Tuesday, November 29, 2022

Bebas Pilih Atasi Radikal Bebas

Rekomendasi

Zat-zat beracun masuk ke tubuh melalui pernapasan. Bersama dengan metabolisme tubuh, zat itu membentuk radikal bebas, perusak jaringan-jaringan sel. Hasil penelitian dr Ida Bagus Putra Adnyana, SpOG dan dr Putu Gde Supriatmaja, SpOG, ahli obstetrik dan ginekologi di Bali, perempuan perokok yang menghabiskan 1-4 batang rokok sehari berisiko 2,5 kali lebih besar terkena jantung koroner. Selain itu pembuluh darah dan saluran pernapasan rusak.

Rokok bukan satu-satunya sumber radikal bebas. Udara tercemar oleh polutan dan asap kendaraan bermotor, makanan berpengawet, zat pewangi, dan gas kimia juga penyumbang radikal bebas. Pun sayuran dan buah berpestisida. Tubuh mengkonversi zat beracun menjadi senyawa pengikat energi adenosin triphospat (ATP) dengan bantuan oksigen dalam proses oksidasi. Itu sebabnya walau bukan perokok aktif, radikal bebas bakal tetap menghantui.

Tak berpasangan

Menurut Dr Ahkam Subroto, Peneliti Bioteknologi LIPI, ‘Radikal bebas, molekul oksigen dengan atom pada orbit terluarnya memiliki elektron tidak berpasangan.’ Karena kehilangan pasangannya itu, molekul menjadi tidak stabil, liar, dan radikal. Molekul selalu berusaha mencari pasangan elektron, tetapi dengan cara radikal: mengambil elektron dari molekul lain.

Untuk menekan jumlah radikal bebas, tubuh membentuk zat antiradikal bebas berupa tiga enzim yaitu, superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH Px), katalase, serta nonenzim glutation. Ketiga enzim dan senyawa glutation itu bekerja menetralkan radikal bebas. Caranya dengan memberi atom hidrogen ke radikal lipida dan mengubah ke bentuk lebih stabil.

Enzim antioksidan juga memperlambat laju autooksidasi dengan memutus rantai autooksidasi sehingga mengubah radikal lipida lebih stabil. Hasilnya, berupa radikal-radikal antioksidan (A*) stabil dan tidak mempunyai cukup energi untuk dapat bereaksi dengan molekul lipida lain membentuk radikal lipida baru.

Antioksidan alami

Seiring polusi udara yang kian tinggi dan peningkatan konsumsi makanan berpengawet, produksi antioksidan oleh tubuh tersendat. ‘Oleh sebab itu, agar tubuh tetap terlindungi dari ancaman radikal bebas, asupan antiok-sidan dari luar tubuh menjadi penting,’ kata Dr Suprapto Ma’at, farmakolog dari Universitas Airlangga. Antioksidan alami asal tumbuhan paling mudah ditemukan.

Umumnya antioksidan tumbuhan berupa senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organik polifungsional. ‘Tiap tanaman memiliki jenis antioksidan yang berbeda-beda,’ kata Prof Sumali Wiryowidagdo, farmakolog dari Universitas Indonesia.

Jahe, misalnya, mengandung antioksidan berupa 6 gingerol dan 6-shogaol. Antioksidan itu menangkap radikal bebas hasil tahap propagasi dari lemak atau minyak dengan mendonasikan radikal hidrogen.

‘Konsumsi rutin teh jahe merah mem-berikan efek jangka panjang seperti meringankan sinusitis dan asma,’ kata Melawati dari Evynafood. Jahe merah menghambat radikal bebas sebanyak 79,6% pada suhu 37oC dan 74,8% pada 80oC. Artinya, jahe berkhasiat antioksidan, penghambat reaksi oksidasi dalam tubuh yang menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti jantung koroner dan stroke.

Bunuh kanker

Selain jahe, bunga rosela juga mengandung antioksidan. Didah Nur Faridah, periset Institut Per-tanian Bogor mene-liti kandungan antioksidan pada bunga Hibiscus sabdariffa. Kerabat bunga sepatu itu mengandung 1,7 mmmol/prolox antioksidan. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan antioksidan kumis kucing yang hanya 0,9 mmmol/prolox. Antioksidan rosela berupa antosianin yang berperan menjaga kerusakan sel akibat peyerapan sinar ultraviolet berlebih.

Hui-Hsuan Lin dari Chung Shan Medical University, Taiwan, membuktikan anggota famili Malvaceae itu bersifat antikanker lambung manusia. Antioksidan rosela mengatasi sel kanker dengan metode sitotoksis dan apoptosis. ‘Khasiat itu diperoleh jika air seduhan rosela berwarna merah. Warna itu menjadi indikasi kekuatan antosianin,’ kata Didah.

Sumber antioksidan lain adalah teh hitam Camelia sinensis yang kaya katekin dan theaflavin. Antioksidan theaflavin lebih potensial daripada katekin karena memiliki gugus hidroksi (OH) lebih banyak. Gugus hidroksi berfungsi sebagai antiradikal bebas atau antioksidan. Semakin banyak gugus hidroksi suatu senyawa, semakin baik antioksidan. Theaflavin mencegah oksidasi lipid atau memotong reaksi dan meningkatkan antioksidan alami tubuh glutathione-S-transferase (GST), glutanthione peroksidase (GPX), superoksida dismutase, (SOD) dan catalase (CAT). Fungsi lainnya menurunkan oksidasi lipid sehingga menghambat oksidasi LDL (low density lipoprotein) penyebab kolesterol.

Daun sirih merah juga terbukti menurunkan kadar glukosa dalam darah pada tikus diabetes. Diabetes, salah satu penyakit akibat gempuran radikal bebas. Ketika jumlahnya melebihi kebutuhan tubuh, radikal bebas tak hanya menyerang bakteri dan benda asing lainnya, tetapi juga merusak sel-sel tubuh seperti sel pankreas. Akibatnya, produksi insulin terhambat dan kadar gula darah melambung.

Bebas

Harno Dwi Pranowo, periset Universitas Gadjah Mada menyatakan polifenolad pada sirih merah merupakan senyawa fenol yang memiliki gugus -OH. Kekuatannya 100 kali lebih efektif dibandingkan vitamin C dan 25 kali lebih efektif dibandingkan vitamin E. Untuk mengkonsumsinya, rebus 200 g daun sirih Piper crocatum dalam air 1 l hingga tersisa 150 ml.

‘Kuat tidaknya antioksidan bisa terlihat dari nilai IC50,’ kata Ahkam Subroto. IC50 adalah bilangan yang menunjukkan konsentrasi ekstrak (mikrogram/mililiter) yang mampu menghambat 50% oksidasi. Semakin kecil nilai IC50 semakin tinggi aktivitas antioksidan. Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50, kuat (50-100), sedang (100-150), dan lemah (151-200). Kekuatan itu dianalisis dengan metode DPPH (2,2-diphenil-1- picrylhydrazil radical).

Menurut Dewani, herbalis Planta Loka Medica di Lentengagung, Jakarta Selatan, biasanya manfaat antioksidan diperoleh dari minuman teh herbal asal daun, rimpang, daging buah, bunga, dan kulit kayu. Konsumen tinggal mencelupkan atau merendam simplisia antioksidan dalam air panas 5 menit. Herbal yang akan diseduh bebas pilih. Semudah itu untuk menjaga kebugaran tubuh. (Vina Fitriani).

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img