Friday, August 19, 2022

Batatas Bebas Lanas

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Petani tidak menyadari serangan hama C. formicarius saat budidaya.

TRUBUS — Beragam cara pencegahan dan penanganan hama Cylas formicarius penyebab lanas pada ubi jalar.

Lazimnya M. Zazid Almufadlo memanen 30 ton ubi ase bandung per hektare. Namun, tidak semua hasil panen itu terjual. “Sebesar 10—20% hasil panen kemungkinan terserang lanas,” kata petani ubi jalar di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu. Jumlah itu setara 300—600 kg ubi. Jika harga ubi Rp5.000 per kg, maka potensi kerugian Zazid mencapai Rp3 juta.

Hal serupa juga dialami Harianto Dulmahya. Petani Ipomoea batatas di Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, itu mengeluhkan selalu ada ubi cilembunya yang ditolak pabrik karena terkena boleng. “Kemarin ada 1,5 kuintal ubi busuk dan terkena lanas dari kiriman 8 ton,” kata Hari, sapaan akrab Harianto Dulmahya. Umbi terserang lanas tak dapat diolah lantaran rasa ubi tidak enak.

Momok pekebun

Fajar Budi Laksono mengatakan, serangan hama penggerek itu cukup fatal. Bila telanjur terserang, petani tak dapat melakukan pengendalian. Larva masuk ke dalam umbi dan merusak rasa. Menurut petani di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu pengairan lahan yang terlambat dapat menjadi penyebab serangan.

“Pengairan saat musim kemarau paling tidak 15—20 hari sekali,” kata petani ubi jalar sejak 2014 itu. Lebih dari 20 hari, tanaman berpeluang besar terkena lanas. Selain itu, Zazid dan Hari berupaya mencegah serangan lanas dengan memanen muda yakni pada usia 4 bulan setelah tanam. Panen pada umur terlalu tua meningkatkan persentase umbi afkir.

Peneliti hama dan penyakit tanaman Balitkabi Dr. Yusmani Prayogo, S.P., M.Si.

Peneliti hama dan penyakit di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Dr. Yusmani Prayogo, S.P., M.Si., mengatakan, hama Cylas menjadi salah satu kendala utama budidaya ubi jalar. Sejatinya ada tiga jenis hama Cylas yakni Cylas formicarius, C. brunneus, dan C. puncticollis. “Ketiganya tersebar ke seluruh dunia. Paling dominan di Indonesia Cylas formicarius,” kata Yusmani. Kebanyakan petani tidak menyadari serangan hama tersebut. Musababnya umbi baru diketahui terkena lanas ketika dimakan terasa pahit. Padahal menurut pengamatan Yusmani, satu tusukan larva C. formicarius mengubah warna umbi menjadi kebiruan. Serangga penggerek anggota famili Brentidae itu masuk melalui rongga tanah dan menusuk umbi.

formicarius tinggal di dalam umbi untuk berkembang biak. Satu imago—serangga dewasa—menghasilkan 200—500 telur. Telur berkembang menjadi larva yang menyerang umbi. Larva atau ulat menggerek daging umbi hingga membusuk. “Kalau sudah seperti itu tidak layak konsumsi. Satu tusukan sudah bisa menyebabkan rasa pahit,” kata doktor bidang Entomologi lulusan Institut Pertanian Bogor itu.

Biopestisida

Yusmani mengatakan, penggunaan mulsa baik plastik hitam perak atau mulsa alami dapat mengurangi serangan lanas. Mulsa berperan menghalangi masuknya imago ke dalam tanah untuk mencapai umbi. Permukaan mulsa memantulkan sinar sehingga mengacaukan indra serangga. Tak hanya mencegah serangan lanas, pemasangan mulsa juga dapat menghalau tumbuhnya gulma sehingga petani dapat menghemat tenaga dan biaya penyiangan.

Pengairan terlambat dapat meningkatkan serangan lanas.

Sebaiknya petani menerapkan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan lahan agar bebas dari serangga penggerek umbi. Ketepatan waktu tanam dan panen juga berpengaruh. Yusmani menuturkan, “Panen terlambat memicu serangan penggerek. Panen lebih dari umur 5 bulan menyebabkan serangan menjadi lebih tinggi karena penciuman serangga yang tajam.”

Oleh sebab itulah, Yusmani mengembangkan biopestisida untuk mengendalikan serangan lanas. Ia menggunakan cendawan Beauveria bassiana sebagai bahan aktif. Larva yang terinjeksi biopestisida mati perlahan karena spora cendawan berkembang dalam tubuhnya dan merusak sistem pencernaan. Tak hanya larva, biopestisida yang ia namai Bebas—kependekan dari Beauveria bassiana—itu juga menyerang telur dan imago. “Semua siklus hidup serangga dapat terinfeksi,” kata Yusmani.

Ada beberapa cara aplikasi biopestisida Bebas. Petani dapat merendam setek ubi jalar dalam larutan Bebas sebelum tanam. Bebas juga dapat dilarutkan saat pengairan. Selain itu, petani juga dapat menyemprotkan Bebas pada pangkal umbi saat pembentukan umbi. Yusmani merekomendasikan aplikasi pada sore.

Mengingat tingkat keparahan serangan lanas, Yusmani tengah berkolaborasi dengan pemulia ubi jalar Balitkabi, Dr. Febria Cahya Indriani, M.P., untuk mengembangkan varietas yang berpotensi toleran hama penggerek umbi. (Sinta Herian Pawestri/ Peliput: Andriyansyah Perdana Murtyantoro)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img