Thursday, December 8, 2022

Baru: Panen Botia Tiap Bulan

Rekomendasi

 

Sebelumnya, penelitian Chromobotia macracantha pada 2002 oleh Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar-kini LRBIHAT-dilakukan berdasarkan trial and error. Wajar tingkat keberhasilan perkembangan relatif rendah. Sebab itu tim peneliti turun langsung ke habitat asli botia di Sungai Sekayu, Sumatera Selatan, selama 2 bulan, dilanjutkan monitoring selama 1 tahun pada 2003. ‘Itu untuk membuat habitat buatan seperti aslinya sehingga dapat diperoleh cara pemijahan botia dan pertumbuhan larva yang sesuai,’ ujar Drs Agus Priyadi, peneliti di LRBIHAT.

Pada percobaan awal, pemijahan dilakukan di bak fiber yang ditaruh di luar ruangan. Kini pemijahan dilakukan di dalam kanvas tank dan di dalam ruangan. Bentuk kanvas tank yang agak menyempit di bagian atas, plus lokasi pemijahan di dalam ruangan meminimalkan cahaya matahari yang masuk. ‘Ini sesuai habitat asli yang redup dan tenang,’ kata Agus. Dengan demikian telur yang dihasilkan induk bakal berkualitas dan larva lebih kuat sehingga mencapai ukuran yang diinginkan.

Manipulasi suhu

Selain tempat pemijahan yang berubah, dari pengamatan di lapangan dijumpai setiap Februari-Maret larva botia seukuran biji bunga matahari melimpah. Artinya, ikan yang bisa mencapai panjang 50 cm itu memijah sekitar November atau di awal musim penghujan. Di saat itu pula terjadi penurunan suhu air sungai cukup drastis menjadi 23-240C dari suhu musim kemarau 300C. Faktor ini diduga berperan memicu pemijahan botia di alam.

Di LRBIHAT, fluktuasi suhu dimanipulasi dengan cara menurunkan dan menaikkan permukaan air di bak pemijahan. ‘Air diturunkan 30 cm agar suhu meningkat layaknya musim kemarau, lalu dinaikkan lagi setelah 1-2 minggu agar suhu turun,’ kata alumnus Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta itu. Dengan cara itu botia dapat memijah tiap bulan. Penelitian sebelumnya botia memijah setahun sekali.

Pada penelitian, botia induk berasal dari ikan alam yang dibesarkan. Botia itu dilatih sesuai kondisi tempat pemijahan juga diberi pakan bergizi. ‘Pakan kaya gizi penting saat pembentukan larva berkualitas, sehingga tingkat kematian bisa ditekan,’ kata Agus.

Cacing tanah dipilih sebagai pakan karena mengandung 20 asam amino esensial. Lumbricus sp itu diberikan sebanyak 3-5% bobot botia. Calon induk diadaptasi 2 tahun dalam kanvas tank berdiameter 3 m dan berkedalaman 60 cm. Air yang dipakai air sumur yang diresirkulasi. Populasi botia pada kanvas adalah 200 ekor.

Kawin suntik

Jika botia siap dipijahkan, betina dikateter untuk dicek tingkat kematangan telurnya. Bila ditemukan 80% telur matang dilakukan penyuntikan hormon HCG 500 IU sebanyak 1/3 bobot tubuh. Hormon HCG berfungsi merusak kantung telur sehingga merangsang ovulasi. Selang 12-24 jam betina disuntik untuk kedua kalinya memakai ovaprim dosis 0,5-0,7 cc/kg bobot tubuh. Penyuntikan ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas telur seperti kematangan, bentuk, dan ukurannya. Botia memijah 15-18 jam sesudah disuntik ovaprim.

Bersamaan dengan penyuntikan ovaprim pada betina, botia jantan pun disuntik ovaprim dosis 0,2-0,3 cc per induk. Sperma kemudian diambil dengan siring sebanyak 1 ml. Sebagai pengganti semen ditambahkan 0,1 ml NaCl fisiologis agar sperma tetap hidup. Sperma dicek fertilitasnya di bawah mikroskop, lalu disimpan dalam boks es selama 6-8 jam.

Selanjutnya telur botia ditampung dalam wadah kering dan dicampurkan sperma. Perbandingannya, jika ada 20 gram telur, cukup dicampur 1-2 cc sperma. Campuran diaduk dengan bulu ayam agar merata, setelah itu campuran dicuci larutan NaCl fisiologis atau air bersih dan terakhir dimasukkan dalam corong inkubasi.

Telur menetas menjadi larva setelah diinkubasi selama 12-21 jam pada suhu 25- 280C. Jika kualitas telur bagus, keberhasilan menetas mencapai 90-97%. Seekor induk botia berbobot 180-200 gram yang telurnya bagus mampu menghasilkan larva hingga 16.800 ekor. Saat baru menetas, umur 2 jam, panjang botia masih 2 mm. Pada umur 1 bulan panjangnya bisa mencapai 18 mm dengan SR 90-95%. Dari jumlah itu yang bertahan hidup hingga umur 2 bulan hanya 60-70%. Pada umur 4 bulan ke atas atau ukuran 2,5 cm sekitar 20-30%.

Ekspor

Larva umur 2 hari sudah bisa diberi pakan nauplii artemia. Pada kondisi ini, suhu dinaikkan menjadi 29-320C dan pH 6-7. Larva dipindahkan ke tempat pemeliharaan tersendiri saat berumur 4 hari. Kepadatan ideal untuk larva 0,5-7 ekor per liter. Untuk akuarium ukuran 80 cm x 40 cm x 30 cm bisa diisi 700 larva. Setelah larva berumur 1 bulan kepadatan dikurangi menjadi 400 ekor, dan umur 3-4 bulan kepadatan 200-250 ekor.

Larva umur 1-4 bulan diberi pakan bloodworm. Pada penelitian sebelumnya tubifex diberikan sebagai pakan sejak larva umur 6 hari. Namun, cacing itu disinyalir menjadi agen pembawa penyakit sehingga memicu kematian larva. Botia umur 4 bulan ke atas sudah bisa diberi pelet udang ukuran terkecil. Pakan itu diberikan 5 kali sehari.

Kabar keberhasilan perkembangan botia itu memang membuka peluang peternak. Apalagi Indonesia merupakan produsen utama botia. Saat ini harga botia ukuran 1,5- 2 inci di pasar ekspor mencapai US$1 setara Rp8.860 (kurs 16 Oktober 2009). Namun, itu pun mayoritas tangkapan alam. Padahal di negara Uni Eropa khususnya Jerman, pada 2010 mulai menyetop pembelian ikan tangkapan alam. ‘Ini peluang untuk beternak botia yang menjadi primadona,’ ujar Hendra Iwan Putra, eksportir ikan hias di Bambuapus, Jakarta Timur.

Botia di alam kini lebih sulit didapat. LRBIHAT, misalnya, pada 2008 kesulitan mendapat calon induk botia dari Sumatera. Sebab itu menurut Hendra keberhasilan budidaya botia ini perlu segera disebarluaskan ke balai lain dan peternak agar ikan asli Indonesia itu tetap bisa menjadi andalan ekspor. ‘Jangan sampai kita kecolongan Thailand atau negara lain yang selama ini gencar mengembangkan teknologi budidaya ikan hias,’ ungkap Hendra. (Tri Susanti)

^ GC plakat

< GC halfmoon

Botia budidaya umur 12 minggu yang ditampilkan LRBIHAT di Aquarama 2009

^ Kanvas tank tempat pemeliharaan induk botia ditempatkan di ruang redup

> Pemeliharaan larva menggunakan air sumur yang diresirkulasi

>> Drs Agus Priyadi, peneliti di LRBIHAT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Lengkap! Budidaya Cacing Sutra Sistem Apartemen Hemat Tempat dan Air

Trubus.id — Peningkatan tren ikan hias diikuti dengan permintaan pakan tinggi. Cacing sutra menjadi salah satu pakan ikan hias...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img