Tuesday, November 29, 2022

Belum Tentu Seindah Induk

Rekomendasi

 

Teman saya seorang pemain anthurium sejak lama. Ia menjual 9 tanaman induk Anthurium jenmanii dengan nilai total Rp250-juta. Namun, kabar yang diembuskan oleh pihak lain, transaksi yang terjadi mencapai Rp975-juta. Menurut saya ini strategi kotor untuk menjebak orang supaya tertarik berinvestasi di bisnis anthurium. Padahal kalau seperti itu, ini adalah investasi yang didasarkan kebohongan.

Saya mengakui, anthurium memang cantik. Dia hanya hijau, tapi bila sosoknya rimbun sangat menarik. Di negara-negara Eropa tanaman diminati, terutama untuk mengisi kekosongan tanaman selama musim dingin. Namun, mereka pun tak sampai terlalu menggebu-gebu untuk mengusahakannya. Musababnya, anthurium daun membutuhkan ruang yang luas.

Yang lebih populer di sana justru anthurium bunga. Bunga ekor itu dengan mudah diproduksi massal. Ukurannya kecil sehingga cocok dipakai sebagai potplant di meja. Dengan produksi massal, harganya pun bisa ditekan. Lantaran biaya produksi di sana tinggi, maka para pekebun sangat memperhitungkan masa penanaman-cropping time. Kalau yang membutuhkan waktu penanaman lama, itu tidak menarik untuk investasi mereka.

Bandingkan dengan kondisi yang kini tengah berkembang di tanahair. Di mana-mana orang mengusahakan anthurium. Untuk mendapatkan tanaman dewasa mesti dirawat tahunan. Untuk memindah-mindahkannya pun harus digotong 2-3 orang. Saat ini harganya pun sudah tidak wajar. Bayangkan saja biji jenmanii kobra harganya mencapai Rp400.000. Orang berani membeli. Padahal, dari biji peluang mendapatkan tanaman yang sama dengan induknya sangat kecil. Teman saya yang pemain lama tadi saja dari 200 biji jenmanii kobra yang disemai, hanya mendapat 2 tanaman yang mirip induknya.

Orang-orang yang mau membeli dari biji itu tidak mengerti ilmu genetika. Mereka pikir bisa mencetak anthurium seperti mencetak kue di pabrik yang hasilnya pasti sama. Mereka yang berani beli induk bertongkol supaya bisa menjual biji atau anakananakannya sebetulnya orang-orang yang terkecoh atau mau mengecoh orang lain. Secara alami, tidak mungkin mendapatkan anakan yang persis sama dengan induknya. Hasilnya pasti beda, variasinya sangat tinggi. Kecuali tanaman yang bersifat apomiksis. Artinya tanaman yang penyilangannya tidak membutuhkan bantuan tangan manusia, tapi hasilnya sama dengan induk. Contohnya salak bali dan aglaonema tricolor. Pada anthurium, belum pernah ada laporan yang menyebutnya bersifat apomiksis.

Jadi, orang yang membeli tongkol itu seperti berjudi. Namun, sekarang orang tidak peduli, yang penting nanti bisa menjual lagi pada orang lain. Begitu seterusnya. Nanti kalau tanaman sudah besar, baru ketahuan penampilannya berbeda dengan indukan. Hanya saja karena yang sekarang bergerak adalah pedagang, bukan grower, maka mereka tidak merasa perlu untuk membuktikan itu asli atau tidak. Kriteria tentang varian anthurium tertentu pun tidak pernah jelas.

Kasus vanili

Waktu saya bertemu dengan pemain tanaman hias dari India, ia bercerita tentang kasus vanili di sana yang mirip seperti anthurium di tanahair saat ini. Para pekebun diajak untuk menanam vanili. Pada panen pertama, hasilnya dibeli dengan harga tinggi. Akibatnya yang lain jadi ikut tertarik untuk menanamkan investasi. Namun, begitu panen besar, pihak pabrik tidak mau membeli. Banyak yang panik sehingga mau saja menjual dengan harga rendah. Harga pun segera anjlok.

Di sini yang panen adalah orang-orang berduit yang membutuhkan barang itu dengan mengajak orang lain untuk berinvestasi. Pada akhirnya mereka yang menikmati ketersediaan barang yang banyak dengan harga rendah. Kejadian serupa pada kasus tulip hitam yang membuat banyak orang di Belanda kecele.

Pada kasus tanaman hias di tanahair, ini bisa saja terjadi. Sebelum anthurium meledak, aglaonema juga sempat jadi fenomena. Namun, pada kasus aglaonema orang tidak bisa dengan cepat menghasilkan jenis baru dalam jumlah sebanyakbanyaknya. Untuk menghasilkan jenis baru dibutuhkan proses pemuliaan minimal selama 5 tahun. Itu pun sulit.

Ketika ada jenis baru yang spektakuler dan harganya tinggi, pembelinya adalah end user yang menikmati kecantikan tanaman. Kalau kemudian selama dirawat ada anakan muncul, lalu dipisahkan dan bisa dijual, itu lain ceritanya. Si pemilik masih punya indukan yang sama, tapi juga mendapat uang untuk mendapat koleksi baru.

Taktik dagang

Pada anthurium, proses penyilangan untuk menghasilkan varian baru sangat gampang. Namun, tongkol yang banyak, jumlah biji dalam tongkol yang banyak, tidak menjamin didapat anakan yang sama persis dengan indukan. Kalau ini dibiarkan, bisa menyebabkan trauma. Ini berbahaya karena dampaknya bisa luas. Bisa jadi mereka-mereka yang merasa tertipu nantinya menjadi antipati dengan semua jenis tanaman hias. Kalau ternyata ada yang benar-benar bagus, tidak akan dilirik karena pasar sudah kehilangan kepercayaan.

Kita bisa berkaca pada kasus palem raja pada 1990-an. Waktu itu disebutkan ada permintaan ratusan ribu tanaman dari luar negeri. Yang diminta palem yang benar-benar bagus dengan spesifikasi tertentu. Itu diiming-imingi dengan harga tinggi. Akibatnya di mana-mana orang menanam palem raja dengan harapan bisa mendapat untung.

Mereka tidak pernah benar-benar mengecek kebenaran informasi yang ada. Hasilnya ternyata memang banyak yang tertipu. Tidak ada permintaan sebesar itu dari pembeli luar. Ketika akan dilempar ke pasar lokal juga jadi masalah. Palem raja membutuhkan ruang luas. Bila dijejerkan di boulevard pun tidak mungkin semuanya berisi palem raja. Pelepah daunnya yang keras bisa menyebabkan mobil ringsek kalau kejatuhan. Karenanya palem raja tidak mungkin ditanam berdekatan dengan keramaian atau kawasan pemukiman.

Maka seharusnya sekarang para peminat bisnis anthurium juga mesti mengecek informasi yang didengar. Misal saja dikatakan ada anthurium istimewa. Tanaman berukuran besar itu didatangkan dari mancanegara dengan harga Rp100-juta dan katanya kini ditawar Rp1-miliar. Kalau dikurskan, nilai belinya saja kira-kira US$12.000. Padahal di Hawaii yang salah satu sumber anthurium, jual-beli seharga US$1.000 saja sudah dianggap gila, baik yang jual maupun yang beli. Lagi-lagi ini mungkin taktik dagang untuk menaikkan pasar.

Bisnis sehat

Sebelum berinvestasi di bidang pertanian, khususnya tanaman hias, calon investor perlu tahu kriteria tanaman hias populer yang diakui secara internasional. Misal, tanaman itu mesti cantik penampilannya, tahan hama dan penyakit, tahan dalam kegiatan transportasi-artinya tidak gampang rusak di perjalanan, proses pemulihan pascaperjalanan mudah, serta gampang diusahakan komersial tanpa perlakuan berbelit.

Contoh nyatanya, phalaenopsis. Pengusahaan dan pemasaran anggrek bulan itu meluas ke berbagai penjuru dunia. Musababnya, phalaenopsis gampang diperlakukan. Di dalam sebuah industri besar, anggrek bulan dalam kondisi dewasa tinggal dimasukkan ke dalam ruangan dengan suhu rendah tertentu. Begitu usai perlakuan, pasti langsung berbunga. Ia pun tahan banting selama transportasi dan gampang pulih di tempat pembeli. Kasus serupa terjadi pada anthurium bunga.

Yang terjadi pada anthurium di tanahair, hanya ukuran tertentu yang laku. Di sini yang dicari adalah indukan dengan tongkol. Yang penting tongkol banyak, tidak peduli bentuk daunnya jelek. Selain indukan, anakan-anakan berukuran kecil laris manis. Padahal, satu dengan yang lainnya tidak dapat dibedakan. Di sini anthurium tidak dibeli berdasarkan keindahannya, tapi dengan perhitungan bisa segera dijual kembali.

Suatu bisnis yang bagus mesti didasarkan permintaan riil-actual demand. Barangnya cantik dan sampai ukuran tanaman besar orang masih mau memelihara karena masih ada manfaatnya. Kita bisa mendeteksi sehat tidaknya sebuah bisnis. Selain ada permintaan riil, komoditasnya pun harus yang benar-benar baru, unik, dan istimewa. Harganya terlalu fantastis justru bisa jadi indikasi adanya penipuan.

Sementara salah satu ciri pasar semu adalah perpindahan tangan antarpedagang. Ini tidak bisa dijadikan sandaran bisnis karena suatu saat pasar akan jenuh. Pada suatu titik tidak ada lagi konsumen akhir yang mau mengoleksi. Fenomena orang lebih memilih yang jelek tapi bertongkol daripada yang cantik tapi tidak bertongkol, itu juga salah satu ciri. Itu berarti orang lebih memilih berdasarkan hitung-hitungan bisnis. Harganya gila-gilaan pun berani.

Sikap cerdas

Pada akhirnya akan terjadi kelebihan pasokan, banyak orang yang merasa tertipu. Jangan sampai di ujung, yang terjerumus adalah orang-orang kecil yang memang menyandarkan diri pada bisnis ini. Mereka yang tidak mengerti bahwa dalam sebuah investasi itu memang harus ada cost yang dibayarkan. Sekarang semua bisnis tanaman hias sepertinya tersapu oleh anthurium. Padahal, semua tanaman hias punya potensi untuk diperjualbelikan.

Seharusnya suatu tren jangan sampai membuat bisnis lain mandek. Nantinya kalau komoditas lain diminati pasar, lagi-lagi kita tidak siap. Lagi-lagi harus mengimpor dari luar. Maka sebelum terjun ke bisnis tanaman hias, harus bisa menyikapi dengan cerdas. Latah boleh, tapi harus tahu kapan harus masuk dan kapan harus berhenti. Ibarat sedang mengantre untuk makan siang, kalau hidangan di atas meja masih banyak kita boleh ikut mengantre. Namun, kalau makanan tinggal sedikit sementara yang antre masih banyak, saatnya kita keluar dari barisan.

Bila disandingkan dengan anthurium, maka kini saatnya orang mulai harus berhati-hati. Lonceng kematian bisnis ini sudah semakin dekat berdentang. Indikasinya antara lain, mulai berpindah-pindahnya jenis anthurium yang dimainkan. Ketika tanaman-tanaman besar sudah habis stoknya, tidak ada lagi yang bisa dimainkan untuk menggerakkan pasar.***

*) Gregori Garnadi Hambali, pemulia tanaman, pakar botani, dan praktikus tanaman hias

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img