Tuesday, November 29, 2022

Belut: Besar Tanpa Lumpur

Rekomendasi

 

Belut-belut itu sengaja dibesarkan di media tidak lazim: hanya air, bukan campuran lumpur, jerami, dan kompos. Sang peneliti, Ir Ign Hardaningsih MSi, ingin meneliti pertumbuhan belut yang dipelihara di media air. Ia menebar 30 Monopterus albus di akuarium. Air berasal dari sumur ber pH netral, 7.

Agar tidak stres saat dipindah ke media air, belut diadaptasikan terlebih dulu. Caranya, Hardaningsih memuasakan belut-belut itu selama 2 pekan. ‘Setelah dipuasakan, baru diberi pakan berupa burayak ikan dan ikan kecil lain,’ ujarnya. Cacing tanah sebetulnya bisa diberikan, tapi harganya relatif mahal. Lumbricus itu mencapai Rp25.000/kg.

Selain pakan, ketua Laboratorium Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu mengganti air sebulan sekali. Suhu ruangan laboratorium diatur pada kisaran 26 – 28oC. ‘Suhu agak hangat karena belut biasa hidup di sawah yang penuh bahan organik terdekomposisi,’ kata dosen pemuliaan ikan, reproduksi, dan genetika dasar itu. Dekomposisi itu membuat suhu media meningkat. Nah, setelah 4 bulan dipelihara di akuarium, belut-belut itu tumbuh hingga seukuran jempol orang dewasa dan tidak ada satu pun yang mati.

Penyakit

Tak hanya Hardaningsih, beberapa peternak sebetulnya sudah berupaya membesarkan belut di air. Budi Kuncoro Spi misalnya, mencoba membesarkan belut di bak plastik berisi air bersih. Tak tanggungtanggung, peternak di Semarang, Jawa Tengah, itu melakukannya dalam 7 bak berukuran 1 m x 3 m sekaligus. Masing-masing bak diisi 15 kg bibit belut berukuran 120 ekor/kg.

Sama seperti Hardaningsih, Budi juga memberikan pakan berupa ikan-ikan kecil. Namun, awalnya belut-belut itu tidak mau menyantapnya. ‘Mungkin karena stres akibat perubahan media,’ ujar ketua Gabungan Orang Belut Semarang (GOBES) itu. Apalagi, fluktuasi suhu air di dalam bak cukup tajam, siang mencapai 29oC dan malam turun hingga 24oC.

Belut pun terlihat stres saat Budi melintasi tepian bak. ‘Belut-belut itu seperti tersentak dan bergerak bersama-sama,’ katanya. Dampaknya, dalam waktu kurang dari sepekan, banyak dijumpai belut mati. ‘Di tubuhnya seperti ada bercak-bercak merah,’ kata alumnus Universitas Diponegoro itu. Ia pun mengambil inisiatif menambahkan heater pada bak pembesaran. Tujuannya agar suhu bisa dijaga stabil, sehingga mengurangi stres belut.

Itu cukup berefek. Beberapa belut mulai mau menyantap pakan hidup yang diberikan. Sayang, tindakan itu terlambat dilakukan. Penyakit bercak-bercak merah keburu menjalar ke belut-belut lain. ‘Ujungnya, semua belut itu mati dalam waktu 3 minggu,’ kenang Budi. Ia menduga penyakit itu disebabkan serangan bakteri aeromonas.

Belut rawa

Berbeda dengan 2 pendahulunya, M Fajar Junariyata MKom membesarkan belut di bak air bersih, memakai bibit belut rawa Monopterus sp. Alasannya, ‘Belut rawa lebih tahan dengan media air,’ kata penjual bibit belut di Sentul, Bogor, Jawa Barat, itu. Cukup masuk akal karena habitat belut rawa didominasi air.

Fajar menggunakan 2 bak berukuran 1.000 liter yang masing-masing dibelah 2. Pertengahan Januari 2009 Fajar membenamkan 25 kg belut rawa berukuran 30 ekor/kg pada tiap bak yang berisi air 1 jengkal. Air itu diganti 100% setiap hari. Pakan yang diberikan terdiri dari ikan kecil, cacing tanah, dan pelet ikan berukuran kecil. Pemeliharaan selama 3 bulan menunjukkan hasil memuaskan. Ukuran belut menjadi 15 ekor/kg. Sayang beberapa belut terserang bercak merah sehingga tiap hari selalu ditemukan 2 – 3 ekor mati.

Ketika Trubus bertandang ke rumah pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Baitul Ilmi itu pada pertengahan Mei 2009, ada 2 bak belut yang belum dipanen. Pada tiap bak terdapat sekitar 3 kg belut berbobot rata-rata 10 ekor/kg. ‘Sebagian yang lain sudah laku dijual,’ kata Fajar yang menaksir total produksi belut dari 4 bak itu sekitar 2 kuintal.

Mudah dicek

Menurut Ade Sunarma MSi, periset di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi, Jawa Barat, belut berpotensi dikembangkan di media air. ‘Dengan media air, tingkat kematian dan pertumbuhan belut gampang dicek,’ ujar Ade. Dalam budidaya konvensional, peternak mesti membongkar media untuk mengecek.

Media air itu juga mengurangi dampak negatif teritorialisme. ‘Pada media lumpur belut menerapakan teritorialisme – penguasaan wilayah’ kata Hardaningsih. Jika ada belut lain yang masuk teritori, pemilik teritori tak segan-segan membunuh penyusup yang mendatangi lubangnya. ‘Saya sering menemukan belut yang dipelihara di media lumpur tak berkepala. Lehernya putus bekas digigit,’ ujar Fajar. Di 4 bak pembesaran belut yang menggunakan air bersih, tak pernah dijumpai hal semacam itu.

Meski media tanpa lumpur banyak keunggulan, tapi stres dan penyakit masih menghantui peternak. Untuk itulah Hardaningsih menyarankan agar menjaga stabilitas suhu air dan adaptasikan bibit sebelum ditebar. Dengan cara itu belut-belut penelitiannya tidak stres kendati banyak orang lalu-lalang dan mengambil gambarnya. Sementara untuk pertumbuhan yang relatif lambat, dapat diatasi dengan mengatur padat penebaran dan pemberian pakan yang cukup.

Soal ukuran bibit yang layak tebar, para peternak dan peneliti sepakat: makin besar bibit, makin tahan hidup di dalam media air. Ukuran bibit optimal? Belum ada penelitian. Toh kenyataan belut dapat hidup dan tumbuh besar tanpa media lumpur menunjukkan budidaya belut sudah selangkah lebih maju. (Tri Susanti/ Peliput: Lastioro A Tambunan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img