Friday, August 12, 2022

Benci Lalu Rindu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tedi Hartanto (kiri) dan Dennies (kanan), keduanya terpikat dengan tingkah lucu musangPara pehobi jatuh hati pada musang yang hama buah.

Momo, musang bulan milik Tedi HartantoMusang pandan, jenis yang paling banyak dikoleksi hobiisMusang albino koleksi Dennies, berbulu putih dan mata merahBegitu Tedi Hartanto membuka pintu itu, Sherly melompat-lompat kegirangan di halaman seluas dua kali meja pingpong. Ia lantas menggelayut di lengan, pundak, dan kaki Tedi. Sherly bukan anak Tedi, tetapi musang kesayangan. Musang? Sejak setahun lalu, ayah 3 anak itu memang memelihara musang. Sherly, musang akar Arctogalidia trivirgata, bertubuh mungil dan bersifat lincah.

Meski tampak liar, musang-musang asal Kalimantan itu tidak lari keluar rumah. Ketika Trubus berupaya mengusap tubuh musang berekor panjang, Sherly tampak jinak. Satwa bergaris putih di kening itu diam. Selain musang akar, Tedi juga memiliki musang pandan Paradoxorus hermaproditus dan musang bulan Vivericulla malaccensis. Tedi yang bekerja di lembaga pemerintahan memelihara empat musang di rumahnya di Kemanggisan, Jakarta Barat.

Hama

Selama ini masyarakat memusuhi musang karena merupakan hama. Kehadirannya menjadi ancaman saat musim berbuah tiba. Ia juga kerap menjadi “tersangka” bila ada ayam hilang atau jumlah ikan mas di kolam berkurang. Pekebun atau peternak melakukan berbagai cara untuk mencegah musang datang. Habitat asli musang di hutan. Satwa anggota famili Viverridae itu tinggal di pohon dan jarang turun ke tanah.

Pakan favorit hewan omnivora itu buah-buahan seperti pisang, pepaya, dan mangga. Kadang-kadang musang juga memangsa binatang lain seperti burung. Jika pakan di pohon berkurang, ia turun ke tanah untuk mencari mangsa lain. Meski begitu, ia tetap tidur di atas pohon. Namun, setahun terakhir banyak pehobi yang jatuh hati pada  musang. Mereka menganggap penampilan satwa itu amat menggemaskan.

Tingkah musang juga memikat hati Dennies di Jakarta Barat. Kini ia mengoleksi 24 ekor berbagai jenis seperti musang pandan, bulan, tenggalung, rase, dan akar. Dari beberapa jenis musang koleksi Dennies, yang paling unik adalah musang pandan albino. Musang abnormal itu berbulu putih dan bermata merah. Dennies mengatakan bahwa sulit memperoleh musang albino karena induk biasanya membunuh anak yang albino.

Sang induk membunuh keturunannya sendiri karena menganggap si albino bukan anaknya. Selain itu penglihatan musang albino sensitif terhadap cahaya terang seperti lampu atau sinar matahari langsung. Matanya juga rawan buta. Mengapa para pehobi seperti Tedi dan Dennies menggandrungi musang? Tedi mengatakan, “Walau tergolong hama, tapi musang cocok menjadi hewan peliharaan karena lucu.”

Tren

Sejak setahun terakhir musang menjadi tren di kalangan pehobi satwa. Lihat saja jumlah anggota grup Musang Lovers, komunitas pencinta musang, beranggota mencapai 1.150 orang. Padahal, ketika berdiri pada awal 2012 anggotanya hanya 8 orang. “Tujuan dibentuknya komunitas itu untuk melestarikan keberadaan musang,” ujar Tedi yang menjadi ketua komunitas itu.

Hampir setiap pekan anggota komunitas itu bertemu untuk bertukar pengalaman. “Pada November 2012 kami berencana mengadakan kontes musang pertama di Indonesia,” ujar Tedi. Menurut dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, drh Slamet Rahardjo, musang hewan asli Indonesia. Luwak-sebutan musang di Jawa Tengah-tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara.

Beberapa jenis seperti musang pandan, bulan, akar, dan terbesar binturung berbobot mencapai 160 kg, memang sering dipelihara manusia. “Dari beberapa jenis tersebut yang paling banyak dipelihara musang pandan,” ujar Slamet Rahardjo. Menurut Slamet musang menjadi tren di kalangan hobiis karena selera terhadap binatang mulai berubah. “Hobiis mulai beralih ke hewan peliharaan eksotis,” ujarnya.

Slamet menuturkan  pada prinsipnya semua jenis hewan dapat menjadi peliharaan. Yang penting hewan itu tidak tergolong hewan yang dilindungi, aman dipelihara, perawatan mudah, dan si pemilik mampu menjamin kesejahteraan hewan. Musang cocok menjadi hewan peliharaan karena bersifat omnivora alias pemakan segala. Dengan begitu pemeliharaan lebih mudah.

Tedi menuturkan musang yang beredar di kalangan pehobi merupakan hasil tangkapan alam dan penangkaran. Memelihara musang liar sebetulnya lebih sulit karena musang tangkapan alam lebih galak. Taring yang tajam bisa membahayakan. Meski begitu, Tedi menuturkan pehobi mampu menjinakkan musang liar. Menurut Slamet penjinakan musang tergantung umur. Semakin dewasa umur musang saat ditangkap, semakin lama dijinakkan.

Penangkaran

Pehobi lebih cepat menjinakkan musang berumur 1-2 bulan, hanya perlu 4-5 bulan. Namun, kecepatan proses penjinakan tergantung tingkat interaksi dengan sang pemilik. “Semakin sering berinteraksi, makin cepat jinak,” ujar Slamet. Dalam sehari pehobi perlu meluangkan waktu satu jam untuk bercengkerama dengan musang. Perlu trik khusus agar musang menjadi jinak.

Tedi menghentikan pemberian pakan hingga musang benar-benar lapar. Cirinya hewan nokturnal itu gelisah di dalam kandang. Ketika lapar itulah, ia memberikan pakan langsung di atas tangan. Awalnya musang akan menolak, tapi lama-kelamaan menerimanya. Selain itu berikan sentuhan berupa elusan di kepala agar musang lebih cepat jinak.

Meski begitu, bukan berarti leluasa berburu musang liar di alam. “Upaya penangkaran tetap mesti dilakukan agar populasinya lestari dan dapat menghasilkan musang yang jinak dan aman, ”ujarnya. Mega Setiawan di Kecamatan Balikbukit, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, menangkarkan musang sejak 2008. Hingga saat ini ia mengelola 273 ekor indukan.

Mega menangkarkan musang bulan dan binturung Arctictis binturong. Itu karena keduanya sangat langka. “Keduanya hanya bisa diperoleh di Lampung Barat. Di luar kawasan itu sudah punah,” ujarnya. Pria 30 tahun itu memperoleh indukan dari tangkapan alam di Lampung. Menurut Mega, tiga tahun terakhir permintaan musang memang terus meningkat. Namun, ia tidak selalu memenuhi setiap permintaan musang yang datang kepadanya.

“Saya hanya menjual musang kepada orang-orang yang benar-benar ingin merawatnya. Oleh karena itu saya harus bertemu langsung dengan calon pembeli,” katanya. Dalam setahun Mega mampu menghasilkan 400 anakan dari 273 musang. Setiap induk rata-rata menghasilkan 2-3 anakan per tahun. Dari jumlah itu ia hanya menjual rata-rata 30 musang per tahun. “Sisanya untuk menggantikan induk yang dilepas ke alam setelah melahirkan,” katanya. Dengan begitu populasi musang tetap lestari di alam. (Desi Sayyidati Rahimah)

Keterangan Foto :

  1. Tedi Hartanto (kiri) dan Dennies (kanan), keduanya terpikat dengan tingkah lucu musang
  2. Momo, musang bulan milik Tedi Hartanto
  3. Musang pandan, jenis yang paling banyak dikoleksi hobiis
  4. Musang albino koleksi Dennies, berbulu putih dan mata merah

 

Previous articleCepat Matang
Next articleSatu Sawah Dua Laba
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img