Friday, August 12, 2022

Benih Genderang Perang Ditabuh Sudah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Selain itu benih hortikultura terbarui terus seperti onderdil sepeda motor,” ujar direktur Direktorat Perbenihan, Ir Soeroto.

Persaingan itu diakui beberapa produsen seperti Ir Yohanes Sukoco dari PT East West Seed Indonesia. Menurut Yohanes minimal ada 15 produsen baru—2 kali lipat ketimbang tahun sebelumnya—yang tahun ini berharap laba dari perniagaan benih. “Mau tak mau produsen harus memperbaiki mutu,” ujar alumnus Universitas Brawijaya itu. Itulah salah satu konsekuensi dari kompetisi supaya produk yang dihasilkan diterima konsumen.

Belum lagi importir yang mendatangkan benih sayuran dari berbagai negara seperti Cina, Taiwan, Jepang, Jerman, dan Belanda. “Jumlah importir benih hortikultura lebih dari 100 perusahaan, 80% di antaranya importir benih sayuran,” tutur Soeroto. Di luar itu masih terdapat pelaku lainnya, yakni kelas penangkar benih. Dapat dipastikan kompetisi bakal kian ketat.

Bermitra

Yang menyebabkan produsen tertarik menerjuni bisnis itu adalah ceruk pasar yang besar. “Saya melihat peluangnya cukup besar. Karena selama ini banyak benih impor masuk ke sini,” tutur Ir Kardi Raharjo MP. Kelahiran Purworejo 12 Oktober 1959 itu mengibarkan bendera PT Prana Ardita sebagai produsen benih sayuran. Ayah 4 anak itu membenamkan ratusan juta rupiah. Agar lebih berkonsentrasi, Kardi pensiun dini dari pegawai negeri di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Provinsi Jawa Tengah.

Saat ini baru 2 varietas yang dirilis. Selebihnya tengah melalui uji multilokasi di Temanggung, Purworejo, dan Magelang. Prana Ardita memang menjalin kemitraan dengan 750 plasma di 3 kabupaten itu. Rata-rata seorang plasma mengelola seperempat ha. Supaya mutu benih terjaga dan seragam, mahasiswa program doktor Fitopatologi itu mengontrol ketat sistem budidaya tanaman.

Hal serupa ditempuh UD Perintis Tani Benih (PTB) di Tasikmalaya. Ngaliman Sugiharto, sang pemilik, menjalin kemitraan dengan 30 plasma. Setidaknya 40 jenis benih diproduksi PTB yang dirintis sejak 1980-an. Kini perusahaan itu memasok beragam benih ke berbagai wilayah terutama daerah-daerah transmigrasi seperti Aceh, Lampung, Kalimantan, dan Papua.

Hemat

Produk andalan PTB adalah kacang merah, kedelai, dan jagung yang masingmasing mencapai 100 ton per tahun. Cabai hanya ratusan kuintal. Dari bisnis itu kelahiran Kebumen 54 tahun lampau meraup omzet Rp15-juta. Selama ini ayah 3 anak itu tak pernah kesulitan memasarkan benih produksinya. Promosi gratis dari mulut ke mulut efektif membantu pemasaran benih.

Dengan bermitra mereka menghemat biaya produksi. Menurut Kardi penghematan paling signifi kan pada pos tenaga kerja yang mencapai 30—40%. Pada perusahaan berskala besar, jumlah karyawan jauh lebih banyak. Tak heran jika benih-benih keluaran PTB atau Prana relatif murah—separuh dari benih impor. Harga benih cabai berbobot 10 g, misalnya, hanya Rp5.000. Mereka buru-buru menggarisbawahi, harga murah bukan berarti kualitas rendah.

Persaingan di bisnis benih sebetulnya menguntungkan pekebun. Yohanes menganilisis, akibat persaingan itu harga menjadi kompetitif dan pekebun leluasa memilih.

Berapa kebutuhan benih nasional? Tak ada angka pasti. Cabai, misalnya, luas penanaman rata-rata per tahun 155.464 ha. Bila per ha membutuhkan 0,35 kg benih, setiap tahun diperlukan 53.946 kg (lihat tabel).

Terbuka lebar

Para produsen sepakat, pangsa pasar benih terbuka lebar. Sebab, hingga saat ini benih hibrida masih sedikit digunakan. Pekebun umumnya menggunakan benih nonhibrida. Di beberapa wilayah di Jawa Tengah, malahan beredar benih rumah makan. Produsen hanya memanfaatkan biji dari beberapa komoditas bumbu rumah makan seperti cabai dan tomat. Setelah dicuci, kering, lalu dikemas sederhana, benih itu dipasarkan.

Produsen dan importir benih yang dihubungi Trubus mengungkapkan, pertumbuhan permintaan mencapai 20% per tahun. Hingga November 2003 PT Joro mengimpor 2.700.000 benih paprika.

Spartacus dan gold fl ame merupakan 2 varietas paprika andalan Joro. Jika populasi setiap ha 16.000 tanaman, volume impor itu setara 168 ha. Selain itu Joro juga mendatangkan 600.000 biji tomat dan 400.000 biji mentimun.

Namun, mulai Januari 2005 importir pedagang seperti Joro mesti pasang kuda-kuda. Sebab Direktorat Perbenihan mengeluarkan kebijakan agar mereka menjadi importir produsen. Artinya, tak sekadar mengimpor dan mendistribusikan, tetapi juga mengembangkan benih di Indonesia.

Tujuannya, “Untuk menghidupkan industri benih dalam negeri. Cina yang industri benihnya dibangun pada 1980 kini menguasai 40% pasar dunia,“ ujar Direktur Direktorat Perbenihan, Soeroto.

Genderang perang bisnis perbenihan ditabuh sudah. Siapa tersungkur di medan laga? Entahlah. Para produsen optimis memenangi persaingan, asal menjaga kualitas. “Masyarakat semakin cerdas untuk menilai benih bermutu. Yang penting memberi bukti, bukan janji,” ujar Kardi Raharjo. (Sardi Duryatmo/Peliput: Destika Cahyana & Muhammad Kusmana)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img