Wednesday, August 10, 2022

Batu Sandungan Produsen Benih

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Hujan memang menjadi kendala bagi produsen benih. Para produsen umumnya mengandalkan panas mentari untuk penjemuran benih. Pujianto, penyelia Riawan Tani, produsen benih di Blitar, pernah punya pengalaman pahit pada 2004. Ia terlambat menyewa gudang untuk menjemur benih pipil jagung. Calon benih itu pun terpaksa menginap selama 2 hari di tempat gudang penyimpanan sebelum akhirnya dijemur di bawah naungan.

Diganti pengeringan dengan mesin? Itu pun tidak bisa menyelamatkan 3 ton jagung pipil kering yang seharusnya menjadi benih. ‘Kapasitas ruang pengering hanya 4 ton, sedangkan benih jagung mencapai 12 ton,’ kata Pujianto. Padahal, sekali proses pengeringan memerlukan waktu 2 hari. Dikeringkan bertahap pun tak mungkin karena kadar air benih 22% sehingga jagung cepat berkecambah. Imbasnya, Riawan Tani harus menderita kerugian Rp48-juta.

Begitu pula di tingkat petani mitra. Komsatun yang menjadi petani mitra Riawan Tani pun kesulitan menjemur benih kacang panjang saat musim hujan tiba. Jika ruangan penjemuran benih tidak cukup menampung semua hasil panen, ia terpaksa menjemur kacang panjang dengan cara digantung. Itu pun kelembapannya masih tinggi. Hasilnya, warna kulit cokelat kehitaman. Benih pun ada yang berkecambah.

Lingkaran setan

Selain iklim, kendala besar bagi produsen benih-terutama benih lokal-adalah lamanya menghasilkan varietas baru. Terutama benih hibrida. Bayangkan, tahap pertama untuk memurnikan indukan memakan waktu 5 musim tanam. Kemudian tahap persilangan, uji daya gabung umum, uji daya gabung khusus, dan efek heterosis menghabiskan waktu 1 musim tanam. Bila ditambah uji daya hasil pendahuluan dan uji daya hasil lanjutan masing-masing 1 musim tanam, total varietas hibrida baru bisa dihasilkan selama 8 musim tanam.

Celakanya, dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara yang turun per tahun hanya cukup untuk satu musim tanam. ‘Ketika masanya melanjutkan persilangan, biaya sudah habis terkuras. Jelas program untuk mendapatkan induk jantan dan betina saja tersendat-sendat,’ kata Uun Sumpena, pemulia dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang. Belum lagi pengajuan pelepasan varietas yang terkadang membutuhkan waktu lama.

Pantas bila untuk melepas sebuah varietas saja, produsen yang butuh waktu amat panjang. Bisa sampai 8 tahun. Sedangkan produsen yang memiliki dana sepanjang tahun bisa menghasilkan benih hibrida rata-rata 3 tahun lamanya. ‘Mentimun saja, baru 7 tahun kemudian bisa dihasilkan varietas baru,’ kata Uun yang melepas 3 varietas mentimun pluto, saturnus, dan mars pada 1999. Alokasi biaya yang diturunkan per tahun-tidak per paket program-menyebabkan Balitsa hanya sanggup melepas rata-rata 2 varietas per tahun. Bandingkan dengan produsen benih impor yang mampu memunculkan 8-10 varietas baru dari berbagai komoditas per tahun.

Di Indonesia, banyak produsen benih yang menjalin kerja sama dengan lembaga riset di bawah naungan Departemen Pertanian itu. Hasil penelitian para pemulia itu amat ditunggu-tunggu para produsen benih sayuran. Sartono, direktur Riawan Tani, mengaku kesulitan menghasilkan varietas baru karena kendala itu. ‘Karena menunggu hasil penelitian pemulia Balitsa, kita juga tersendat memasarkan varietas baru,’ kata Sartono. Ujung-ujungnya, lantaran proses pelepasan varietas lama muncul, ia pun berebut konsumen dengan produsen benih impor yang gencar beriklan dan promosi di media cetak dan elektronik.

Kebijakan

Hambatan lain yang dirasakan para produsen benih adalah kebijakan pemerintah. Pada 2006 lahir Peraturan Menteri Petanian Nomor 37/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan, dan Penarikan Varietas. Dalam peraturan itu, benih impor mesti mencantumkan hasil uji adaptasi dan observasi di tanahair pada pengajuan proposal pelepasan varietas. Benih yang lulus uji pada sidang pelepasan varietas memperoleh sertifi kat benih dari Menteri Pertanian dan diperbolehkan beredar di pasaran.

Sebelum peraturan itu lahir, produsen benih impor ada yang dapat memasarkan benih tanpa melalui uji adaptasi dan observasi. Sedangkan produsen benih lokal diwajibkan melakukan pengujian terlebih dahulu. ‘Produsen benih impor juga seharusnya dikenakan peraturan yang sama dengan produsen benih lokal,’ ujar Agustinus Mulyono Herlambang, direktur Multi Global Agrindo, perusahaan benih yang berlokasi di Karanganyar. Dengan munculnya peraturan baru yang mulai berlaku Agustus 2006 itu, ia mengharapkan penerapan kebijakan benih tak lagi timpang.

Namun, di sisi lain, peraturan itu dikeluhkan para importir. Semua proposal yang diajukan tanpa disertai hasil uji lapang ditolak oleh Badan Benih Nasional. Itu pengalaman Gatot Arifin, staf teknisi dan pemasaran Known-You Seed, perusahaan importir benih asal Taiwan, di Surabaya. ‘Ketika proposal diajukan, peraturan itu belum berlaku,’ kata Gatot.

Kini, benih-benih yang beredar sebelum peraturan baru berlaku pun mesti diuji ulang. Bila tidak, importir tidak lagi diizinkan mengimpor varietas itu. ‘Padahal, stok kami mulai menipis. Sementara uji lapang belum tuntas. Kami terpaksa tidak dapat memenuhi pesanan pekebun hingga proses pengujian selesai,’ keluh Ekawati, dari bagian pelepasan varietas PT Sang Hyang Seri, produsen benih di Jakarta. Hampir 60% omzet perusahaan itu berasal dari benih impor.

Menurut Ir Nana Laksana Ranu MM, direktur Perbenihan dan Sarana Produksi Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, peraturan itu justru untuk melindungi petani dari peredaran benih berkualitas rendah. Selain itu, penyebaran penyakit baru yang membahayakan dapat ditangkal. ‘Pada masa transisi, peraturan itu mungkin terasa memberatkan. Namun, di masa mendatang, manfaatnya akan jauh lebih besar,’ katanya. (Kiki Rizkika/Peliput: A. Arie Raharjo, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img