlihatkan kesuksesan dan kekayaan lewat simbol-simbol,’ ujar konsultan ekonomi yang banyak melahirkan merek besar seperti Pertamax, Esia, dan Fastron itu. Sosok kaktus yang beda, langka, dan mahal setara dengan jam tangan Rolex, perkutut juara berharga ratusan juta rupiah, atau arwana. Makin sedikit yang memiliki, kian tinggi derajat kebanggaan pemilik.

Satrio sepakat dengan Kafi Kurnia. Satrio meramalkan bila kaktus mahal dan unik itu populer maka bisa menjadi lokomotif bisnis kaktus. ‘Dampaknya sangat besar. Semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi yang memelihara pasti golongan atas. Permintaan dari golongan itu akan meningkat karena orang Indonesia dikenal latah. Bahkan golongan menengah dan bawah pun ingin memiliki,’ kata praktikus survei pemasaran itu. Karena itu, menurut Satrio, gejala seperti itu mesti diikuti tersedianya penawaran dari produsen.

Munculnya kaktus baru pun bakal berpengaruh pada pasar kaktus biasa yang harganya Rp5.000-Rp7.500 per pot. ‘Ibarat sebuah lokomotif, orang bakal melirik kaktus lagi sebagai tanaman koleksi. Permintaan juga otomatis meningkat, tapi harga jenis lama tak bakal terdongkrak drastis karena segmen pasar beda,’ tutur Satrio. Kaktus baru konsumsi masyarakat atas sedangkan kaktus jenis lama masyarakat bawah. Sekadar mencontohkan, kini volume penjualan kaktus dari produsen di seputaran Lembang 150.000 pot per bulan yang menyebar ke Medan, Palembang, Bukittinggi, Samarinda, Manado, Bali, dan Lombok.

Muncul serempak

Prediksi Satrio mulai mendapat bukti. Penelusuran Trubus kolektor bermunculan di berbagai kota. Sebut saja Jaka Perkasa. Kolektor sansevieria di Tangerang itu kepincut kaktus variegata tanpa duri. ‘Saya betul-betul kaget melihat kaktus tak berduri. Apalagi warnanya variegata,’ kata pengusaha di sektor bahan bakar itu. Pada April 2009 Jaka memboyong 15 pot kaktus belang tak berduri jenis Astrophytum asterias dan A. myriostigma senilai Rp25-juta. Asterias khas dengan titik-titik tebal di puncak lekukan. Jumlah lekukan asterias 8. Sedangkan myriostigma-juga tak berduri-ciri khasnya berbentuk seperti belimbing. Lekukan normal berjumlah 5.

Di Medan ada Dewi Anggreni, pengusaha properti dan makanan beku. Ia mulai mengumpulkan kaktus baru sejak 1,5 tahun terakhir. ‘Dulu waktu sekolah menengah saya suka kaktus, kini setelah lihat jenis baru, tertarik kembali,’ katanya. Di tangan Dewi ada Astropithum myriostigma ‘kiko’ yang nilainya Rp3-juta. Kaktus tanpa duri setinggi 17 cm dan berdiameter 6 cm itu langka karena bentuk seperti kotak. Embel-embel kiko menunjukkan ia berasal dari nurseri di Jepang.

Nun di Cianjur, Jawa Barat, dr Toki Samsudin, juga mengoleksi kaktus. Jenisnya memang masih yang lama-mammillaria, notocactus, dan ferocactus-semua jenis berduri. ‘Saya belajar dengan jenis biasa dulu. Jika sudah berhasil, siap berburu jenis baru,’ kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran yang kolektor lukisan itu. Sebagai persiapan Toki membangun rumah plastik berukuran 3 m x 4 m di dak lantai 2 rumahnya. Sementara di Surabaya seorang pendeta mengoleksi astrophytum tak berduri dan berduri lembut sejak 2 tahun silam.

Maraknya kolektor memburu kaktus baru diakui Aris Andi, pemilik nurseri Sekar Kampoeng, di Yogyakarta. Pada awal April 2009 ia memborong 150 pot asterias, myriostigma, dan lophophora asal Thailand. Yang disebut terakhir juga tidak berduri dengan sosok khasnya yang membulat. Dalam hitungan hari kaktus tak berduri itu ludes dibeli hobiis dari Medan, Lampung, Surabaya, Solo, dan pedagang seputaran Yogyakarta. ‘Pembeli kebanyakan pemain sukulen yang sudah mengenal kaktus. Mereka tertarik karena kaktus baru itu banyak diselimuti rambut dan titik-titik putih,’ kata Aris.

Handhi di Tangerang juga mengalami hal serupa. Baru sebulan menjajakan kaktus baru tak berduri dan berselimut warna putih, 200 pot dari 400 pot yang dibawa dari Thailand berpindah ke tangan hobiis.

Helm samurai

Banyak rambut dan totol putih memang menjadi salah satu ciri khas kaktus-kaktus baru. Keduanya sejatinya evolusi dari kulit batang dan tangkai daun (Baca: Berevolusi atau Mati! Hal 20) Kaktus berambut dan totol putih pertamakali muncul tanpa sengaja di Jepang pada jenis asterias-kaktus tak berduri yang berbentuk bulat tapi berlekuk. Si empunya, Masaomi Takeo, mempopulerkan kaktus unik itu dengan nama kabuto-kabuto artinya helm seorang samurai.

Mulai 1962 Masaomi menyilang-nyilangkan kabuto dengan asterias lain, pun dengan myriostigma-tanpa duri berbentuk belimbing. Dua puluh tahun berselang ia mendapat kaktus-kaktus bintang baru berbercak putih dan unik. Salah satunya Astrophytum asterias ‘superkabuto’ yang menggegerkan pameran Japan Cactus Exhibition pada 1979. Musababnya, dot alias di areole-semula tempat tumbuhnya duri-tebal dan besar. Selimut berupa rambut tipis menebal bahkan membentuk corak.

Varian lain memunculkan corak seperti zebra, bentuk huruf v, dan spiral. Masing-masing mendapat julukan hanazono, kiko, dan miracle kabuto. Itulah kaktus-kaktus yang kini dikoleksi Santoso, Jaka, dan Dewi.

Bandrol euro

Dari negeri Matahari Terbit, kaktus silangan baru menyebar ke Eropa dan Amerika. Ketika itu kelahiran mereka menyebar melalui Cactus and Succulent Journal yang diterbitkan komunitas kaktus dan sukulen di Amerika. Di Asia negeri Siam pun tak ketinggalan. Di sana sejak 1969 nurseri Uncle Chorn’s Cabin, di Pathumtani, Thailand, mengumpulkan kaktus-kaktus terbaru dari Jepang, Amerika, dan Eropa. ‘Setelah 10 tahun mengumpulkan koleksi, barulah kakek saya berbisnis kaktus,’ kata Pukhao Chakasik, sekarang pemilik nurseri kepada wartawan Trubus Rosy Nur Apriyanti.

Lazimnya seperti tanaman hias lain-misal adenium dan aglaonema-volume produksi kaktus di Thailand cepat berlipat hingga melebihi Jepang, Amerika, Jerman, dan Eropa. ‘Itu karena lahan di Thailand tersedia lebih luas ketimbang negeri lainnya,’ kata Handry. Menurut Pukhao, kakeknya memulai nurseri di lahan seluas 400 m2. Kini 40 tahun berselang menjadi 1,6 ha. Di lahan itu dibangun 5 rumah tanam dengan sistem terowongan dan 1 bersistem punggung babi yang megah masing-masing berukuran 4 m x 5 m dan 8 m x 10 m. Boleh dibilang nurseri kaktus yang dikelola 3 generasi itu terbesar di negeri Gajah Putih itu. Di Pathumtani ada 4-5 nurseri lain.

Kini produksi Pukhao ratusan ribu tanaman per tahun. ‘Untuk jenis biasa-maksudnya seperti kaktus di Lembang-kami punya 10.000 tanaman per spesies. Sedangkan jenis langka hanya 1-500 tanaman,’ kata Pukhao. Semua kaktus dari Uncle Chorn’s dibanderol dalam euro. Maklum target pasarnya kolektor di Eropa yang selalu berburu jenis baru. Makanya selain mengambil jenis baru dari Jepang, Pukhao juga menyilangkan sendiri. Jenis yang sejatinya hendak dikirim ke Eropa itulah yang kini hadir di tanahair.

Pakar fengshui, Master Alex Lie, menyambut baik masuknya kaktus tak berduri. ‘Banyak klien saya menyukai kaktus. Tapi saya tidak pernah menyarankan mereka memelihara kaktus,’ tuturnya. Musababnya, duri pada kaktus memancarkan energi negatif pada pemilik. Ketika kini duri menghilang, tak ada alasan melarang merawat kaktus dari sudut fengshui.

Toh, terlepas dari urusan fengshui, kaktus tak berduri diakui jadi pemikat hobiis tanaman di tanahair. ‘Ini bisa jadi tanaman mahal yang memikat hobiis baru,’ ujar Yos Sutiyoso, pemain tanaman hias di Jakarta. Kolektor lama seperti Agus Peni dan J Wenas di Surabaya yang belasan tahun mengoleksi kelompok kabuto dari hasil lawatan ke Eropa atau Jepang pun ikut bergairah. Kondisi seperti ini persis seperti yang diprediksi seorang pemain sukulen pada 2006: kaktus bakal (kembali) populer! (Destika Cahyana/Peliput: Evy Syariefa, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, dan Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img